Kamis, 11 Maret 2010

Dharma Wacana dalam Arisan Tempek Tambun Oleh Bapak Agung Putra (Ketua PHDI Kabupaten Bekasi)

MAKNA HARI RAYA NYEPI

Om Swastyastu

1. Umum
Nyepi yang diperingati setiap pergantian tahun saka merupakan momentum bagi umat manusia untuk menegakkan kehidupan yang harmonis di dunia ini. Kejadian masa lalu yang penuh dengan pergolakan menggambarkan betapa mahal dan pentingnya hikmah yang terkandung di dalamnya untuk dijadikan pelajaran pada masa kini dan masa yang akan datang. Pembuktian kejadian yang menimbulkan konflik yang berkepanjangan telah mengorbankan nilai-nilai ketuhanan dan nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu nilai agama yang berdasarkan kitab suci yang diwahyukan Tuhan kepada umat manusia sangat relevan dengan kehidupan manusia di dunia ini. Inti ajaran yang bersifat hakiki telah membuka tabir misteri ketika pertanyaan tidak bisa dijawab dengan emosional. Hanya satu kata yang bisa menjawab yaitu "damai". Kedamaian bisa tercipta tergantung tingkat kematangan spiritual manusia seberapa jauh dapat menyamai atau minimal dekat dengan sifat-sifat Tuhan. Jika ini tercapai maka kestabilan emosi bisa terjaga dengan baik.

2. Ajaran Santi.
Santi adalah kata Sanskerta yang berarti damai. Agama Hindu menekankan ajaran Santi yang bersifat universal. Mencintai "Santi" atau cinta damai terhadap siapapun di dunia ini diantaranya cinta terhadap semua ciptaan Tuhan, sama besarnya cinta terhadap Tuhan. Karena pada hakikatnya semua yang ada ini adalah Tuhan "Sarwam kalu idam Brahman".

3. Panganjali yang diakhiri Parama Santi.
2 Panganjali umat Hindu "Om Swastyastu" yang berarti semoga dalam keadaan selamat atas karunia Tuhan Sanghyang Widhi wasa. Panganjali atau salam umat Hindu disampaikan saat bertemu dengan sesama manusia atau saat membuka pembicaraan sekaligus permohonan ijin dan doa
2 edisi : 03/III/2008


kepada Tuhan, agar apa yang dilakukan mendapatkan ijin berupa anugrah ke arah yang baik dan benar. Demikian juga pada akhir kegiatan / pembicaraan atau jawaban Parama Santi dari yang lebih tua yaitu "Om Santi Santi Santi Om" yang berarti semoga damai di hati, damai di dunia, damai selalu. Harapan dan doa kedamaian setelah melakukan kegiatan atau pembicaraan agar tidak ada lagi sesuatu yang mengganjal terutama kata-kata yang salah, keliru dan tidak baik. Kalaupun ada perbedaan pandangan diantara sesama manusia, tentunya disikapi hanya sebagai metode atau cara mencapai kesepakatan bersama untuk mencapai tujuan bersama yang diharapkan.

4. Raja Kaniska I Tahun 78 M.
Sejak pemerintahan Raja Kaniska I pada tahun 78 Masehi, kedamaian benar-benar dirasakan oleh rakyatnya. Seakan-akan Kaniska I membuka ruang demokrasi dengan memajukan semua budaya yang berkembang termasuk toleransi antar umat beragama. Sikap dan sifat mengayomi seorang Raja dengan Rakyatnya membawa dampak pada kemajuan semua aspek kehidupan masa itu. Hal yang membanggakan ini tidak saja dikagumi oleh rakyatnya, tetapi juga oleh Raja-Raja tetangganya. Penerapan pemerintahan ini banyak ditiru oleh semua Raja baik oleh Raja besar maupun Raja kecil. Terciptanya kerukunan dan ketenteraman sebagai modal terciptanya suasana kedamaian dan kebahagiaan. Saling menghormati dan menghargai satu sama lain menjadi suatu kebiasaan yang tulus, bukan dibuat-buat atau semu. Semua dilakukan ibarat mendarah daging tanpa prasangka. Sehingga pikiran, kata-kata dan sikap atau perbuatan yang muncul benar-benar lapang, tanpa tekanan atau terpaksa. Atas dasar itu, untuk mengenang kemasyuran Raja Kaniska I maka pada tahun 78 Masehi ditetapkan Tahun 1 Saka.


3 edisi : 03/III/2008


5. Relevansi Tahun Saka dengan Hari Raya Nyepi.
Tahun saka diperingati setiap tahun, awalnya untuk mengenang kemasyuran dan keberhasilan Raja Kaniska I dalam menjalankan pemerintahan. Adanya Tahun Saka dari tanah India samapi ke Asia termasuk ke Indonesia seiring dengan masuknya agama Hindu ke Indonesia. Setiap keagamaan Hindu selalu menggunakan tahun saka dan diperingati pula setiap tahun. Masuknya agama Hindu ke Indonesia sampai ke pulau Bali, pemggunaan tahun saka sering menjadi sumber sejarah kegiatan keagamaan Hindu. Dalam perkembangannya, seiring dengan berdirinya Majelis Umat Hindu yang dikenal dengan Parisada Hindu Dharma Indonesia, keluarlah bisama Parisada Hindu Dharma Indonesia bahwa setiap peringatan Tahun Baru Saka dikenal dengan perayaan Hari Raya Nyepi. Dinamakan Nyepi, semata-mata karena pelaksanaannya yang khas dimana suasananya sepi atau sipeng. Tidak ada bunyi-bunyian, keramaian, kegaduhan, hiruk pikuk kegiatan aktivitas, tidak ada api yang menyala termasuk lampu. Semua kegiatan difokuskan pada perenungan, introspeksi sampai pada tingkat meditasi / Dhyana dan Samadhi. Berdasarkan Keputusan Maha Sabha Parisada Hindu Dharma Indonesia bahwa Catur Brata Penyepian dilaksanakan selama ± 24 Jam ( Mulai Pukul 06.00 s / d Pukul 06.00 keesokan pagi harinya ) yang meliputi : Amati Gni (tidak menyalakan api), Amati Lelungan (tidak bepergian), Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang), Amati Karya (tidak bekeja / beraktivitas). Adapun rangkaian kegiatan meliputi Melasti, Tawur Kasanga, Catur Brata Penyepian dan Ngembak Gni atau Dharma Santi.
Pelaksanaan Catur Brata penyepian hendaknya dilaksanakan secara maksimal dan seriil mungkin. Makna semua rangkaian kegiatan Hari Raya Nyepi adalah penyucian bhuana alit (diri manusia) dan bhuana agung (alam lingkungan), agar tercipta

4 edisi : 03/III/2008


keharmonisan hubungan antara manusia dengan manusia, antara manusia dengan alam lingkungan dan manusia dengan Tuhan Sanghyang Widhi Wasa. Keharmonisan hubungan yang diharapkan pada setiap memperingati Hari raya Nyepi ini tiada lain adalah terciptanya kedamaian (Santi) seperti makna peringatan tahun Baru Saka.

6. Refleksi Hari Raya Nyepi dalam kehidupan manusia.
Setiap Hari Raya agama Hindu pada hakikatnya bermakna pembersihan dan penyucian diri dan alam lingkungan. Dalam kitab Manawa Dharmasastra Adhyaya V seloka 109 dinyatakan pembersihan dan penyucian diri yang wajib dilakukan manusia :
"Adbhir gatrani suddhyanti, manah satyena suddyati, widyatapobhyam bhutatma, bhudir jnanena suddhyanti"

Artinya :
Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kejujuran, jiwa manusia dengan pengetahuan tapa brata, kecerdasan dengan kebijaksanaan.

Sedangkan pembersihan dan penyucian alam lingkungan dan kepada Tuhan Sanghyang Widhi Wasa dilakukan dengan dua cara yaitu pertama, secara rohani / bhatin dilakukan dengan ritual hari suci Tumpek. Kedua, secara fisik dilakukan dengan membersihkan lingkungan dan merawat segala jenis tumbuhan/tanaman serta binatang yang menunjang kehidupan manusia dalam upaya menjaga ekosistem alam.

Refleksi dari semua kegiatan Hari Raya Nyepi dan Tahun baru saka baik secara nyata (sekal) maupun tidak nyata (niskala) adalah penegasan untuk selalu hidup disiplin. Sejak dicanangkan

5 edisi : 03/III/2008


disiplin nasional maka ada tiga komponen disiplin yaitu Pertama, disiplin dalam hal kebersihan sehingga menjadi budaya bersih. Kedua, disiplin dalam hal ketertiban sehingga menjadi budaya tertib. Ketiga, disiplin dalam hal bekerja sehingga menjadi budaya kerja.

Menjaga dan memelihara keselarasan dengan alam semesta sebagaimana dinyatakan dalam kitab Yajur Weda 36.17 dan Atharwa Weda : "Dyauh santir antariksam santih, prthiwa santir apah santir osabhyah santih, wanaspatayah santir wiswe dewah santir brahma santih, sarwam santih santir ewa santih, sa ma santir edhi.
Yang artinya : Damai di langit, damai di angkasa, damai di bumi, damai di air, damai pada tetumbuhan, damai pada pepohonan, damai pada semua Dewa, damai pada Brahman, damai dalam alam semesta, damai dalam kedamaian.

7. Kesimpulan.
Makna Hari Raya Nyepi mempunyai maksud dan tujuan, agar umat manusia disiplin dalam melaksanakan Catur Brata Penyepian untuk membersihkan dan menyucikan alam semesta beserta isinya termasuk manusia. Pesan damai melalui makna Tahun Baru Saka dan rangkaian Hari Raya Nyepi menjadi bermanfaat apabila dilaksanakan secara konsisten yang direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari. "Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1930"

Om Santi Santi Santi Om.


MELALUI CATUR BRATA PENYEPIAN DAN TAHUN BARU SAKA 1930 KITA TINGKATKAN DISIPLIN UNTUK MENCIPTAKAN
KEDAMAIAN







PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
KABUPATEN BEKASI




"Makna Hari Raya Nyepi"





RENUNGAN AGAMA HINDU
EDISI : 03 / III / 2008


Penanggung jawab : Pengurus PHDI Kabupaten Bekasi. Staf Redaksi : Drs. AAG. Raka Putra, I Putu Badung, Mpd, I B Adi Candra, S.Si, I Made Awanita, S.Ag. M.si, Ir. I Nyoman Mertasari, I Wayan Sudiarta. Tata Usaha & Distribusi : Ir. I Wayan Darmanta, IGB Virgo, I Wayan Brata, S.Ag.
Alamat Redaksi : Perumh. Graha Prima L 16 No. 8 Mangunjaya Tambun Bekasi Jawa-Barat.
Telp. 021 88336171

AJARAN CINTA KASIH
DALAM PERSPEKTIF HINDU

Om Swastyastu

1. Umum.

Sudah menjadi kata yang terpadu antara cinta dan kasih. Tentu makna kasih lebih mendalam dari pada cinta. Seseorang yang mengasihi sudah terkandung makna mencintai. Cinta adalah perasaan pada kesenangan, kesetiaan, kepuasan terhadap suatu obyek. Sedangkan kasih adalah perasaan cinta yang tulus ikhlas terhadap suatu obyek. Kenapa dalam mengekspresikan selalu menggunakan kata gabungan antara cinta dan kasih ? Pertanyaan ini menjadi menarik ketika seseorang baru sanggup sebatas cinta. Lalu apa yang menjadi kebutuhan yang lebih tinggi lagi dari cinta ? Dapat dipastikan jawabannya adalah kasih. Ternyata perbedaannya terletak pada kesanggupan dan kemampuan memahami secara hakikat tentang cinta dan kasih. Adapun yang menjadi obyek dari cinta kasih itu adalah semua ciptaan Sanghyang Widhi Wasa. Tuhan Yang Maha Esa. Ciptaan Tuhan dapat digolongkan dalam tingkatan sesuai eksistensinya atau kemampuannya yaitu Eka pramana ialah makhluk hidup yang hanya memiliki satu aspek kemampuan berupa bayu/tenaga/hidup, seperti ; Tumbuh-tumbuhan. Dwi pramana ialah makhluk hidup yang memiliki dua aspek kemampuan berupa bayu dan sabda/bicara, seperti ; hewan/binatang. Tri pramana ialah makhluk hidup yang memiliki tiga aspek kemampuan berupa bayu, sabda dan idep/pikiran, seperti ; manusia.

2. Tri Hita Karana.

Untuk dapat menghayati lebih luas lagi, ajaran cinta kasih dapat diwujud nyatakan dalam berinteraksi sosial religius yaitu antara sesama manusia (Pawongan), antara manusia dengan alam lingkungan (Palemahan), dan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa (Parahyangan). Ketiga hal ini dikenal dengan istilah Tri Hita Karana.
2
3. Tat Twam Asi.

Adapun yang mendasari ajaran cinta kasih ini adalah ajaran yang menyatakan bahwa aku adalah kamu . Maknanya dikembangkan lagi : engkau adalah dia, dia adalah mereka dan seterusnya. Inilah yang sering disebut dengan "Tat Twam Asi" yang dinyatakan dalam kitab Chandogya Upanisad VI. 14. 1. bagian dari Weda.

4. Refleksi Cinta Kasih.

Cinta kasih bukanlah sekedar penghias bibir atau buah bibir yang berbunga-bunga, akan tetapi sebuah realita yang tulus ikhlas tanpa pamrih. Sesungguhnya bagi siapa saja yang telah mencapai ini dapat dipastikan kehidupannya semakin tenteram, tenang, damai dan bahagia. Cinta kasih yang tulus ikhlas memberikan dampak yang sangat fundamental dalam memberikan arti dan makna kehidupan ini dan kehidupan yang akan datang. Dimensi waktu yang lampau, yang sekarang dan yang akan datang merupakan perputaran cakra kehidupan yang harus dilalui dengan semangat cinta kasih nan kunjung padam kepada semua ciptaan Sanghyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa. Dalam kitab Brhadaranyaka Upanisad I. 4. 10. dinyatakan : "Aham Brahman Asmi" yang artinya Aku adalah Brahman/Tuhan. Sedangkan dalam kitab Chandogya Upanisad III. 14. 3. dinyatakan : "Sarwam khalu idam Brahman" yang artinya semua ini adalah Brahman/Tuhan. Dengan demikian tidak ada satupun di dunia ini yang lepas dariNYA. Menyadari akan asal dan kembalinya semua yang ada di dunia ini adalah sama, maka tidak ada satupun di dunia ini yang memiliki kekuatan hukum yang abadi, kecuali dari Tuhan Yang Maha Esa. Yang berbeda hanyalah jasad materi yang sewaktu-waktu bisa berubah atau tidak kekal. Lalu apa yang harus dibangga- banggakan yang mengarah pada rusaknya perdamaian,kerukunan, ketenteraman, ketenangan, kebahagiaan dan kesejahteraan umat manusia di dunia ini ? Sejatinya kebanggaan sebagai umat manusia yang religius, karena berbudi luhur dan prestasi.
3
Dalam mengekspresikan kebanggaan itupun hendaknya dengan arif dan bijaksana serta menampilkan simpati sesuai dengan hukum yang berlaku. Hal ini hendaknya menjadi renungan bagi tumbuhnya spiritualitas, moralitas dalam rangka meningkatkan iman dan taqwa (sraddha dan bhakti) kepada Sanghyang Widhi Wasa. Tuhan Yang Maha Esa. Iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sudah termasuk di dalamnya cinta kasih pada sesama manusia dan cinta kasih kepada alam lingkungan.

5. Keseimbangan Cinta Kasih.

Untuk mencapai keseimbangan cinta kasih dapat diwujudkan dalam hubungan garis vertikal dan horizontal. Terlebih lagi memasuki abad modern dan global dibutuhkan pemikiran secara arif dan bijaksana. Disatu sisi dituntut bersikap rasional, namun disisi lain masih diperlukan curahan emosi spiritual terutama dalam hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa sebagai maha pencipta alam semesta beserta isinya. Jalan terbaik adalah bagaimana mensinergikan perasaan emosi spiritual dengan sikap rasional. Dalam hal ini relevansi keseimbangan cinta kasih dengan abad modern lebih difokuskan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia yang memegang teguh nilai-nilai Ke-Tuhanan, Kemanusiaan dan kealaman. Saling mencintai dan mengasihi satu sama lain dan kepada siapa saja tanpa memandang perbedaan fisik akan memberikan keseimbangan cinta kasih. Dalam kitab Yajur Weda 32. 8 dinyatakan "Sa'atah protasca wibhuh prajasu" yang artinya Tuhan terjalin dalam makhluk yang diciptakan.

6. Cinta kasih Dalam Keluarga.

Yang sangat menonjol bagi manusia modern mengenai konsep cinta dalam kehidupan berkeluarga dalam Weda adalah keterbukaan. Masalah kehidupan rumah tangga ialah menciptakan keselarasan dan kesesuaian seperti pada alam sesuai dengan hukum abadi (Rta).
4

Dalam kitab Atharwa Weda III.30 dinyatakan perkataan Pendeta kepada kelompok keluarga : "Aku membuat engkau bersatu dalam hati, bersatu dalam pikiran, tanpa rasa benci, mempunyai ikatan satu sama lain seperti anak Sapi yang baru lahir dari induknya. Agar anak mengikuti Ayahnya dalam kehidupan yang mulia dan sehaluan dengan Ibunya. Agar si isteri berbicara yang manis, mengucapkan kata-kata damai kepada suaminya. Agar sesama saudara, laki atau perempuan tidak saling membenci. Agar semua bersatu dan menyatu dalam tujuan yang luhur dan berbicara dengan sopan. Semoga minuman yang engkau minum bersama dan makan makanan bersama" Konsep hubungan garis vertikal dan horizontal juga berlaku dalam kehidupan keluarga agar mencapai satu tujuan luhur yaitu keharmonisan, ketentraman, kedamaian dan kebahagiaan bersama. Kebersamaan yang begitu menonjol dalam kehidupan keluarga inti menjadi parameter ke tingkat kehidupan keluarga yang lebih besar dan kehidupan sosial kemasyarakatan.

7. Kesimpulan.

Dari uraian tadi dapat disimpulkan bahwa ajaran cinta kasih adalah bersifat umum (Samana) dan universal (Sadharana). Dalam perspektif Hindu ajaran cinta kasih diwujudnyatakan dalam hubungan garis vertikal dan horizontal yang dikenal dengan Tri Hita Karana. Cinta kasih dapat diwujudkan apabila memahami secara sinergi antara perasaan emosi spiritual dan sikap rasional yang dilandasi dengan ajaran Tat Twam Asi, Sarwam khalu idan Brahman, Aham Brahman asmi.

Om Santi, Santi, Santi Om.




5




































PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
KABUPATEN BEKASI














"Ajaran Cinta Kasih
Dalam Perspektif Hindu"





RENUNGAN AGAMA HINDU
EDISI : 04 / V / 2008


Penanggung jawab : Pengurus PHDI Kabupaten Bekasi. Staf Redaksi : Drs. AAG. Raka Putra, I Putu Badung, Mpd, I B Adi Candra, S.Si, I Made Awanita, S.Ag. M.si, Ir. I Nyoman Mertasari, I Wayan Sudiarta. Tata Usaha & Distribusi : Ir. I Wayan Darmanta, IGB Virgo, I Wayan Brata, S.Ag.Alamat Redaksi : Perumh. Graha Prima L 16 No. 8 Mangunjaya Tambun Bekasi Jawa-Barat.Telp. 021 88336171
KEUTAMAAN TIRTHAYATRA

Om Swastyastu

1. Umum. Tirthayatra adalah salah satu pengamalan ajaran agama Hindu dalam upaya pendakian spiritual yang dilakukan dengan cara mengunjungi tempat-tempat suci, melakukan persembahyangan, japa dan meditasi kepada Sanghyang Widhi Wasa. Tuhan Yang Maha Esa. Pencerahan rohani ini sebagaimana dinyatakan dalam kitab suci Weda (Sarasamuscaya seloka 277 dan 279) yakni "Tirthayatra maksudnya berkeliling dengan niat suci, bersembahyang dan mohon Tirtha/air suci ke tempat-tempat suci. Tirthayatra amat suci dan lebih utama dari melakukan yadnya / upacara serta dapat dilakukan oleh orang miskin sekalipun ". Pada umumnya Tirthayatra dilakukan di India dengan mengunjungi tempat-tempat suci yang ada kaitannya dengan sejarah turunnya wahyu Weda yang diterima para Maha Rsi yang kemudian disebarkan dan dikembangkan untuk pembinaan umat manusia. Tempat-tempat tersebut yang dianggap suci antara lain : sumber mata air seperti Sungai Gangga, Sungai Yamuna, Sungai Saraswati dan lain sebagainya.Demikian juga diketinggian yaitu di Gunung seperti Pegunungan Himalaya dan sekitarnya. Ditempat-tempat seperti inilah diyakini dapat mensucikan diri baik lahir maupun bathin. Dengan tidak mengurangi rasa kesucian, Tirthayatra dapat dilakukan di Indonesia seperti Pura-pura Dang Kahyangan yang ada kaitannya dengan perjalanan para Maha Rsi dalam mengembangkan ajaran agama Hindu.



2

2. Tempat-tempat Tirthayatra.

Tempat-tempat bertirthayatra antara lain meliputi : Gunung-Gunung, Sungai-Sungai, Danau-Danau, tempat tinggal para Rsi, Gosala (tempat mengandangkan sapi di tempat suci), Pura-Pura atau Candi atau Kuil.
Bagi umat Hindu di India melakukan Tirthayatra adalah merupakan suatu kewajiban untuk dilaksanakan selama hidupnya, minimal mengunjungi 7 (tujuh) tempat suci antara lain :

a. Badrinath, Sebuah tempat suci di lereng Himalaya bekas pertapaan Maha Rsi Vyasa (Vedavasya atau Krsnadvaipayana) penyusun kitab suci Veda, Bhagawadgita, Mahabharata dan lain-lain.
b. Haridvar, yaitu tempat suci di hulu sungai Gangga dan tepi sungai Gangga bernama Brahmakunda diyakini sebagai tempat turunnya amerta.
c. Ayodhya adalah kota suci tempat lahirnya Sri Rama.
d. Benares atau Varanasi, pada jaman dahulu disebut Kasipura (Mandira) dan Dharmasala (Asrama).
e. Prayag atau Triveni yaitu sebuah kota tempat bertemunya tiga sungai suci di India yaitu sungai Gangga, sungai Yamuna dan sungai Saraswati. Pertemuan ini disebut Triveni (di Bali disebut Campuhan). Kota ini juga bernama Allahabad.
f. Mathura adalah salah satu kota suci tempat lahirnya Sri Kresna.
g. Vrindawan atau Brindaban yaitu tempat suci bekas Sri Kresna bermain-main semasih muda bersama para Gopi. Sri Kresna dikenal dengan nama Gopala, pengembala lembu.

3

Disamping tujuh tempat suci tersebut di lereng pegunungan Himalaya terdapat 4 Mandira yang disebut Chardham yaitu Ganggotri, Yamunotri, Kedarnath (tempat memuja Sanghyang Siva, Badrinath). Pemerintah India mengijinkan bertirthayatra pada musim panas dari tanggal 7 Mei sampai dengan 7 Nopember setiap tahun.

Sedangkan Umat Hindu di Indonesia melakukan Tirthayatra ke Pura-Pura atau Candi-Candi Hindu yang memiliki nilai sejarah dan nilai spiritual. Khusus di Bali tempat-tempat suci guna melaksanakan Tirthayatra antara lain di Pura-Pura Kahyangan Jagat yaitu Pura Lempuyang Luhur (kabupaten Karangasem), Pura Andakasa (kabupaten Karangasem), Pura Watukaru (Kabupaten Tabanan), Pura Batur (Kabupaten Bangli), Pura Goa Lawah (Kabupaten Klungkung), Pura Uluwatu (Kabupaten Badung), Pura Besakih (Kabupaten Karangasem) dan lain-lain.


3. Keutamaan Tirtha.

Dalam kitab Reg Weda I . 23 . 22-23 dinyatakan :"Ya Tuhan Yang Maha Esa Penguasa air, lenyapkan dan sucikanlah segala kesalahan atau dosa-dosa kami, meskipun kami telah mengetahui bahwa perbuatan itu mesti tidak kami lakukan atau tidak benar. Sekarang kami menerjunkan diri ke dalam air, kami menyatu dengan kekuatan yang menjadikan air ini. Semoga kesucian yang tersembunyi dalam air ini, menyucikan dan memberikan kekuatan suci kepada kami".

4

Lebih lanjut Reg Weda X. 17. & Yajur Weda IV. 2 dinyatakan : :Semogalah air suci ini menyucikan kami bercahaya gemerlapan. Semogalah pembersih ini membersihkan kami dengan air suci. Semoga air suci ini mengusir segala kecemaran. Sungguh kami bangkit memperoleh kesucian dari padanya".

Dengan demikian Tirtha berfungsi untuk membersihkan diri dari kotoran maupun kecemaran pikiran. Adapun pemakaiannya adalah dipercikkan, diminum dan diusapkan di muka/wajah. Dalam melakukan persembahyangan ada 2 jenis Trtha yaitu Tirtha Pebersihan untuk menyucikan upakara/banten (sebelum persembahyangan) dan Tirtha Wangsuhpada merupakan anugrah Amerta dari Tuhan/Sanghyang Widi Wasa (setelah/penutup persembahyangan).

4. Fungsi Tirtha.

Tirtha dari segi fungsi dalam upacara Yadnya adalah :

a. Tirtha berfungsi sebagai lambang pembersihan.
b. Tirtha berfungsi sebagai penciptaan.
c. Tirtha berfungsi sebagai pemeliharaan.

5. Manfaat Tirthayatra.

a. Dalam kitab Padma Purana dinyatakan :"Seseorang akan memperoleh keselamatan bila mampu mengendalikan badan, pikiran, pengetahuan, pertapaan dan kemashurannya dengan pengontrolan diri, tanpa egoisme dan memiliki ketekunan
5

diri serta tidak pernah menerima pemberian atas jasa yang dilakukan untuk kebaikan memperoleh keselamatan yang merupakan pahala dari pelaksanaan Tirthayatra, mengunjungi tempat-tempat suci".

b. Meningkatkan Sradha / keyakinan/ keimanan kepada Sanghyang Widhi Wasa tentang kebesaran-Nya, keagungan-Nya dan maha sempurna.

c. Pembinaan mental spiritual menuju rohani yang suci.

d. Memperluas cakrawala / pandangan manusia tentang Ketuhanan, Kemanusiaan, Keadilan, Musyawarah kekeluargaan, Keadilan, Alam, Lingkungan dan semesta ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

e. Meningkatkan pemahaman terhadap ajaran agama Hindu, sujud bhakti kepada Sanghyang Widhi melalui sembahyang dan mohon tirtha, japa mantram, meditasi dan Dharmagita.

6. Kesimpulan.

Tirthayatra sebagai kegiatan spiritual dalam rangka membersihkan diri, menyucikan diri, melebur diri dari yang tidak baik menjadi baik, dari dosa menjadi suci setelah memohon Tirtha Amertha sebagai anugrah dari Sanghyang Widhi Wasa. Melakukan perjalanan suci ke tempat-tempat suci untuk mendapatkan Tirtha Amertha diperlukan kesiapan lahir maupun bathin sehingga Tirthayatra bermanfaat secara maksimal. Selamat melaksanakan Tirthayatra.
Om Santi, Santi, Santi Om.

PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
KABUPATEN BEKASI

















KEUTAMAAN TIRTHAYATRA





RENUNGAN AGAMA HINDU
EDISI : 05 / VI / 2008


Penanggung jawab : Pengurus PHDI Kabupaten Bekasi. Staf Redaksi : Drs. AAG. Raka Putra, I Putu Badung, Mpd, I B Adi Candra, S.Si, I Made Awanita, S.Ag. M.si, Ir. I Nyoman Mertasari, I Wayan Sudiarta. Tata Usaha & Distribusi : Ir. I Wayan Darmanta, IGB Virgo, I Wayan Brata, S.Ag.Alamat Redaksi : Perumh. Graha Prima L 16 No. 8 Mangunjaya Tambun Bekasi Jawa-Barat.Telp. 021 88336171




UPAKARA WAJIB SECARA RUTIN



1. Saiban setiap hari
- Upakaranya (Nasi, Lauk pauk, Sayur, Garam)


Mantra/Doa Mesaiban

- Di Mrajan :
Om Ang Ung Mang Paduka Guru ya namah swaha
(Ya Tuhan dalam wujud Wijaksara Ang Ung Mang atau tiga Guru , hamba memuja-Mu)

- Di tempat beras :
Om Sri Dewya namah swaha
(Ya Tuhan dalam wujud-Mu sebagai penguasa Amertha, hamba bersujud kepada-Mu)

- Di kompor/tungku :
Om Sanghyang Tri Agni ya namah swaha
(Ya Tuhan dalam wujud sebagai Agni, sebagai penguasa penerang dalam kegelapan, sebagai sumber energi bagi kehidupan, hamba bersujud kepada-Mu)

- Di tempat air :
Om Gangga Dewya namah swaha
(Ya Tuhan dalam wujud sebagai Dewi Gangga, hamba bersujud kepada-Mu)


2



- Di tempat Ari-Ari :
Ih Anta, Preta, Bhuta, Kala Dengen ya namah swaha
(Ya Anta, Preta, Bhuta, Kala Dengen, hamba bersujud kepada-Mu)

- Di pintu masuk :
Om Sang Hana Dora Kala ya namah
(Ya Tuhan dalam wujud-Mu sebagai Dorakala, hamba bersujud kepada-Mu)


2. Kajeng Kliwon setiap 15 hari sekali
- Upakaranya :
* Canang di Mrajan/Pelangkiran dan Kumara
* Segehan 4 tangkih di halaman rumah
* Segehan 5 tangkih di halaman Mrajan /Pelangkiran
* Segehan 9 tangkih di halaman pintu gerbang rumah
* Segehan 4 tangkih di tempat ari-ari
* Dupa

3. Dinan setiap 35 hari sekali ( hari kelahiran Sapta Wara dan Panca Wara )
- Upakaranya :
* Canang di Mrajan/Pelangkiran dan Kumara
* Segehan 4 tangkih di halaman rumah
* Segehan 5 tangkih di halaman Mrajan /Pelangkiran.
* Segehan 9 tangkih di halaman pintu gerbang rumah
* Segehan 4 tangkih di tempat ari-ari
* Dupa
3


4. Oton setiap 210 hari sekali (hari kelahiran Sapta Wara, Panca Wara & Wuku )
- Upakaranya :
* Canang di Mrajan/Pelangkiran dan Kumara
* Segehan 4 tangkih di halaman rumah
* Segehan 5 tangkih di halaman Mrajan/Pelangkiran
* Segehan 9 tangkih di halaman pintu gerbang rumah
* Segehan 4 tangkih di tempat ari-ari
* Dupa

5. Purnama dan Tilem setiap 30 hari atau 29 hari sekali
- Upakaranya :
* Canang di Mrajan/Pelangkiran dan Kumara
* Segehan 4 tangkih di halaman rumah
* Segehan 5 tangkih di halaman Mrajan/Pelangkiran
* Segehan 9 tangkih di halaman pintu gerbang rumah
* Dupa

Mantram/Doanya

- Mengaturkan Canang di Mrajan :
Om Ang Ung Mang Paduka Guru Bhyo namah swaha
(Ya Tuhan dalam wujud Wijaksara Ang Ung Mang atau tiga Guru , hamba memuja-Mu)

- Mengaturkan Canang di Kumara :
Om Sang Kumara ya namah
( Ya Tuhan dalam wujud sebagau Sang Kumara, hamba bersujud kepada-Mu)
4


- Mengaturkan Canang di Tugu Penunggu Karang :
Ih Ah Ing Bhupati ya namah swaha
(Ya Tuhan dalam wujud Sanghyang Bupati, hamba bersujud kepada-Mu)

- Mengaturkan Canang di pintu masuk :
Om Sang Hana Dora kala ya namah
(Ya Tuhan dalam wujud sebagai Dorakala, hamba bersujud kepada-Mu)

- Mengaturkan Segehan di halaman rumah :
Om Kala Bhucari ya namah
(Ya Tuhan dalam wujud Kala, hamba memberikan persembahan kepada-Mu)

- Mengaturkan Segehan di tempat ari-ari :
Ih Anta, Preta, Bhuta, Kala Dengen ya namah swaha
(Ya Anta, Preta, Bhuta, Kala Dengen, hamba bersujud kepada-Mu)

- Mengaturkan Segehan di halaman Mrajan :
Om Bhuta Bhucari ya namah
(Ya Tuhan dalam wujud Bhuta, hamba memberikan persembahan kepada-Mu)

- Mengaturkan Segehan di pintu gerbang :
Om Durgha Bhucari ya namah
(Ya Tuhan dalam wujud Durgha, hamba memberikan persembahan kepada-Mu)






5


Catatan.

1. Menghaturkan Saiban dilakukan setelah memasak sebelum makan.

2. Isi Segehan : Nasi, Jahe, Bawang, Garam dan Arang kompor/tungku (di taruh dalam satu tangkih) ditambah Plaus Sampyan diisi Beras.

3. Nasi Warna (Putih di Timur, Merah di Selatan, Kuning di barat, Hitam di Utara, Dadu di Tenggara, Orange di Barat Daya, Hijau di Barat Laut, Biru di Timur Laut, Campuran semua warna di Tengah) dan letak tangkih sesuai arah mata angin. Jika situasi dan kondisi tidak memungkinkan cukup dengan nasi putih saja, tetapi tetap diupayakan ada warnanya atau lebih baik lagi macam-macam beras, seperti beras merah, beras putih, beras injin, ketan dlsb.

4. Tiap tempat masegeh masing-masing ada satu tempat tirta (tirta tidak boleh digunakan berulang-ulang dari satu ke tempat ke tempat yang lain).

5. Masegeh di mulai dari halaman rumah kemudian di halaman Mrajan/Plangkiran dan terakhir di halaman pintu gerbang rumah.

6. Tempat Kumara berfungsi sampai batas waktu anak maketus/giginya lepas.

Selamat menjalankan kewajiban agama Hindu






PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
KABUPATEN BEKASI
















"UPAKARA WAJIB
SECARA RUTIN"




RENUNGAN AGAMA HINDU
EDISI : 06 / VII / 2008


Penanggung jawab : Pengurus PHDI Kabupaten Bekasi. Staf Redaksi : Drs. AAG. Raka Putra, I Putu Badung, Mpd, I B Adi Candra, S.Si, I Made Awanita, S.Ag. M.si, Ir. I Nyoman Mertasari, I Wayan Sudiarta. Tata Usaha & Distribusi : Ir. I Wayan Darmanta, IGB Virgo, I Wayan Brata, S.Ag.Alamat Redaksi : Perumh. Graha Prima L 16 No. 8 Mangunjaya Tambun Bekasi Jawa-Barat.Telp. 021 88336171


MAKNA HARI KELAHIRAN
DALAM PERSPEKTIF HINDU

Om Swastyastu

1. Umum.

Peringatan Hari Ulang Tahun sudah menjadi tradisi bagi masyarakat dunia. Seiring dengan hal tersebut masyarakat dunia menggunakan Tahun Masehi sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Tahun Masehi memiliki karakteristik penanggalan setiap bulan jumlah hari berpariasi, antara lain 31 hari, 30 hari dan 28 / 29 hari. Di Indonesia setiap orang juga memperingati kelahirannya dan membuat akte kelahiran dengan menggunakan tanggal, bulan dan tahun masehi. Acara peringatan hari kelahiranpun menggunakan kue Tart beserta lilin yang nanti ditiup oleh orang yang berulang tahun. Jika ditelusuri budaya tersebut pengaruh dari luar negeri Indonesia. Lalu bagaimana umat Hindu merayakan hari ulang tahunnya ? Jawabannya adalah sama seperti yang diuraikan di atas. Inilah pengaruhnya sangat kuat bagi peradaban dunia termasuk umat Hindu yang hidup di tengah-tengah masyarakat dunia. Senang atau tidak senang, suka atau tidak suka hal tersebut dilakukan sebagai tren dan makna serta tujuannya sama, salah satunya dengan ucapan doa "Selamat hari ulang tahun semoga panjang umur".
2

Begitu kira-kira ungkapan dalam acara ulang tahun bagi anak manusia mulai bayi, anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua.

2. Hari Kelahiran bagi Umat Hindu.

Hari kelahiran bagi umat Hindu dirayakan pada hari Dinan dan Otonan dengan sistem penanggalan Pawukon yaitu pertemuan salah satu sapta wara, panca wara dan wuku. Contoh : Sukra pahing disebut Hari Dinan. Kemudian Sukra Pahing Sinta disebut Hari Otonan. Hari Dinan jatuh setiap 35 hari dan hari Otonan setiap 210 hari. (dari wuku Sinta kembali ke wuku Sinta).
2Dengan demikian perbedaannya adalah jika menggunakan tahun masehi hari kelahiran jatuh setiap ± 365 hari, sedangkan menggunakan penanggalan Pawukon hari kelahiran jatuh setiap ± 355/384 hari. Acaranya dengan membuat persembahan upakara yadnya (sesajen) yang memiliki arti dan makna serta mengandung doa dan harapan. Contoh : Gunting rambut disertakan sajennya, turun ke tanah juga disertakan sajennya, sajen untuk ari-ari dlsb. Inti dari semua rangkaian kegiatan tersebut adalah memohon kepada Tuhan / Sanghyang Widhi Wasa serta Leluhur agar orang yang Otonan diberikan tujuh perpanjangan dengan mantram Weda sebagai berikut : "Om Ayur wredhi yaso wredhi, wredhi prajnan sukha sreyam, dharma santana Wredhisca, santute sapta wredhayah"
3

yang artinya Om Semoga Sanghyang Widhi Wasa memberikan panjang umur, nama harum, kebijaksanaan, kebahagiaan, kemuliaan, kebenaran dan putra yang utama "

3. Hari Ulang Tahun Organisasi/Instansi.

Hari ulang tahun tidak saja dirayakan bagi kelahiran anak manusia ke dunia ini, tetapi juga dirayakan berkaitan dengan berdirinya sebuah organisasi atau instansi. Bagi umat Hindu disamping organisasi Hindu juga dirayakan hari berdirinya sebuah tempat suci atau Pura, yang dikenal dengan Hari Piodalan Pura. Hari Piodalan Pura ada dua macam yaitu setiap 210 hari dan setiap ± 355/384 hari. Jika Piodalan Pura jatuh setiap 210 hari itu berarti menggunakan hari sapta wara, panca wara dan wuku. Contoh : Saniscara Kliwon Landep. Sedangkan ± 355/384 hari berarti menggunakan hari Purnama atau Tilem pada salah satu dari sasih. Contoh : Purnama Kasa, Tilem Keenem dsb.

4. Maksud dan Tujuan Perayaan Hari Kelahiran.
Maksud :
a. Sebagai introspeksi diri atau mawas diri.
b. Sebagai ungkapan syukur karena diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.
c. Sebagai media mengungkapkan kasih sayang kepada keluarga dan sesama.
4

Tujuan :
a. Untuk menyambut datangnya kelahiran yang merupakan tugas mulia hidup di dunia ini.
b. Untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas kelahiran.
c. Untuk meningkatkan kinerja organisasi /instansi, sehingga mendapatkan prestasi dan penilaian positip oleh masyarakat.


5. Makna Hari Kelahiran.

Peringatan / perayaan hari kelahiran mencakup Hari Ulang Tahun manusia, Hari Piodalan Pura dan Hari Ulang Tahun organisasi atau instansi. Pada prinsipnya makna hari kelahiran adalah mohon umur panjang (Dirgahayu) supaya bisa melanjutkan pengabdian dalam kehidupan ini sesuai bidang tugas masing-masing. Dalam perspektif agama Hindu kelahiran adalah Punarbhawa yaitu kelahiran yang berulang-ulang. Punarbhawa merupakan kesempatan untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia.

Dalam Bahagawadgita adhyaya II seloka 27 dinyatakan :
"Jatasya hi dhruwo mrityur dhruwam janmamritasya ca, tasmad apariharye 'rthe na twam socitum arhasi"
5

yang artinya : Sesungguhnya setiap yang lahir kematian adalah pasti, demikian pula setiap yang mati kelahiran adalah pasti, karena itu tidak ada alasan engkau merasa menyesal".
Kelahiran dan kematian adalah pasti. Seseorang tidak boleh melupakan hari kelahiran, karena berakibat pada perbaikan karma. Umat Hindu memperbaiki karma dengan dua cara yaitu pertama, disiplin pribadi yang kuat untuk menjalankan kewajiban agama dan mematuhi larangannya. Kedua, melaksanakan ritual/upacara agama. Hal ini dikaitkan dengan pengaruh hari kelahiran terhadap watak kepribadian manusia. Ilmu perbintangan (Astronomi) secara umum menggambarkan hari kelahiran manusia yang dipengaruhi oleh planet akan memiliki ciri karakter kepribadian manusia. Dalam ilmu Wariga secara khusus digambarkan watak kepribadian terkait hari kelahiran pada pawukon dan wewaran.


6. Kesimpulan.

Makna Kelahiran manusia menurut Hindu adalah Punarbhawa yang harus diisi dengan peningkatan kualitas karma. Apapun bentuk kelahiran tidak perlu disesali, sebaliknya merasa bersyukur dilahirkan sebagai manusia yang dapat memperbaiki dari perbuatan yang tidak baik (Asubha karma) menjadi perbuatan baik (Subha karma), demikian dinyatakan dalam Sarasamuscaya seloka 4.
Om Santi Santi Santi Om
PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
KABUPATEN BEKASI














" MAKNA HARI KELAHIRAN
DALAM PERSPEKTIF HINDU "





RENUNGAN AGAMA HINDU
EDISI : 07/ VIII / 2008


Penanggung jawab : Pengurus PHDI Kabupaten Bekasi. Staf Redaksi : Drs. AAG. Raka Putra, I Putu Badung, Mpd, I B Adi Candra, S.Si, I Made Awanita, S.Ag. M.si, Ir. I Nyoman Mertasari, I Wayan Sudiarta. Tata Usaha & Distribusi : Ir. I Wayan Darmanta, IGB Virgo, I Wayan Brata, S.Ag.Alamat Redaksi : Perumh. Graha Prima L 16 No. 8 Mangunjaya Tambun Bekasi Jawa-Barat.Telp. 021 88336171




ATITHI YAJNA

"Om Swastyastu"

1. Umum.

Dalam kehidupan sosial tidak terlepas dari pergaulan dan suatu saat akan berjumpa seseorang yang bertandang atau bertamu ke rumah kita sendiri baik yang sudah dikenal maupun belum dikenal. Secara umum seseorang akan menyampaikan salam dilanjutkan dengan pembicaraan untuk mengutarakan maksud dan tujuan kedatangannya. Disamping itu sengaja diadakan acara pertemuan ataupun pesta baik secara organisasi maupun atas keinginan individu. Dalam hal ini bagaimanakah kewajiban selaku tuan rumah terhadap tamu menurut ajaran Hindu ? Renungan ini patut menjadi pengetahuan sekaligus dipahami dalam konteks sebagai umat beragama. Namun di sisi lain tidak sedikit seseorang berbuat jahat berkedok tamu baik-baik. Dua sisi ini patut dijadikan landasan bagaimana memperlakukan tamu dengan santun tanpa mengurangi kewaspadaan terhadap tindak kejahatan yang berpura-pura sebagai tamu.

2. Pengertian Tamu.

Manu Smrti III. 102 menyatakan :

Ekaratram tu niwasannatithir, brahmanah smrtah anityam hi stitho yasmat atithir ucyate

Yang artinya : Tetapi seorang Brahmana yang tinggal hanya satu malam dinamai tamu karena itu ia tinggal tidak lama, oleh karenanya ia disebut atithi atau tamu.
Bila memberikan pengorbanan suci kepada
2

tamu disebut dengan Atithi Yajna (Manu Smrti III. 106)

2. Kewajiban Terhadap Tamu.

Ada anggapan di masyarakat bahwa pemberian kepada tamu sebagai yadnya dan penolak bala. Hal ini bukan tidak beralasan karena masyarakat yakin terhadap hukum Karmaphala.

a. Memberikan akomodasi dan konsumsi

Manu Smrti IV. 29 menyatakan :
Asanasana sayybhirabbhir, mula phalena wa, nasya kascidwasedgehe sakti, to 'narcito 'tithih
Yang artinya : Tidak boleh ada seorang tamupun yang menginap dirumahnya yang sampai tidak dihormati dan disuguhi tempat duduk, makanan dan tempat tidur, air atau ubi-ubian dan buah-buahan menurut kemampuannya sendiri.

Manu Smrti III. 99 menyatakan :
Sampraptaya twa tithaye, pradadyadasanodake, annam caiwa yatha saktim, satkrtya widhi purwakam
Yang artinya : Tetapi hendaknya ia memberikan sesuai dengan peraturan kepada tamu yang datang dengan tiba-tiba, tempat duduk, air dan juga makanan dengan lauk pauknya sesuai menurut kemampuannya.

b. Memberikan pelayanan yang ramah.

Manu Smrti III. 101 menyatakan :
Tranani bhumi rudakam, wakcaturti ca smrta etanyapi satam gehe, nocchidyante kodacana.
Yang artinya : Rumput, kamar untuk beristirahat, air dan penyambutan yang ramah tamah, keempat hal ini selalu ada di dalam rumah orang baik.
3

c. Menjaga Etika.

Sebagai tuan rumah hendaknya memperhatikan etika menyangkut aspek waktu dengan mengutamakan tamu, Tuhan, Para Dewa serta Leluhur.

Manu Smrti III. 105 menyatakan :

Apranodyo'tithih sayam, suryodho grhamedhina kale praptasuakalewa, nasya nasnan grhe waset.

Yang artinya : Seorang tamu yang datang bertepatan waktunya dengan datangnya malam tidak boleh diusir oleh seorang Kepala Keluarga walaupun ia datang pada waktu jam makan atau pada waktu-waktu yang tidak tepat, ia tidak boleh tinggal di rumah itu tanpa suguhan.

Manu Smrti III. 117 menyatakan :
Dewanrsin manusyamsca, pitrin grhyasca dewatah, pujayitwa tatah pascod, grhasthah sesabhugbhawet

Yang artinya : Setelah menghormati para Dewa, para Rsi, para leluhur dan para Dewa penjaga rumah, tuan rumah akan makan kemudian atas apa yang tinggal.

3. Pahala Atithi Yadnya.

Segala bentuk pengorbanan suci kepada tamu disebut dengan Atithi Yajna dan bila itu dilakukan dengan ikhlas mendatangkan pahala.

Manu Smrti III. 106 menyatakan :

Na wai swayamtadasniyad, atithim yajnabhojayet dhanyam yasasya mayusyam, swargan watithi pujanam
4


Yang artinya : Seorang kepala keluarga tidak boleh memakan makanan yang enak tanpa menyuguhkan makanan yang sama kepada tamunya, penerimaan tamu secara ramah memberi : pahala kekayaan, kemasyuran, hidup panjang umur dan kedamaian keluarga.


4. Akibat Melalaikan Tamu.

Jika kurang memperhatikan tamu atau lalai akan berakibat dosa dan hilangnya kebaikan dari tuan rumah dan kebaikan itu menjadi milik tamu.

Manu Smrti III. 118 menyatakan :
Agham sa kewalam bhungkte, yah pacatyatmakaranat, yajnasintasanamhyetatat, satamannam widhiyate

Yang artinya : Ia yang menyiapkan makanan hanya untuk dirinya sendiri sebenarnya memakan dosa karena sudah ditetapkan bahwa makanan yang tinggal setelah selesai upacara (Atithi Yadnya) adalah menjadi makanan orang-orang yang bijaksana.

Manu Smrti III. 100 menyatakan :
Silanapyunchanto nityam, pancagnin api juhwatah, sarwam sukrtamadatte, brahmano 'narcito wasan

Yang artinya : Seseorang Brahmana yang tinggal di suatu rumah tanpa mendapat penghormatan, kepergiannya nanti akan membawa pergi pahala rohaniah dari tuan rumah yang walaupun kaya raya dengan padi
bertumpuk atas selalu menghaturkan persembahan pada kelima macam api.
5


Manu Smrti III. 115 menyatakan :

Dattwa tuya etebhyah, purwam bhungkte wicaksanah sabhumjano na janatiswa, grdhrair jagdhimatmanah

Yang artinya : Tetapi orang bodoh yang makan lebih dulu tanpa memberi makan kepada orang-orang demikian, sementara ia makan dengan lahap, ia tidak tahu bahwa setelah matinya ia sendiri akan ditelan oleh anjing-anjing dan burung-burung bangkai.

5. Kesimpulan.

Sungguh suatu kehormatan dan kebahagiaan apabila kedatangan seorang tamu. Karena mendapatkan kesempatan untuk memberikan pengorbanan suci dengan ikhlas (tidak mengharap balasan) terhadap tamu. Hal tersebut merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh umat Hindu dimanapun berada. Siapa sangka atau tanpa sepengetahuan kita, tamu hanyalah sarana Tuhan, Sanghyang Widhi Wasa untuk menguji seberapa besar tingkat Sradha dan Bhakti umat manusia di dunia ini.

"Om Santi Santi Santi Om"

Seorang kepala keluarga tidak boleh memakan makanan yang enak tanpa menyuguhkan makanan yang sama kepada tamunya, penerimaan tamu secara ramah memberi : pahala kekayaan, kemasyuran, hidup panjang umur dan kedamaian keluarga.

(Manu Smrti III. 106)

PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
KABUPATEN BEKASI














"ATITHI YAJNA"





RENUNGAN AGAMA HINDU
EDISI : 08/ IX / 2008


Penanggung jawab : Pengurus PHDI Kabupaten Bekasi. Staf Redaksi : Drs. AAG. Raka Putra, I Putu Badung, Mpd, I B Adi Candra, S.Si, I Made Awanita, S.Ag. M.si, Ir. I Nyoman Mertasari, I Wayan Sudiarta. Tata Usaha & Distribusi : Ir. I Wayan Darmanta, IGB Virgo, I Wayan Brata, S.Ag.Alamat Redaksi : Perumh. Graha Prima L 16 No. 8 Mangunjaya Tambun Bekasi Jawa-Barat.Telp. 021 88336171



BUNUH DIRI DALAM PERSPEKTIF
AGAMA HINDU

Om Swastyastu
1. Umum.
Menghadapi perkembangan jaman seiring dengan bertambahnya tuntutan hidup membuat seseorang berpikir ekstra untuk memenuhi segala kebutuhan baik primer maupun sekunder. Dalam keadaan seperti itu bagi yang tidak kuat mental akan menjadi beban secara kejiwaan yang lambat laun menjadi depresi hingga stroke yang berkepanjangan. Permasalahan dipecahkan dengan caranya sendiri, seperti masalah sosial ekonomi, asmara dan keinginan yang belum tercapai. Pada akhirnya suatu saat terhenti karena pikiran seakan buntu dalam keputus-asaan kemudian melakukan tindakan bunuh diri.
Barangkali disinilah letak akar masalah kenapa dalam mencari solusi pemecahan masalah seseorang membuat keputusan sendiri ? Jika saja kondisi mental seseorang tangguh, kokoh dan kuat maka tindakan konyol seperti bunuh diri bisa dihindari.
2. Peranan Seloka Suci.
Membaca Sloka Weda dan menghafalkan melalui kegiatan Utsawa Dharma Gita sangat membantu mengendalikan lamunan yang tidak perlu. Sloka atau ayat suci Weda ibarat kata-kata mutiara yang dapat memberikan motivasi dan semangat hidup bukan sebaliknya semangat mati. Memang kematian tidak dapat dihindari jika Tuhan menghendaki. Akan tetapi manusia diberi akal seyogyanya mampu menghadapi berbagai problem atau persoalan hidup.
2


Sarasamuçcaya Sloka 2 menyatakan :
Manusah sarvabhutesu varttate vai çubhaçubhe Açubhesu samavistam çubhesvevavakarayet.

Artinya : Diantara semua makhluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah, yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk ; leburlah kedalam perbuatan baik, segala perbuatan yang buruk itu ; demikianlah gunanya (pahalanya)menjadi manusia.

Sarasamuçcaya Sloka 3 menyatakan :
Upabhogaih parityaktam natmanamavasadayet, Candalatvepi manusyam sarvvatha tata durlabham.

Artinya : Oleh karena itu, janganlah sekali-kali bersedih hati ; sekalipun hidupmu tidak makmur ; dilahirkan menjadi manusia itu, hendaklah menjadikan kamu berbesar hati, sebab amat sukar untuk dapat dilahirkan menjadi manusia, meskipun dilahirkan hina sekalipun.

Sarasamuçcaya Sloka 4 menyatakan :
Iyam hi yoning prathama yam prapya jagatipate, Atmanam çakyate tratum karmabhih çubhalaksanaih.

Artinya : Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama ; sebab demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara (lahir dan mati berulang-ulang) dengan jalan berbuat baik ; demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia.

Sarasamuçcaya Sloka 6 menyatakan :
Sopanabhutam svargasya manusyam prapya durlabham, Tathatmanam samadayad dhvamseta na punaryatha.
3


Artinya : Kesimpulannya, pergunakanlah sebaik-baiknya kesempatan menjelma menjadi manusia ini, kesempatan yang sungguh sulit diperoleh, yang merupakan tangga untuk pergi ke sorga ; segala sesuatu yang menyebabkan agar tidak jatuh lagi, itulah hendaknya dilakukan.

Bhagawadgita Adhyaya II .66 dinyatakan :
Na'sti buddhir ayuktasya, na ca yuktasya bhawana, Na ca bhawayatah santir, asantasya kutah sukham

Artinya : Tidak ada pikiran yang tidak terkendalikan Tidak ada konsentrasi yang tidak terkendalikan Tidak ada ketegangan untuk tidak memusatkan pikiran yang tidak tenang, dimana kebahagiaan itu.
Sloka tadi mengisyaratkan bahwa kunci kebahagiaan adalah pikiran yang terkendali, konsentrasi yang terkendali, pemusatan pikiran, ketenangan pikiran. Sebaliknya pikiran yang tidak terkendali ibarat perahu hanyut dalam samudra terbawa angin " Wayur nawan iwambhasi" demikian dinyatakan dalam Bhagawadgita Adhyaya II. 67.

3. Nasehat dan Renungan.
Tindakan bunuh diri dinyatakan "Ulah Pati" sebagai perbuatan dosa, karena bertentangan dengan ajaran Dharma. Dharma mengajarkan kepada umat manusia untuk memperbaiki kehidupan ini dari perbuatan tidak baik menjadi baik/benar. Ulah Pati sangat tidak baik untuk dilakukan apalagi usia yang masih relatif muda. Sungguh disayangkan dan sia-sialah mereka yang mengambil jalan pintas melalui bunuh diri
4
untuk melepaskan diri dari persoalan/problem hidup. Ingatlah hidup didunia ini tidak sendiri dan masih banyak orang yang lebih susah dari kita bahkan keterbatasan fisik, seperti tuna netra, tuna wisma, tuna rungu, tuna daksa, yatim piatu dsb. Oleh karena itu kendalikan pikiran, besarkan hati, sucikan jiwa secara konsisten dengan mengisi kegiatan yang produktif dan berkualitas baik kegiatan rohani maupun kegiatan duniawi.

4. Kiat Pencegahan Tindakan Bunuh Diri.

Sebelum terjadi tindakan bunuh diri perlu diupayakan kiat pencegahan khususnya dalam perspektif Hindu :

a. Kiat Pembinaan Rohani :
1)Sembahyang secara rutin dengan kesadaran sendiri.
2)Membaca seloka atau ayat suci Weda terutama kata-kata mutiara yang dapat membangkitkan semangat hidup.
3)Menerima hidup ini dengan ikhlas sebagai karma wasana.
4)Sabar, jujur dan bersyukur.
5)Tidak melupakan orang tua.
6)Mengasihi seluruh keluarga.

b. Kiat Pembinaan Fisik :
1) Berolah raga secara teratur.
2) Makan makanan dan minum minuman yang sehat sesuai kebutuhan.

c. Kiat pembinaan Sosial Kemasyarakatan
1) Komunikasi secara intens dalam pergaulan sosial.
2) Memenuhi kebutuhan hidup sesuai kemampuan.
5


5. Kesimpulan.

a. Tindakan bunuh diri bisa menimpa siapa saja, jika tidak kuat mengendalikan diri terutama mengendalikan pikiran maka bisa terjebak dalam kebingungan.

b. Semua orang punya problem atau persoalan hidup bahkan mungkin lebih berat problem yang dihadapi orang lain dibandingkan dengan problem kita sendiri. Dengan menyadari ini, maka akan terlepas dari rasa rendah diri dan putus asa.

6. Saran.

a. Para Ketua Sub Banjar, PHDI, Sesepuh hendaknya lebih intens dalam komunikasi sosial dengan warganya sehingga lebih mengenal secara mendalam dan terjadinya hubungan yang akrab.
b. Para Ketua Sub Banjar, PHDI, Sesepuh dalam setiap kesempatan harus berperan sebagai Bapak, sebagai Guru, sebagai Teman dan Sahabat.
c. Pembinaan Rohani Hindu dijadikan landasan dalam pembinaan umat Hindu secara berkesinambungan.

7. Penutup.

Demikian uraian singkat pokok-pokok pikiran sebagai upaya pencegahan dalam menanggapi kejadian tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh masyarakat baik anak-anak, remaja, dewasa maupun orang tua.

Om Santi Santi Santi Om

PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
KABUPATEN BEKASI














" BUNUH DIRI
DALAM PERSPEKTIF AGAMA HINDU"





RENUNGAN AGAMA HINDU
EDISI : 09/ X / 2008


Penanggung jawab : Pengurus PHDI Kabupaten Bekasi. Staf Redaksi : Drs. AAG. Raka Putra, I Putu Badung, Mpd, I B Adi Candra, S.Si, I Made Awanita, S.Ag. M.si, Ir. I Nyoman Mertasari, I Wayan Sudiarta. Tata Usaha & Distribusi : Ir. I Wayan Darmanta, IGB Virgo, I Wayan Brata, S.Ag.Alamat Redaksi : Perumh. Graha Prima L 16 No. 8 Mangunjaya Tambun Bekasi Jawa-Barat.Telp. 021 88336171





ZINAH ITU DILARANG

Om Swastyastu

1. Umum.

Hidup ini begitu indah diciptakan Tuhan, sehingga makhluk hidup termasuk manusia menikmati dengan bahagia. Kasih sayang yang ditunjukkan Tuhan kepada manusia terkadang tidak sebanding dengan balas budi baik dari manusia. Bagi yang beriman tidak menjadi problem menghadapi hidup ini yang penuh dengan suka dan duka. Sebaliknya yang tidak beriman akan mengalami kesulitan hidup antara lain kondisi jiwa yang hampa memandang hidup ini dengan berbagai pemahaman. Pemahaman yang salah dan keliru terhadap hakikat hidup merupakan sumber terjadinya kekacauan dalam melakoni hidup ini. Tidak jarang terjadi membebaskan diri dari aturan yang mengikat baik dari kitab suci maupun norma atau hukum yang berlaku di masyarakat sebagai ciri rendahnya tingkat pengendalian diri sehingga berbuat melanggar aturan. Salah satu contoh ialah perbuatan asusila seperti berzinah. Berzinah artinya melakukan hubungan sex tidak sesuai dengan norma yang berlaku, seperti dengan istri orang lain dari suami yang sah. Dalam ajaran agama Hindu, Zinah disebut dengan istilah Paradara. Disamping itu penyimpangan seksual yang dilarang antara lain berhubungan sex dengan orang yang masih ada hubungan darah (Gamyagamana), antara lain dengan saudara kandung, ayah dan ibu kandung, paman/bibi, dan berhubungan sex dengan guru (Gurwanggamana). Dalam Sarasamuscaya seloka 76 dinyatakan : " Pranatipatam stainyam ca paradaranathapi wa, trini papani kayena sarwatah pariwarjawet
2

yang artinya : Inilah yang tidak patut dilakukan : membunuh, mencuri, berbuat zinah, ketiganya itu hendaknya jangan dilakukan terhadap siapapun baik secara berolok-olok, bersenda gurau baik dalam keadaan dirundung malang, keadaan darurat, dalam khayalan sekalipun hendaknya dihindari saja ketiganya itu.

2. Tantangan Terbesar.

Zinah adalah salah satu tantangan terbesar yang menyeret umat manusia ke lembah dosa dan hancurnya kehidupan keluarga baik dari segi sosial ekonomi maupun budaya sebagai akibat dari sangsi sosial dan agama. Tidak memandang usia, pangkat, jabatan, bahkan tokoh, pemuka adat, dan pemuka agama tidak terlepas dari jebakan dan jeratan yang selalu mengintai. Justru semakin tinggi dan terpandang status sosial seseorang, maka akan diikuti dengan semakin besar godaannya. Secara biologis dorongan nafsu sex memang tidak bisa dihilangkan bahkan harus dirawat dan dipelihara serta yang lebih penting dikendalikan dan disalurkan sesuai aturan atau norma yang berlaku. Tuhan telah menciptakan bermacam makhluk hidup mulai dari manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan. Karena itu masing-masing makhluk hidup punya cara dan sistem yang berbeda-beda. Misalnya ; tidak bisa disamakan tata cara manusia dengan tata cara binatang. Binatang punya cara berhubungan sex secara insting atau naluri, sedangkan manusia punya tata cara berhubungan sex dengan moral dan agama. Disinilah manusia dituntut kearifan dalam mengelola potensi sex yang ada dalam diri. Terlebih bagi mereka yang tergolong rohaniwan sangat rentan dan beresiko karena
33

beban moral dan tanggung jawab lebih berat sehingga wajar rohaniwan mendapat tempat yang sangat dihormati ditengah masyarakat. Sebaliknya apabila rohaniwan tidak bisa mengendalikan nafsu sexnya maka dosa yang diperolehnya akan berlipat ganda.

3. Faktor-Faktor Yang Mendorong Berbuat Zinah.

Ada tiga hal yang mendorong manusia berbuat zinah yaitu Kama (nafsu), Krodha (marah), Lobha (rakus) sebagaimana dinyatakan dalam Bhagawadgita adhyaya XVI. 21 :

"Triwidham narakasye'dam, dwaram nasanam atmanah, kamah krodhas tatha lobhas, tasmad etat trayam tyajet.

Yang artinya : Ini pintu gerbang ke neraka, jalan menuju jurang kehancuran diri ada tiga yaitu kama, krodha dan lobha, oleh karena itu ketiga-tiganya harus ditinggalkan.

Dari ketiga hal tersebut yang menonjol adalah dorongan nafsu sebagaimana percakapan antara Sri Kresna (Sri Bhagawan) dengan Arjuna dalam Bhagawadgita adhyaya III. 36 dan 37 : Arjuna Uwaca :
"Atha kena prayukto'yam, papam carati purusah, anicchannapi warsneya, balad iwa niyojitah".

Arjuna berkata :
Tetapi apakah yang mendorong orang berbuat dosa walau bertentangan dengan nuraninya seolah-olah dengan paksa, Warsneya (Kresna)

Sri Bhagawan uwaca :
"Kama esa krodha esa, rajoguna samudbhawah, mahasano mahapapma,widdhyenam iha wairinam".
4


Sri Bhagawan menjawab :

Itu adalah nafsu, itu adalah amarah yang lahir dari sifat rajaguna, keduanya dimusnahkan, penuh dosa, ketahuilah ini adalah musuh yang disini.

Demikian juga dalam Bhagawadgita adhyaya III. 40 menyatakan :

"Indriyani mano buddhi, asya dhistanam ucyate, etair wimoha yatyesa, jananam awritya dehinam".

Yang artinya : Panca Indra, hati dan pikiran adalah kendaraan baginya dengan tertutupnya ilmu pengetahuan olehnya menyebabkan bingungnya jiwa dalam badan.

Karena itu perlu menjadi renungan sebagai nasehat sebagaimana dinyatakan dalam Bhagawadgita adhyaya III. 41 :
"Tasmat twam indrayany adau, niyamya bharatarsabha, papmanam prajahi hy enam, jnana wijnana nasanam,

Yang artinya : karena itu kendalikan panca indramu dan basmilah nafsu yang penuh dosa, perusak segala ilmu pengetahuan dan kebijakan, O Arjuna yang baik.

Disamping itu ada 9 lubang dalam diri yang harus dikendalikan oleh pikiran dan hati kita : Adapun 9 lubang tersebut adalah dua di mata, dua di telinga, dua di hidung, satu di mulut, satu di kelamin, satu di anus. Rangsangan yang diterima oleh mata, telinga, hidung akan
5


berpengaruh kepada kelamin bila tidak dikendalikan oleh pikiran dan hati kita. Demikian juga segala sesuatu yang masuk ke mulut akan berpengaruh kepada anus, seperti sembelit, buang gas, buang air besar, ambein, dsb.

4. Kiat mengendalikan nafsu sex.

a. Sembahyang dengan kesadaran sendiri.
b. Berolah raga dengan teratur.
c. Waspada terhadap lamunan dan segera alihkan perhatian pada kegiatan yang positip.
d. Kendalikan pikiran dan panca indra dengan kuat.
e. Bayangkan bila diri kita disakiti sehingga tidak ingin menyakiti orang lain.
f. Anak yang dewasa tidurnya dipisah dengan orang tua.
g. Lawan segala bentuk kelemahan diri dengan tekun berkonsentrasi pada pekerjaan atau tugas.

5. Kesimpulan.

Zinah itu dilarang oleh Tuhan, karena itu kendalikan pikiran dan hati kita terhadap dorongan nafsu sex supaya tidak melanggar larangan dari Tuhan/Sanghyang Widhi Wasa. Zinah sebagai salah satu penyebab dosa sangat rentan bagi mereka yang tidak memiliki srada dan bhakti yang kuat. Terlebih menghadapi pengaruh global atau jaman yang senantiasa menawarkan hal yang menggiurkan yang menyebabkan manusia menjadi mabuk dan lupa diri.

Om Santi, Santi, Santi Om.

PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
KABUPATEN BEKASI














" ZINAH ITU DILARANG"





RENUNGAN AGAMA HINDU
EDISI : 10/ XI / 2008


Penanggung jawab : Pengurus PHDI Kabupaten Bekasi. Staf Redaksi : Drs. AAG. Raka Putra, I Putu Badung, Mpd, I B Adi Candra, S.Si, I Made Awanita, S.Ag. M.si, Ir. I Nyoman Mertasari, I Wayan Sudiarta. Tata Usaha & Distribusi : Ir. I Wayan Darmanta, IGB Virgo, I Wayan Brata, S.Ag.Alamat Redaksi : Perumh. Graha Prima L 16 No. 8 Mangunjaya Tambun Bekasi Jawa-Barat.Telp. 021 88336171





KONSEPSI SEMBAHYANG
DALAM PERSPEKTIF HINDU

Om Swastyastu
1. Pengertian Sembahyang.
Sembahyang terdiri dari kata "sembah" yang artinya penghormatan dan "hyang" yang artinya sesuatu yang tinggi, agung dan maha. Sembahyang adalah salah satu bentuk pemujaan umat Hindu kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melalui sembahyang umat Hindu dapat merasakan semakin dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa. Kedekatan hubungan secara emosional spiritual antara manusia dengan Tuhan memberikan kekuatan keyakinan yang berdampak pada pembentukan karakter kepribadian yang dilandasi oleh ajaran yang telah diwahyukan Tuhan melalui para Maha Rsi yang dihimpun dalam kitab suci Weda. Sembahyang sebagai suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh umat manusia untuk mengungkapkan puja dan puji syukur serta ucapan terima kasih kepada Tuhan. Karena itu sembahyang tidak bisa diwakilkan, sedangkan hubungan satu sama lain terbatas hanya pada doa pengantar. Tuhan tidak bisa dipahami hanya melalui kitab suci tetapi juga melalui penghayatan secara mendalam dengan rasa bhakti (wruhing agama lan rasaning agama). Sembahyang hsebagai tahap awal atau start menuju ke arah Tuhan. Dengan bersembahyang secara tekun akan disucikan indra dan bhatin dari segala dosa dan kotoran yang melekat.

2. Macam-Macam Sembahyang.

a. Sembahyang menurut jenisnya ada 2 (dua) macam yaitu pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan ber-Tri Sandhya dan pemujaan kepada para Dewa dengan Kramaning sembah.
b. Sembahyang berdasarkan filosofi ada empat macam yaitu dalam bentuk bhakti, karma, jnana dan raja yang dikenal dengan Catur Marga.
c. Sembahyang berdasarkan bentuknya menurut kitab suci Weda (Bhagawata Purana) ada 9 (sembilan) bentuk bhakti yaitu :
2

1) Srawanam yaitu bentuk bhakti dengan cara mendengar ceritera suci keagamaan, mantra suci Weda.
2) Kirtanam yaitu bentuk bhakti dengan cara menghafal nama-nama Tuhan melalui kidung suci keagamaan.
3) Smaranam yaitu bentuk bhakti dengan cara mengingat Tuhan dengan segala manifestasinya.
4) Arcanam yaitu bentuk bhakti dengan cara memuja arca atau pratima. Contoh : Patung dan Penggambaran Tuhan dalam hati.
5) Wandanam yaitu bentuk bhakti dengan cara membaca ceritera suci keagamaan, seloka serta mantra kitab Weda dan Sastra agama.
6) Dasyam yaitu bentuk bhakti dengan cara melayani dan mengabdi kepada Tuhan. Contoh : Ngayah.
7) Padasewanam yaitu bentuk bhakti dengan cara memuja kaki padma Tuhan. Contoh : dahi menyentuh tanah, lantai Pura atau kaki arca Dewa.
8) Sakyanam yaitu bentuk bhakti dengan cara seperti hubungan dengan sahabat.
9) Atmaniwedanam yaitu bentuk bhakti dengan cara penyerahan diri secara total kepada Tuhan.

3. Sikap Sembahyang.
Sikap badan dalam sembahyang ada 2 (dua) macam yaitu Asana atau sikap duduk dan Padasana atau sikap berdiri. Sikap tangan dalam sembahyang ada dua macam yaitu Anjali (kedua telapak tangan dicakupkan rapat pada posisi mulai dari atas kepala, depan dahi/hidung, depan hulu hati dan depan hulu hati dimana ujung jari menghadap ke bawah. Adanya perbedaan tempat ini didasarkan sesuai kepada siapa yang ditujukan, seperti kepada Tuhan, Dewa. Pertapa (Maha Rsi), Leluhur, Manusia dan Bhuta. Amusti karana/Dewa Partistha (sikap kedua telapak tangan terjalin, dimana dua ibu jari dan satu jari telunjuk kanan berbentuk seperti kojong).

Dalam kitab Manu Smrti Bab IV seloka 21 dinyatakan :"Rsi yajnam dewa yajnam bhuta yajnam ca sarwada, mryajanam pitrayajnam ca yatha sakti nahapayet " yang artinya Hendaknya jangan ia sampai lupa jika ia mampu melakukan yadnya untuk para pertapa, para Dewa, pada unsur-unsur alam, pada sesama manusia dan kepada para leluhur.
3
4. Hakikat Sembahyang.
Dalam ajaran agama Hindu sembahyang wajib hukumnya untuk dilaksanakan dengan konsisten. Apabila sembahyang tidak menjadi kebiasaan maka kewajiban tersebut seolah menjadi beban dan jenuh. Karena itu sembahyang hendaknya dilaksanakan dengan sungguh-sungguh sebagai keyakinan yang fundamental. Keyakinan mencapai tujuan akan melahirkan semangat keagamaan sebagai modal dan benteng menghadapi segala kendala dan problema yang menghadang.

Dalam Manu Smrti Bab II seloka 81 dinyatakan :
""Omkara purwikastisro, mahawyahrtayo yayah,Tripada caiwa sawitri, wijneyam brahmano mukham
Yang artinya : ketahuilah bahwa ketiga mahawyahrti didahului oleh aksara Ongkara dan diikuti oleh ketiga kaki Sawitri yang merupakan tiang pengokoh Weda dan gerbang menuju bersatunya dengan Brahman.

Dalam Weda Smrti Bab II seloka 83 dinyatakan :
"Ekaksaram param Brahman" yang artinya Aksara tunggal Om adalah Brahman yang tertinggi".

Dalam Weda Smrti Bab II seloka 101 dinyatakan
"Purwam samdhyam japam, stisthetsawitrim arka darcanat, pascimam tu samasinah, samyagrksa wibhrwa wanat
Yang artinya : Hendaklah ia berdiri di waktu subuh mengucapkan mantra Sawitri sampai matahari terbit, tetapi di waktu sore boleh dengan cara duduk sampai cakrawala tampak dengan jelas".

Dalam Weda Smrti Bab IV seloka 93 dinyatakan :
"Utthaya wasyakam krtwa krtasaucah samahitah, purwam samdhyam japam stisthetswakale caparam ciram" Yang artinya : Ketika ia sudah bangun setelah membuang air kecil dan besar serta telah menyucikan diri dengan cermat hendaklah ia berdiri dalam keremangan subuh mengucapkan mantra Gayatri agak lama dan pada waktu yang layak melakukan persembahyangan sama pada waktu senja kala".

Dalam Weda Smrti Bab IV sloka 147 dinyatakan
"Wedamewabhyasennityam, yathakalamatandrtah, tam hyasyahuh param, dharmam upadharmo 'nya ucyate"
4

Yang artinya : Hendaklah ia tanpa merasa payah, setiap hari menguncarkan Weda pada saat yang sepantasnya karena telah dikatakan bahwa hal itu adalah tugas yang paling utama semua yang lainnya adalah kewajiban tambahan".
Dalam kitab Kausitaki Brahmana Upanisad Bab II seloka 7 dinyatakan :
...ketiga samadhi dari penakluk semesta kausitaki. Penakluk semesta Kausitaki sesungguhnya memang pernah menyembah matahari terbit ..... Dengan cara yang sama dia (pernah memuja matahari) ketika hal ini berada di tengah-tengah langit ... Dengan cara yang sama dia (pernah memuja matahari) ketika hal ini mau tenggelam dan berkata engkau adalah pembawa yang penuh bawalah aku dari segenap dosaku. Dengan demikian dosa apa saja diperbuatnya siang atau malam langsung dihapuskannya.
5. Manfaat Sembahyang.
Sembahyang secara rutin adalah kewajiban sekaligus tantangan. Karena tidak sedikit kendala yang harus dihadapi sehingga seseorang cepat putus asa, bosan, jenuh dan pada akhirnya keyakinan yang sudah ditanam dan dibangun dalam diri lambat laun luntur dan tidak bersemangat. Jika saja menyadari akan manfaatnya maka hal tersebut bisa dikendalikan.
Dalam Weda Smrti Bab II seloka 82 dinyatakan
""Ata ewaha.Yo'dhite 'hanyatam, strini warsanya tandritah, sa brahma praramabhyeti, wayubhutah khamurti, wayubhutah swamutirmam ” Yang artinya : Demikianlah ini. Ia yang setiap harinya mengucapkan mantra-mantra itu dengan rajin selama tiga tahun setelah meninggalnya akan mencapai Brahman yang tertinggi bergerak leluasa laksana udara dan mencapai bentuk yang kekal abadi"
Dalam Weda Smrti Bab II seloka 102 dinyatakan :
"Purwam samdhyam japam, stisthanraicemeno wyapohati, pascimam tu samasino nalam hanti diwakrtam" Yang artinya : Ia yang berdiri di waktu subuh mengucapkan mantra Sawitri menghapuskan dosa yang dilakukan selama malam sebelumnya, tetapi ia yang duduk mengucapkannya di waktu senja (malam) memusnahkan dosa-dosanya yang dilakukan di siang hari ".
5


Dalam Weda Smrti Bab IV seloka 94 dinyatakan : :
"Rsayodirgha samdhyatwad dirghamayur awapnuyuh, prajnam yasasca kirtim ca brahmawarsasamewa ca" Yang artinya : Dengan memperpanjang sembahyang subuh itu para rohaniwan mendapatkan umur panjang, kebijaksanaan, kehormatan, kemasyuran dan keunggulan dalam ajaran Weda".

Dalam Weda Smrti Bab IV seloka 148 dinyatakan :
" Wedabhyasena satatam, saucena tapasaiwa ca, adrohena ca bhutanam jatim, smarati paurwikim
Yang artinya : Dengan menguncarkan Weda setiap hari segan mengikuti peraturan kesucian, dengan melakukan tapa brata dan tanpa melukai makhluk lain seseorang itu bisa mempunyai kemampuan untuk mengingat masa-masa kelahiran yang terdahulu".

Dalam Weda Smrti Bab IV seloka 149 dinyatakan
"Paurwikim samsmaranjatim, brahmaiwabhyasate punah, brahmabhyasena cajasraman antam sukhamasnute" Yang artinya : Ia yang mengingat kelahiran yang terdahulu menguncarkan Weda lagi maka ia menikmati kebahagiaan abadi dengan meneruskan pelajaran Weda.


6. Kesimpulan.
Sembahyang dalam perspektif Hindu merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan umat manusia pada hari-hari yang telah ditentukan dari kitab suci Weda. Apabila itu dilakukan dengan sungguh-sungguh dan dengan keyakinan yang kuat maka dapat bermanfaat secara nyata (sekala) dan spiritual (niskala) bagi kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Kuncinya adalah ketekunan, kesabaran, keikhlasan dalam melaksanakan sembahyang dalam situasi dan kondisi apapun yang sedang dihadapi. Semangat sembahyang dijadikan sebagai motivasi dalam meningkatkan semangat hidup sehingga dapat berkarma atau berkarya sebanyak-banyaknya bagi dunia dan akhirat.

Om Santi Santi Santi Om.


PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
KABUPATEN BEKASI














"KONSEPSI SEMBAHYANG
DALAM PERSPEKTIF HINDU"




RENUNGAN AGAMA HINDU
EDISI : 11/ XII / 2008


Penanggung jawab : Pengurus PHDI Kabupaten Bekasi. Staf Redaksi : Drs. AAG. Raka Putra, I Putu Badung, Mpd, I B Adi Candra, S.Si, I Made Awanita, S.Ag. M.si, Ir. I Nyoman Mertasari, I Wayan Sudiarta. Tata Usaha & Distribusi : Ir. I Wayan Darmanta, IGB Virgo, I Wayan Brata, S.Ag.Alamat Redaksi : Perumh. Graha Prima L 16 No. 8 Mangunjaya Tambun Bekasi Jawa-Barat.Telp. 021 88336171





"IKHLAS"

1. Pengertian.

Kata "ikhlas" mengandung pengertian yang pada intinya adalah sesuatu yang didasarkan atas kerelaan dalam memberi. Tetapi bisa juga diartikan kerelaan dalam menerima. Memberi dan menerima dalam hidup ini sebagai perbuatan yang tidak bisa dihindari. Karena seseorang tidak bisa berdiri sendiri tanpa bantuan ataupun interaksi dari orang lain. Demikian juga manusia tidak bisa lepas dari ekosistem alam. Hukum alam atau Rta yang sudah ditata apik membawa konskwensi kepada semua ciptaan Tuhan. Hidup dan pengorbanan menjadikan bagian dari kehidupan bagai dua sisi mata uang. Saling bertautan, memberi dan menerima sampai pada puncak pengorbanan yaitu tibanya sang waktu yang akan mengeksekusi semua yang ada di alam semesta ini. Semua pemahaman ini diharapkan manusia menjadi lebih ikhlas untuk menumbuhkan semangat hidup sehingga dapat melaksanakan Dharma secara maksimal. Agama Hindu mengajarkan untuk memperbaiki kehidupan ini menjadi lebih baik dalam menyongsong kehidupan yang akan datang. Sebaliknya jika dalam pemahaman dikembangkan semangat mati maka sia-sialah hidup ini karena tidak melaksanakan Dharma untuk kesejahteraan dan kebahagiaan. Ingatlah bahwa hidup ini tidak hanya untuk kehidupan yang akan datang, tetapi hidup ini diperuntukan saat ini juga sehingga ada perubahan ke arah yang positip dan baik. Seseorang hanya mengutamakan kehidupan yang akan datang menunjukkan kesempitan dalam berpikir dan pemahaman yang keliru. Bukankah hidup ini sebagai wujud dari kehidupan yang terdahulu ? Bukankah kematian hanyalah kehidupan sementara menuju kehidupan abadi ?
Dalam kitab Sarasamuscaya Seloka 146 dinyatakan :
Na hi pranat priyataram loke kincana vidyate,
Tasmaddaya narah kuryad yathatmani tatha pare.
Sebab tidak ada sesuatu yang kiranya lebih utama dari pada hidup, hanya hidup yang berharga tinggi di dalam triloka, oleh karena itu hendaklah orang selalu menunjukkan cinta kasihnya, sebagai cinta kasihnya terhadap dirinya; demikian hendaknya cinta kasih orang kepada orang lain.

Dalam kitab Sarasamuscaya Seloka 175 dinyatakan :
Dhanani jivitam caica pararthe prajna utsra jet,
Sannimittam varam tyago vinace niyate sati.
Maka tindakan orang yang tinggi pengetahuannya, tidak sayang merelakan kekayaannya, nyawanya sekalipun, jika
2


untuk kesejahteraan umum; tahulah beliau akan maut pasti datang dan tidak adanya sesuatu yang kekal ; oleh karena itu adalah lebih baik berkorban demi untuk kesejahteraan umum.

Dalam kitab Sarasamuscaya Seloka 297 dinyatakan :
Ehi gaccha patottista vada maunam samacara,
Evamaçagrahagrastaih kridanti dhaninor thibhih.

Sebab orang yang sangat mengharap-harapkan sedekah, akan dijadikan permainan saja oleh orang yang diharapkan, katanya : "kemari..., jalan..., berdiri..., duduk..., berkata..., diam...", demikianlah perintah orang yang diharapkan itu; meskipun demikian orang yang sangat berharap itu berusaha untuk mentaatinya, disebabkan oleh karena besar harapanya.

Dalam kitab Sarasamuscaya Seloka 317 dinyatakan :
Na pape prati papah syat sadhureva sada bhavet,
Atmanaiva hatah papo yah papam kartumicchati.

Oleh karena itu perbuatan baiklah yang patut anda usahakan, meskipun perbuatan jahat yang dilakukan orang terhadap diri anda; perbuatan sang sadhu hendaknya merupakan pembalasan anda; jangan membalas dengan perbuatan jahat, sebab orang yang berhasrat akan berbuat kejahatan, merupakan badanya kejahatan itu; dapat menghancurkan tubuhnya sendiri; pendeknya bukan orang lain yang mengenyam hasil perbuatan buruk yang dilakukannya itu.

2. Makna Ikhlas.

Setiap orang pasti tahu arti ikhlas. Tetapi jarang dipahami sebagai ajaran yang mengandung pengertian yang sangat dalam. Contoh : dalam memberikan sesuatu dapat dikategorikan tiga macam yaitu : spontan, pamrih dan spontan sekaligus pamrih. Spontan biasanya berangkat dari hati nurani. Sedangkan pamrih berangkat dari pikiran. Tetapi kategori spontan memiliki nilai yang utama. Karena itu dianjurkan untuk mengikuti kategori spontan yang berangkat dari hati nurani tanpa motif/pamrih. Kategori ini semata-mata melaksanakan sebagai kewajiban atau Dharmaning manusa. Karena itu dinilai sebagai yang tertinggi, mulia dan utama. Inilah hakikat ikhlas yang sejati tanpa motif keuntungan dan balasan.

Dalam kitab Bhagawadgita adhyaya II seloka 47 :
"Karmany ewadhikaraste, ma phalasu kadacana. Ma karma phala hetur bhurma, te sango 'stwa akarmani"

Yang artinya : Hanya berbuat untuk kewajibanmu, tidak hasil
3


perbuatan itu (yang kau pikirkan) jangan sekali-kali pahala jadi motifmu dalam bekerja, jangan pula hanya berdiam diri.

Disamping ikhlas dalam memberi, juga ikhlas dalam menerima apa saja baik itu materi maupun yang pernah / sedang dialami. Manusia sebenarnya lebih siap mental terhadap apa yang dialami, jika memahami hakikat hukum karma. Hanya bagi yang sedikit pengertiannya atau wawasannya sempit sulit menerima hukum karma sebagai hukum alam yang bersumber dari hukum Tuhan. Karena itu diperlukan penghayatan secara maksimal dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika dipraktekkan maka tidak sedikit tantangan yang dihadapi sejalan dengan perkembangan jaman. Ikhlas sebagai nilai yang ideal sekaligus tolok ukur tingkat kemuliaan dan keutamaan manusia. Keikhlasan hanya bisa dirasakan dengan perasaan dan kata hati. Karena memang ikhlas sulit dijangkau dengan kasat mata dan bersifat subyektif .

3. Sikap Hidup.

Dalam kehidupan sehari-hari seseorang sering lupa bahwa hidup ini mestinya disikapi dengan baik dan benar. Tanpa adanya sikap hidup maka sulit mengarahkan segenap jiwa dan raga untuk berbuat, berpikir dan berkata-kata. Jika memiliki sikap hidup maka akan tercermin dalam tutur kata, perbuatan dan pikiran yang suci. Sikap hidup seperti apa yang mesti menjadi pedoman ? Hal ini dapat dilihat dari kitab suci Sarasamuscaya.


a. Contoh Sikap Hidup.


Sarasamuscya seloka 338 :
""Besi bisa cair jika dipanaskan, sedangkan budi pekerti sukar dan amat kaku"
Bisa dianalogikan dengan ibarat pisau >< lidah.

b. Hidup manusia Terbagi-bagi.


Sarasmuscaya seloka 367 :
"Bhutajiwitamatyalpam ratristatrarddhaharini, tadarddhamapi nirhrasyam wyadhisokajaramaraih"
Artinya : Sebab sesungguhnya terlalu pendek umur sekalian makhluk, meskipun sudah pendek diambil sebagian oleh waktu malam, waktu tidur karena pengaruh kantuknya mata, sisanya yang sebagian lagi dikurangi lagi karena penyakit, kesedihan, umur tua serta gangguan-gangguan, amat sedikit waktu hidup itu pada kesudahannya"

4




c. Hidup sebagai Tersangka.


Sarasmuscaya seloka 374 :

" Asannataratam yati mrtyuryati dine, aghatam niya manasya, wadhyasyewa pade pade"

Yang artinya : Orang selalu lupa saja bahwa ia akan mati, sebab sekalian makhluk hidup itu tiada bedanya dengan orang yang bersalah yang sedang dibawa ke tempat hukuman seakan-akan selangkah demi selangkah berkurang waktu hidupnya, demikianlah sekalian makhluk hidup itu setiap malam berkurang umurnya semakin mendekat matinya".

d. Upaya melenyapkan unsur negatif.

Sarasamuscaya seloka 411 :

"Manam hitwa priyo nityam kamam hitwa sukham bhawet, krodham hitwa nirabadhastrsnam jitwa na tapyate"
Yang artinya : Jika keangkuhan anda telah lenyap anda akan dicintai orang, dikasihi oleh masyarakat, jika nafsu birahi anda tiada lagi maka kesenangan sejati anda peroleh, jika kemarahan hati anda lenyap tidak ada lagi yang merupakan musuh anda, pun tidak ada yang anda curigai dan menyusahkan anda, jika tresna/kehausan/keinginan sudah lenyap tidak ada sesuatu apapun yang akan membuat kesedihan hati kepada anda".

Sarasmuscaya seloka 413 :

"Aprarthanamasam sparcamasan darcana mewa ca, purusasyeha niyamo bhawedragaprahanaye"
Artinya : Maka daya upaya yang sungguh-sungguh untuk menangkis serangan nafsu birahi yaitu jangan merindu-rindukan, jangan memikir-mikirkan, jangan menjamah, jangan melihat barang sesuatu yang merupakan keinginan nafsu birahi itu, jika pantangan itu telah dapat dikuasai pasti nafsu birahi itu akan lenyap".

Sarasmuscaya seloka 410 :

"Karunyenatmano mohan trsnam ca paritosatah, utthanena jayet tandrin titarkam niscayajjayet"
5



Yang artinya : Mengenai kesombongan adalah cinta kasih alat pemberantasnya, trsna / kehausan /keinginan hati : kepuasan hati alat untuk melenyapkannya, pun pikiran yang selalu gembira merupakan alat untuk menghilangkannya, akan keengganan hati : kegiatan usaha merupakan alat untuk memberantasnya, adapun kebimbangan hati keyakinan merupakan alat untuk meniadakannya, keyakinan pikiran disebut kesadaran pikiran yang sejati".

e. Usaha mencari tujuan sejati.

Sarasmuscaya seloka 420 :
"Naktamcaryam diwaswapnamalasyam maitthunam madam, dainyam wisayayogam tu creyor 'thipariwarjayet"

Yang artinya : Oleh karena itu usaha orang yang mencari keselamatan, kesejahteraan apalagi kebahagiaan terakhir, sekarang juga ia harus melakukan pantangan : jangan berjalan-jalan pada waktu malam, jangan tidur pada siang hari, jangan melamun, jangan rakus pada persetubuhan, jangan kuat minum-minuman keras, jangan lesu, tak hina dan rusuh dalam perbuatan, jangan tidak mengekang jhawa nafsu"


4. Kesimpulan.

Ikhlas merupakan sesuatu nilai yang utama dan tertinggi, karena itu perlu dihayati secara mendalam sampai pada tingkat pemahaman yang benar dan melaksanakannya dengan tingkat kecerdasan dan kesadaran yang tinggi. Ikhlas dapat membantu melepaskan beban yang kian menutupi hati dan pikiran sehingga sulit untuk mencapai kebebasan sejati. Membebaskan diri dari keinginan dan keuntungan pribadi adalah salah satu cara mengendalikan ego yang ada pada diri manusia. Apabila ego tidak terkendali dengan baik maka selalu ingin menguasai diri manusia yang berdampak pada tindakan yang melanggar norma yang berlaku.


Om Santi Santi Santi Om.






PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
KABUPATEN BEKASI














"IKHLAS"




RENUNGAN AGAMA HINDU
EDISI : 12/ I / 2009


Penanggung jawab : Pengurus PHDI Kabupaten Bekasi. Staf Redaksi : Drs. AAG. Raka Putra, I Putu Badung, Mpd, I B Adi Candra, S.Si, I Made Awanita, S.Ag. M.si, Ir. I Nyoman Mertasari, I Wayan Sudiarta. Tata Usaha & Distribusi : Ir. I Wayan Darmanta, IGB Virgo, I Wayan Brata, S.Ag.Alamat Redaksi : Perumh. Graha Prima L 16 No. 8 Mangunjaya Tambun Bekasi Jawa-Barat.Telp. 021 88336171




" REFLEKSI NYEPI "

Om Swastyastu.

Ratu Pedanda yang kami sucikan. Para sesepuh dan pengurus Banjar Bekasi yang kami hormati. Pengurus PHDI Kota dan Kab. Bekasi yang kami hormati. Bapak-Bapak, Ibu-Ibu umat sedharma yang kami hormati pula. Pada hari ini bertepatan dengan Tawur Kasanga dalam rangka Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1931 kita berkumpul kembali untuk melaksanakan persembahyangan dan menghaturkan upakara yadnya di areal Pura Agung Tirta Bhuana Bekasi dalam keadaan tertib. Semoga Sanghyang Widhi Wasa memberikan petunjuk dan bimbingan kepada umat manusia agar selalu bisa hidup damai dan bahagia. Kedamaian dan kebahagiaan memang dirasakan masih jauh dari harapan akan tetapi kedamaian dan kebahagiaan tetap menjadi tujuan yang utama bagi umat manusia penghuni muka bumi ini. Sejarah telah mencatat bahwa pertikaian, peperangan, permusuhan telah menodai cita-cita luhur kitab suci agama sebagai penuntun hidup damai dan bahagia. Kitab suci agama tidak diterapkan dengan konsisten dan konskwen seolah-olah hanya sebagai simbul dan sakral semata. Di lain pihak kitab suci yang bersifat universal sangat rentan dengan multi tafsir yang memecah persatuan dan kesatuan umat. Disinilah peran lembaga umat yang dapat menyatukan multi tafsir menjadi mono tafsir dengan tetap menghormati dan menghargai tingkat daya pikir seseorang. Multi tafsir bahkan tetap diperlukan untuk menghimpun pemikiran-pemikiran yang konstruktif kemudian mendapatkan formula yang dapat
2

dilaksanakan semua pihak khususnya intern umat Hindu dan umat manusia pada umumnya.
Bapak Ibu umat sedharma yang kami hormati. Untuk mewujudkan impian umat manusia berupa hidup damai dan bahagia, satu-satunya jalan adalah merefleksikan ajaran agama Hindu dengan konsisten, diantaranya merefleksikan Nyepi dengan mendahulukan kewajiban dari pada hak. Kewajiban hendaknya dilakukan dengan ikhlas dan merubah paradigma tekanan menjadi paradigma kesadaran. Untuk mencapai ke arah tersebut memang tidak mudah, akan tetapi setidaknya ada upaya yang sungguh-sungguh membangun karakter yang memiliki kepribadian seperti kejujuran, kebenaran dan keadilan. Di media massa mencatat hasil survei dengan adanya kantin kejujuran di sekolah formal menunjukkan hasil yang tidak diharapkan. Banyaknya kantin kejujuran yang bangkrut indikator sementara akibat anak sekolah atau pengelola kantin yang tidak jujur. Terlepas subyek pelaku kejujuran, ternyata harapan kitab suci agama belum bersemayam di hati umat manusia. Dalam kaitan Nyepi, tuntunan Nyepi harus dilaksanakan dengan konsisten. Bagi sebagian besar umat Hindu, semangat melaksanakan upacara yadnya pastilah jago. Akan tetapi pelaksanaan Catur Brata Penyepian yang merupakan puncak dari rangkaian Hari Raya Nyepi pelaksanaannya belum maksimal. Bahkan pelaksanaannya menyimpang dan menjadi tradisi. Amati Gni yang mestinya tidak menyalakan api kita masih melihat umat Hindu ada yang merokok, bakar sampah, nyalakan kompor dan lain-lain yang terkait dengan api termasuk penggunaan listrik. Amati Gni juga tersirat tidak makan dan minum (puasa) pada hari "H". Kenyataannya masih ada

3

umat Hindu yang tidak puasa. Amati Lelungan yang mestinya tinggal di tempat. Tetapi masih ada yang pergi kemana-mana. Ini baru dalam konteks tapa brata yang riil. Apalagi ditingkatkan pemahamannya bahwa Amati Lelungan bermakna pikiran terpusat kepada Tuhan (Sanghyang Widhi Wasa), pikiran dikendalikan supaya tidak kemana-mana atau berpikiran positip. Amati Karya semestinya tidak bekerja. Kenyataannya tetap bekerja karena alasan ekonomi. Amati Lelangunan semestinya tidak bersenang-senang. Kenyataannya menikmati kesenangan duniawi seperti hura-hura, sek yang kesemuanya memuaskan semua indra manusia.
Bapak Ibu umat sedharma yang kami hormati. Nyepi harus direfleksikan dengan riil, lambat laun ditingkatkan dengan pemahaman yang lebih tinggi. Yang masih dipertanyakan mengklaim diri melaksanakan brata penyepian dengan pemahaman yang tinggi sebagai pembenaran padahal tidak mau melaksanakan brata penyepian secara riil. Brata itu ada tahapannya. Tidak bisa sekaligus atau langsung pada tingkat yang lebih tinggi. Brata yang riil sebagai fondasi yang kokoh kuat. Setelah kuat baru kemudian membangun jiwa yang suci. Melatih semua indra agar menerima dan memberi yang positip. Jika semua umat Hindu sudah pada tahapan seperti ini, maka kehidupan yang damai dan bahagia dapat kita rasakan.
Dalam Bhagawadgita Adhyaya XII seloka 5 dinyatakan : "Kleso 'dhikataras tesam, awyaktasakta cetasam, awyakta hi gatir duhkham, dehawadbhir awapyate" yang artinya Bagi mereka yang pikirannya dipusatkan kepada Yang Tak termanifestasikan, kesulitannya lebih besar, karena sesungguhnya jalan dari Yang Tak termanifestasikan adalah sukar dicapai oleh

4

orang yang mempunyai badan jasmani". Karena itu lebih lanjut Bhagawadgita adhyaya XII seloka 9 menyatakan : "Atha cittam samadhatum, na saknosi mayi sthiram, abhyasayogena tato, mam iccha 'ptum dhananjaya " yang artinya Apabila engkau tiada dapat memusatkan pikiranmu dengan tetap pada Ku, maka kemudian usahakanlah mencapai Aku dengan jalan yoga biasa, hai Arjuna. Lebih lanjut Bhagawdgita adhyaya XII seloka 10 menyatakan : "Abhayane 'pe asamarto 'si, matkarma paramo bhawa, madartham api karmani, kurwan siddhim awapsyasi" yang artinya : Bila engkau tak sanggup melakukan beryoga terus menerus, kerjakanlah kerjaKu sebagai tujuan Mu tertinggi, kendatipun dengan mengerjakan kerja itu demi untuk Ku, engkau akan mencapai kesempurnaann. Lebih lanjut Bhagawdgita adhyaya XII seloka 11 menyatakan : " Athai 'tad apy asakto 'si, kartum madyogam asritah, sarwa karma phala tyagam. Tatah kuru yatatmawan" yang artinya : Apabila inipun tidak biasa engkau lakukan, carilah perlindungan dalam yoga kepadaKu, tanggalkan semua pahala karma itu, lakukan dengan berpegang teguh dalam mengendalikan diri". Lebih lanjut dijelaskan tentang menanggalkan semua pahala karma dalam Bhagawdgita adhyaya XII seloka 16 : " Anapeksah sucir daksa, udasino gatawyathah, sarwarambha parityagi, yo madbhaktah sa me priyah" yang artinya Dia yang tidak mengharap apa-apa, suci, ahli, tak hirau apa-apa, pikirannya tak terganggu, yang telah membuang semua pikirannya, dialah penganutKu yang Ku kasihi".


5

Bapak Ibu umat sedharma yang kami hormati. Nyepi tidak bermaksud menjauhkan diri dari sesama yang menyepi sendirian tanpa makna. Nyepi sebagai peringatan akan kedamaian dan kebahagiaan yang diidamkan oleh sebagian besar umat manusia. Karenanya mewujudkan kedamaian dan kebahagiaan melalui nyepi yang bermakna pemusatan pikiran dan merenungkan dalam-dalam tentang jati diri dan hakikat hidup sebagai manusia. Manawa Dharmasatra menyatakan bahwa ketika dunia ini diciptakan diawali dengan gelap hingga terciptanya makhluk hidup. Sesuatu yang gelap dan ketiadaan kemudian menjadi terang dan ada. Gelap sebagai perwujudan kosong, sepi, hening namun sesungguhnya ada suatu kekuatan sinar suci yang hanya tampak bagi orang suci. Nyepi memberi makna pengosongan pikiran dan menarik indria dari ikatan duniawi. Dengan demikian Nyepi adalah kegiatan yoga untuk membersihkan dan mensucikan diri dari endapan panca tan matra dan panca budhindria, yang meliputi gerak seluruh anggota tubuh dan indria. Sedangkan mengosongkan pikiran dimaksudkan membuang pikiran-pikiran negatip yang sempat hinggap di otak kita. Caranya melalui upacara prayascita dan tapa brata yoga samadhi. Jika ini dipahami dan dilaksanakan dengan baik maka pelaksanaan Nyepi dapat dinyatakan sukses. Keberhasilan Nyepi terletak pada konsistensi pelaksanaan upacara Tawur Kasanga yang diperkuat dengan Catur Brata Penyepian yang dilandasi moral dan etika.

Selamat Hari Raya Nyepi
Tahun baru Saka 1931

Om Santi Santi Santi Om

PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
KABUPATEN BEKASI














"REFLEKSI NYEPI"




RENUNGAN AGAMA HINDU
EDISI : 14/ II / 2009


Penanggung jawab : Pengurus PHDI Kabupaten Bekasi. Staf Redaksi : Drs. AAG. Raka Putra, I Putu Badung, Mpd, I B Adi Candra, S.Si, I Made Awanita, S.Ag. M.si, Ir. I Nyoman Mertasari, I Wayan Sudiarta. Tata Usaha & Distribusi : Ir. I Wayan Darmanta, IGB Virgo, I Wayan Brata, S.Ag.Alamat Redaksi : Perumh. Graha Prima L 16 No. 8 Mangunjaya Tambun Bekasi Jawa-Barat.Telp. 021 88336171





BERBUAT BAIK ITU SEPERTI APA ?
Berhakkah manusia menilai
Iman (kebaikan/keburukan) seseorang ?

Om Swastyastu.

Ada-ada saja dalam hidup ini, ibarat rwa bhineda. Dua hal yang selalu bertentangan, akan tetapi bila disatukan menjadi kekuatan energi yang bermanfaat atau sebaliknya dapat menghancurkan sendi-sendi kehidupan. Biasanya tindakan penghancuran terjadi saat ego seseorang tidak bisa dikendalikan. Benar salah, baik buruk perbuatan manusia tidak bisa dipungkiri. Keduanya saling bergejolak untuk menaklukan hati manusia. Umumnya manusia tidak ingin dibilang salah atau buruk, bahkan berusaha menutupi kesalahan atau keburukannya. Apakah yang berbuat kebenaran itu ada tanpa ada yang berbuat kesalahan ? Atau apakah ada yang berbuat kebaikan tanpa ada yang berbuat keburukan ? Apakah saat diciptakan dunia ini bersamaan dengan hadirnya rwa bhineda ? Inilah yang menjadi bahan renungan agar dapat menyelami lebih dalam tentang keberadaan hukum alam sebagai manifestasi dari hukum Tuhan. Benar dan salah atau baik dan buruk dalam bahasa agama Hindu disebut dharma–adharma, subha –asubha karma.
Berbuat baik bukan berarti tidak mendapat tantangan. Bahkan dirasakan lebih berat dari berbuat tidak baik. Berbuat baik harus arif dan bijak agar terhindar dari kesalah pahaman yakni bisa menyesuaikan desa kala patra (tempat, waktu, situasi dan keadaan). Berbuat baik pada saat yang tepat atas tempat, waktu dan keadaan akan lebih elegan dibandingkan dengan berbuat baik yang
2

menerobos sisi etika dan estetika.
Dengan demikian menjadi sangat penting faktor-faktor yang mempengaruhi agar berbuat baik menjadi diterima bahkan dapat dijadikan contoh serta layak untuk diikuti. Cepatnya pengaruh jaman yang sarat dengan materialistis, individualistis, egois justru menjadi pemicu yang mempengaruhi pola pikir manusia yang jauh dari harapan kebaikan. Karena itu berbuat baik diperlukan pengorbanan dan kesabaran yang tinggi untuk menegakkan nilai-nilai kebaikan di dunia ini. Jika saja tidak ada yang peduli maka kehancuran akan senantiasa menanti. Di belahan dunia mana saja, pasti ada unsur baik dan tidak baik. Bagi manusia dua unsur yang berbeda itu (rwa bhineda) harus dilewati dengan akal kebijaksanaan (wiweka). Ketajaman berpikir, kematangan pertimbangan merupakan prasyarat untuk dapat melewati kedua unsur tersebut. Seringkali manusia terkecoh sesuatu yang baik/benar dianggap tidak baik/tidak benar, demikian sebaliknya. Bandingkan dalam dunia hukum, apabila mendapatkan kepastian hukum harus ada pembela di masing-masing pihak baik pihak yang melanggar hukum maupun pihak yang dirugikan. Ruang dan peluang kemenangan di masing-masing pihak menjadi rebutan pembela. Dan pada akhirnya harus ada penjatuhan keputusan Hakim sebagai pemegang palu keadilan.
Berbuat baik pada dasarnya adalah kebiasaan. Membiasakan diri dalam bingkai kebaikan menjadikan manusia sebagai makhluk yang memiliki martabat dan derajat yang utama di dunia ini, demikian dinyatakan dalam Sarasamuscaya seloka 2 dan 4. Berbuat baik sangat dekat dengan manusia yang bisa

3

menghormati dan menghargai semua ciptaan Tuhan. Hal ini bisa bercermin dari kemuliaan Prabhu Dasaratha yang dituangkan dalam Kekawin Ramayana : "Gunamanta Sang Dasarata. Wruh ida ring Weda, bhakti ring Dewa, tarmalupeng pitra puja, masih ta sireng swagotra kabeh (Sang Dasaratha yang bijaksana, tahu beliau tentang Weda, selalu memuja kepada Tuhan, tidak lupa memuja kepada Leluhur, kasih sayang terhadap keluarga). Nilai-nilai kebaikan yang ditanamkan dan diamalkan oleh Prabhu Dasaratha mengantarkan rakyatnya sebagai keluarga besar kerajaan menuju kepada kebahagiaan dan kesejahteraan. Banyak yang memuji kebaikan hati Prabhu Dasaratha, akan tetapi Prabhu Dasaratha tahu betul akan segala pujian jika tidak disadari akan membuat diri menjadi sombong. Segala pujian hanyalah bumbu kehidupan. Disatu sisi harus dihargai tetapi di sisi lain harus mawas diri sebagai batu ujian untuk melangkah selanjutnya. Beragam kebaikan dan keburukan selalu berkampanye baik di luar maupun dalam diri manusia. Masing-masing menawarkan sorga sesuai versinya. Sorga bagi kebaikan adalah kebahagiaan. Merasa bahagia apabila tidak ada di dunia ini yang menderita. Sedangkan sorga bagi keburukan adalah kesenangan. Merasa senang apabila banyak orang yang menderita.
Berbicara kebaikan dan keburukan pasti tidak terlepas dari penilaian. Kebaikan dan keburukan yang tampak tidak serta merta seiring dengan hati manusia. Banyak kamuplase dan perbuatan manipulatip yang harus dicermati, dipelajari sebagai bagian dari belenggu manusia yang menyelimuti hati manusia. Karena menyangkut hati manusia, hanya Tuhanlah yang jnana sakti (maha mengetahui) sehingga bisa

4

menilai atas perbuatan baik dan buruk manusia. Namun demikian manusia sebagai makhluk sosial individu, tetap diperlukan penilaian satu sama lain. Hal ini terbatas hanya koreksi atau nasehat agar satu sama lain bisa saling mengingatkan untuk kebaikan diri pribadi dan kebaikan bersama. Karena itu berbuat baik kurang baik hanya untuk kebaikan sendiri. Cobalah bercermin dari ajaran Buddha Mahayana yang sangat relevan dengan ajaran Hindu. Berbuat baiklah untuk semua orang. Tidak rela melihat penderitaan orang lain. Penderitaanmu adalah penderitaanku juga. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga. Sehidup sehati sudah terpatri dalam jiwa yang berhati mulia. Berbuat baik dapat diwujudkan dengan cara antara lain :
- menolong dengan semua makhluk hidup.
- kewajiban sembahyang secara rutin (nitya karma puja) dan secara insidentail (naimitika karma puja).
- memberikan sedekah berupa makanan atau dana punia.
- mematuhi aturan dan norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
- melaksanakan dasa karma patha yaitu tiga dari perbuatan (tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berzinah), empat dari perkataan ( tidak berkata jahat, tidak berkata kasar, tidak menfitnah, tidak berbohong), tiga dari pikiran (tidak iri, kasih sayang terhadap semua makhluk, percaya karmaphala)
- hidup saling menghormati dan menghargai.
- memelihara hubungan komunikasi dengan lingkungan.

5

Dari uraian tadi dapat disimpulkan bahwa berbuat baik ternyata tidak sesederhana yang kita anggap. Berbuat baik memerlukan pengabdian dan pengorbanan yang tulus ikhlas. Dalam berbuat baik banyak hal yang dapat kita pelajari mulai hal–hal yang kecil sampai hal-hal yang sifatnya mendasar. Karena itu berbuat baik adalah proses pembelajaran untuk meningkatkan kualitas diri pribadi. Memang berbuat baik saja belumlah cukup tanpa disempurnakan dengan kegiatan agama yang lain. Lembaga Parisada Hindu Dharma telah mensosialisasikan ajaran agama Hindu melalui : Dharma Wacana, Dharma Gita, Dharma Tula, Dharma Widya, Dharma Sadhana, Dharma Yatra kepada umat Hindu. Ajaran Catur Marga (Bhakti, Karma, Jnana, Raja) adalah pilihan sekaligus saling melengkapi satu sama lain. Plus minus keimanan seseorang harus dilihat dari semua Catur Marga yang dikerjakan manusia Hindu. Diharapkan manusia Hindu memiliki salah satu atau salah dua atau salah tiga atau keempat catur marga yang menjadi keunggulan. Sehingga kekurangan dapat disempurnakan dengan keunggulan yang dimiliki. Mulai dari keahlian kerja, keahlian bhakti, keahlian mantram, keahlian upacara/upakara, keahlian perbuatan, keahlian ilmu pengetahuan, keahlian yoga dan lain sebagainya. Karenanya agama Hindu sangat demokratis dalam mengakomodasi atas kemampuan umat manusia. Yakinlah bahwa berbuat baik adalah bagian dari Tuhan.
Satyam ewa Jayate Na anrtam
Hanya kebenaran yang menang bukan ketidak benaran.

Om Santi Santi Santi Om.


PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
KABUPATEN BEKASI











"Berbuat baik itu seperti apa ?
Berhakkah manusia menilai Iman (kebaikan/keburukan) seseorang ?"



RENUNGAN AGAMA HINDU
EDISI : 15/ III / 2009


Penanggung jawab : Pengurus PHDI Kabupaten Bekasi. Staf Redaksi : Drs. AAG. Raka Putra, I Putu Badung, Mpd, I B Adi Candra, S.Si, I Made Awanita, S.Ag. M.si, Ir. I Nyoman Mertasari, I Wayan Sudiarta. Tata Usaha & Distribusi : Ir. I Wayan Darmanta, IGB Virgo, I Wayan Brata, S.Ag.Alamat Redaksi : Perumh. Graha Prima L 16 No. 8 Mangunjaya Tambun Bekasi Jawa-Barat.Telp. 021 88336171




MAKNA
UPACARA POTONG GIGI

Om Swastyastu

Mengapa umat Hindu melaksanakan upacara Potong Gigi ? Penggalian fosil-fosil manusia purba yang diketemukan di Gilimanuk yang diperkirakan berumur sekitar 2000 tahun yang lalu, menunjukkan sudah dikenalnya sistim penguburan mayat yang terlipat dan pada gigi-gigi mereka menunjukkan tanda-tanda diasah. Dengan demikian maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa upacara potong gigi sudah dikenal di pulau Bali ini sejak 2000 tahun yang lalu. Menurut G.A. Wilken, seorang sarjana barat yang terkenal menyebutkan bahwa pada bangsa-bangsa prasejarah di daerah kepulauan Polinesia, Asia Tengah dan Asia Tenggara terdapat suatu kepercayaan pentingnya memotong bagian-bagian tertentu dari tubuh seperti : rambut, gigi, menusuk/melobangi telinga, Tatuage (memecah kulit) dan sebagainya sebagai upacara berkorban kepada nenek moyang. Hal ini dilakukan karena manusia pada dasarnya mempunyai hutang yang dikenal dengan istilah "Rna". Salah satunya Pitra Rna ialah hutang kepada Leluhur (Orang tua/Pitra). Untuk membayar hutang tersebut adalah dengan melaksanakan Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya. Antara Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya pada hakekatnya sama. Hal ini didasarkan pada keyakinan reinkarnasi/punarbhawa. Antara orang tua dan anak/putra sama-sama mengalami reinkarnasi/punarbhawa. Dengan kata lain melaksanakan upacara manusa yadnya seperti upacara potong gigi kepada anak/putra pada hakekatnya juga ditujukan kepada Leluhur. Begitu juga melaksanakan upacara pitra yadnya seperti ngaben dan nyekah kepada orang tua/leluhur bilamana lahir kembali (numitis) diharapkan menjadi anak yang suputra atau anak yang baik. Upacara potong gigi juga bisa disatukan pelaksanaannya dengan upacara menek daha
2

(Raja Singa/Raja Sewala) yaitu upacara meningkat dewasa, sehingga upacara berlangsung efektif dan efisien. Disamping itu upacara potong gigi bisa dilaksanakan secara massal untuk mengurangi biaya sekaligus membantu sesama umat yang tidak mampu. Pada umumnya masih satu lingkungan keluarga besar Banjar/adat serta satu pengempon Pura atau Pura Kahyangan Tiga atau masing-masing Kawitan Mrajan/Sanggah.

Beberapa sumber sastra tentang upacara potong gigi :

1. Petikan Puja Kalapati :

"Inilah yang disebut Puja Kalapati, cara orang berubah status (tingkat) seperti upacara potong rambut (mapetik), potong gigi (taring dan gigi seri), berubah status menjadi manusia sejati, menjadi manusia yang baik, berhenti berjasad bhuta kala pisaca raksasa atau lainnya, sebab sudah dipotong taringnya, giginya tidak lagi berbisa kotor ............... bila kamu masih berbadan kala bhuta pisaca itulah sungguh yang menyebabkan tidak bisa bertemu dengan wujud sesungguhnya dari Bapak Ibumu dahulu (Yang menciptakan kita) yang merupakan asal dan tujuan menjadi manusia ....................."

2. Ringkasan dari Kala Tattwa :

Bhatara Kala yang lahir dari Kama (Mani) Bhatara Siwa yang jatuh di samudra saat melihat betis Bhatari Uma yang tersingkap angin dan bersanggama. Bhatara Kala yang dipelihara oleh Sanghyang Tri Murthi suatu saat ingin mengetahui siapa ayah dan ibu beliau. Bhatara Kala mencari sampai ke sorga dengan mengalahkan para Dewa dan Raja-Raja yang dilewati. Akhirnya para Dewa minta bantuan Bhatara Siwa untuk menghadapinya hingga berperang. Melihat kesaktian Bhatara Kala sangat hebat maka Bhatara Siwa bertanya kepada Bhatara Kala apa sebenarnya yang menjadi tujuannya. Bhatara Kala menjawab ; ingin bertemu dengan ayah dan ibunya. Oleh karena itu Bhatara
3

Siwa meminta agar Bhatara Kala mau memotong taringnya sebab itulah taring itu dipotong barulah dia bisa melihat ibu dan Bapa. Permintaan Bhatara Siwa itu dipenuhi sehingga dipatahkanlah taringnya sendiri dan setelah itu barulah Bhatara Siwa memberi tahu bahwa ayahnya adalah beliau dan ibunya adalah Bhatari Uma.

3. Ringkasan ceritra Semaradahana :

Seorang raksasa bernama Nilarudraka telah menyerang sorga dan para Dewa melarikan diri dan meminta kepada Bhagawan Wrehaspati untuk meramalkan siapa sebenarnya yang bisa mengalahkan raksasa Nilarudraka. Dari ramalan terlihat bahwa yang mampu mengalahkan raksasa Nilarudraka adalah putranya Dewa Siwa yang berkepala gajah. Singkat ceritra para Dewa meminta Dewa Semara untuk membangunkan Bhatara Siwa yang sedang bersemadi di gunung Kailasa. Saat itu dipanah ulu hati Bhatara Siwa oleh Dewa Semara dan bangunlah Dewa Siwa. Melihat Dewa Semara sedang menaruh busur seketika itu Bhatara Siwa murka dari mata beliau keluar api menyorot membakar hangus tubuh Bhatara Semara. Para Dewapun takut dan menyatakan bahwa apa yang dilakukan Dewa Semara atas permintaan para Dewa. Kemudian mengabarkan bahwa sorga diserang diancam bahaya oleh raksasa Nilarudraka dan menurut ramalan hanya Bhatara Siwa yang bisa mengalahkan. Demikian pula Dewi Ratih takut dan sedih mohon agar Bhatara Semara dihidupkan kembali. Karena permintaan tidak dikabulkan dan demi kesetiaan Dewi Ratih kepada Bhatara Semara mohon agar dirinya juga ikut dibakar dan abunya disatukan. Permohonan Dewi Ratih dikabulkan maka Dewa Siwa memancarkan api dari matanya membakar hangus Dewi Ratih, sebab itu Dewa Kama (Semara) dan Dewi Ratih tidak berbadan lagi. Rasa rindu akibat panah asmara Dewa Kama (Semara) menyebabkan Bhatara Siwa menemui Dewi Uma, dan dalam waktu singkat Dewi Uma mengandung.

4

Pada saat Bhatara Siwa dan Dewi Uma berjalan-jalan di puncak gunung Kailasa berjumpa abu Dewa Kama (Semara) dan Dewi Ratih. Kemudian abunya ditebarkan di dunia agar kedua Dewa ini hidup kembali di dunia memasuki jiwa dan rasa dari semua makhluk di dunia. Dewa kama (Semara) masuk ke dalam lubuk hati setiap pria dan Dewi Ratih masuk ke lubuk hati setiap wanita sehingga terjadi jalinan kasih sayang dan kesetiaan kedua jenis ini. Singkat ceritra Dewi Uma waktu melahirkan semakin dekat maka para Dewa sepakat untuk melepas gajah Dewa Indra yang bernama gajah Airawata di taman dimana Dewi Uma sedang asyik memetik bunga. Dewi uma terkejut kemudian melahirkan Dewa Ganesha yang berkepala gajah. Begitu Dewa Ganesha lahir langsung diadu perang melawan raksasa Nilarudraka. Anehnya setiap kali Dewa Gana (Ganesha) kena pukul tubuhnya semakin besar dan dewasa. Untuk melawan raksasa Nilarudraka maka patahan taringnya dipergunakan sebagai senjata hingga raksasa Nilarudraka gugur.

Ketentuan upacara potong gigi :

1. Yang dipotong adalah gigi taring (2 buah) dan gigi seri ( 4 buah ). Jadi berjumlah enam (6) buah. (Puja Kalapati).

2. Tidak diperbolehkan potong gigi bagi seseorang yang belum dewasa/belum kotor kain. (Tutur Sanghyang Yama).

3. Kelahiran Ganesha akibat dari perbuatan Bhatara Semara, karena itu yang dipuja saat upacara potong gigi adalah Bhatara Semara Ratih (Puja Smara).

4. Gigi tajam dihubungkan dengan sifat Bhuta Kala Pisaca yang dihubungkan dengan Sad Ripu (enam musuh).


5

Tujuan Upacara Potong gigi :

1. Untuk menyucikan bagi orang yang sudah menginjak dewasa agar menjadi manusia yang baik.

2. Untuk meninggalkan sifat-sifat bhuta kala pisaca seperti ; Kama (keinginan), Krodha (kemarahan), Lobha (rakus/serakah), Moha (bingung), Mada (mabuk), Matsarya (iri hati).

3. Untuk membayar hutang orang tua terhadap putra-putrinya sebagai swadharma.

4. Apabila yang bersangkutan kelak setelah meninggal agar bisa bertemu dengan orang tuanya, Leluhurnya dan puncaknya dengan Tuhan (Sanghyang Widhi Wasa).


Kesimpulan.

Upacara potong gigi sebagai salah satu upacara manusa yadnya dilaksanakan atas dasar Rna/hutang yang dimiliki oleh manusia, salah satunya pitra rna yaitu berhutang kepada leluhur. Upacara potong gigi adalah kewajiban yang harus dilakukan umat Hindu sebagai lambang meniadakan sifat-sifat sad ripu yaitu enam musuh yang ada pada diri manusia antara lain : Kama (keinginan), Krodha (kemarahan), Lobha (rakus/serakah), Moha (bingung), Mada (mabuk), Matsarya (iri hati). Upacara potong gigi merupakan salah satu kewajiban orang tua untuk membayar hutang terhadap putra-putrinya, dimana putra-putrinya tidak lain adalah leluhurnya juga. (menurut konsep reinkarnasi/punarbhawa). Karena Melalui upacara potong gigi juga dimaksudkan untuk menyucikan yang bersangkutan agar bisa bertemu dengan orang tuanya, Leluhurnya dan puncaknya dengan Tuhan (Sanghyang Widhi Wasa).


Om Santi Santi Santi Om


PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
KABUPATEN BEKASI













MAKNA
UPACARA POTONG GIGI



RENUNGAN AGAMA HINDU
EDISI : 16/ IV / 2009


Penanggung jawab : Pengurus PHDI Kabupaten Bekasi. Staf Redaksi : Drs. AAG. Raka Putra, I Putu Badung, Mpd, I B Adi Candra, S.Si, I Made Awanita, S.Ag. M.si, Ir. I Nyoman Mertasari, I Wayan Sudiarta. Tata Usaha & Distribusi : Ir. I Wayan Darmanta, IGB Virgo, I Wayan Brata, S.Ag.Alamat Redaksi : Perumh. Graha Prima L 16 No. 8 Mangunjaya Tambun Bekasi Jawa-Barat.Telp. 021 88336171




Arti dan Makna Yuga

Om Swastyastu
1. Umum.

Yuga dapat diartikan jaman, masa dan jangka waktu. Yuga memberikan gambaran jaman, masa atau jangka waktu alam semesta beserta isinya. Tri Kona mengajarkan tentang perputaran kelahiran, kehidupan dan kematian yang juga dikenal dengan utpati, sthiti dan pralina. Adanya ini karena faktor punarbhawa yang merupakan buah dari karma yang disebut karmaphala. Sehingga semua makhluk di dunia ini memiliki usia yang berbeda-beda. Demikian juga benda mati mengalami perputaran dari proses ada atau tercipta, terpelihara dan akhirnya mengalami usang atau rusak dan hancur. Kemudian muncul pertanyaan dalam hati siapakah yang menciptakan semua ini ? Dari sudut Teologi Hindu mendefinisikan dengan seloka "janmadyasya yatah yang artinya (Tuhan ialah) dari mana mula (asal) semua ini."

2. Masa atau jangka Waktu Tuhan.

Dalam Bhagawadgita Adhyaya VIII. Seloka 18 dinyatakan bahwa satu hari Brahman sama dengan seribu yuga. Menurut Manu Smerti Bab I. Seloka 71, 72, 73 menyatakan bahwa satu Yuga sama dengan 12.000 tahun Dewa ( dua belas ribu tahun Dewa ).
2


Karena satu hari dewa sama dengan satu tahun manusia maka 12.000 tahun dewa sama dengan 4.380.000 tahun manusia ( empat juta tiga ratus delapan puluh ribu tahun manusia ). Itu berarti satu hari Brahman sama dengan seribu yuga atau 4.380.000.000 tahun manusia ( empat miliar tiga ratus delapan puluh juta tahun manusia ).
Manu Smrti I. 71 menyatakan :
4 Yuga = 12.000 tahun manusia = 1 Yuga Dewa
Manu Smrti I. 72 menyatakan :
12.000 Yuga Dewa = 1 hari Brahman
Manu Smrti I. 73 menyatakan :
1.000 Yuga Dewa = 1 hari Brahman
1 hari Dewa = 1 tahun manusia
Jika dihitung sebagai berikut :
- Kerta Yuga : 4.800 tahun Dewa X 365 hari
= 1.752.000 tahun manusia
- Treta Yuga : 3.600 tahun Dewa X 365 hari
= 1.314.000 tahun manusia
- Dwapara Yuga : 2.400 tahun Dewa X 365 hari = 876.000 tahun manusia
- Kali Yuga : 1.200 tahun Dewa X 365 hari
= 438.000 tahun manusia
Jumlah 1 Yuga : 4.380.000 tahun manusia.




















Bhagawadgita VIII. 18 menyatakan :
1 hari Brahman = 1.000 Yuga,
itu berarti 4.380.000 X 1.000 = 4.380.000.000 tahun manusia.



















3. Pemahaman Tuhan Yang tak terbatas dikaitkan dengan masa Pralaya.

3 Barangkali diantara kita sempat berpikir bahwa ketentuan jangka waktu hari Brahman akan mengkerdilkan pengertian Tuhan Yang tak terbatas. Akan tetapi sesungguhnya tidak demikian adanya, jika merujuk pada proses penciptaan sampai peleburan. Tuhan telah bersabda bahwa Tuhan menjadikan diriNya bersama ciptaanNya dan mengembalikan diriNya bersama ciptaanNya pula. Konsep ini dikenal dengan Nirgunam Brahman. Sedangkan Sagunam Brahman mempunyai pengertian tentang Tuhan yang dipersonifikasikan sehingga seakan-akan Tuhan berada jauh dari ciptaanNya dan umat manusia merasa perlu mendekatkan diri denganNya. Hal ini diwujudkan dengan berbagai proses upacara suci mulai dari menghadirkan atau menurunkan Tuhan agar berstana untuk menerima persembahan dan ditutup dengan rangkaian upacara Nyineb/Nyimpen. Kedua konsep Teologi Hindu ini akan memberikan jawaban semua pertanyaan tentang eksistensi Tuhan. Asalkan pemahaman ini tidak dicampur adukan dengan konsep Teologi dari keyakinan lain. Dengan kata lain, jika memahami Hindu harus berangkat dari agama Hindu atau bagi orang yang non Hindu memahami Hindu seakan-akan sebagai umat Hindu.



Dengan demikian tidak terjadi perdebatan khususnya yang beragama Hindu tidak bingung serta tidak ragu terhadap agamanya sendiri.

ind

44. Gambaran setiap Yuga.

Setiap Yuga mempunyai ciri atau gambaran umum tentang situasi dan kondisi alam termasuk manusia. Pada Krta Yuga digambarkan kehidupan sangat harmonis, bahagia dan sejahtera. Banyak lahir orang suci dan Maha Rsi yang mendalami ajaran Weda. Hubungan mikrokosmos dan makrokosmos berjalan dengan selaras, sama sekali tidak ada benturan satu sama lain. Jika diprosentase bisa dibilang 100 % melaksanakan kehidupan dengan baik dan benar. Memasuki Treta Yuga sebagai masa atau jaman yang mulai ada ketidak selarasan alam termasuk manusia, sehingga kalau diprosentase bisa dibilang ± 75 % melaksanakan kehidupan dengan baik dan benar. Kemudian memasuki Dwapara Yuga sebagai masa atau jaman antara yang baik dan tidak baik sama-sama kuat, sehingga kalau diprosentase bisa dibilang ± 50 % melaksanakan kehidupan dengan baik dan benar. Yuga yang terakhir adalah Kali Yuga sebagai masa atau jaman Kali yang menggambarkan ketidak harmonisan yang menonjol, sehingga kalau diprosentase
5

kehidupan yang baik dan benar tinggal ± 25 %. Lalu yang menjadi pertanyaan, apakah setelah Kali Yuga dunia akan kiamat ? Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Karena menyangkut kekuasaan Tuhan. Akan tetapi yang perlu dipahami bahwa kiamat atau pralaya merupakan otoritas Tuhan / Brahman / Sanghyang Widhi Wasa. Sedangkan perputaran Yuga sama halnya dengan perputaran Utpati/penciptaan, Stiti/pemeliharaan, Pralina/pelebur. Dengan demikian setelah Kali yuga berakhir akan kembali ke Kreta Yuga, dan seterusnya.


5. Arti dan Makna Yuga bagi Manusia.

Hidup ini tidak terlepas dari pengaruh Yuga terhadap mikrokosmos dan makrokosmos. Mungkin yang menjadi pertanyaan pada diri kita masing-masing, dimana posisi kita sekarang ini ? Jawabannya adalah manusia juga mempunyai Yuga masing-masing yang menyangkut kehidupannya baik secara pisik maupun mental atau kondisi jiwa. Karena itu Yuga memiliki pengertian yang sangat luas mencakup semua aspek kehidupan di dunia ini. Selanjutnya yang menjadi renungan justru tentang keberadaan manusia dibandingkan dengan Tuhan Yang maha Esa, manusia tidak berarti apa-apa walau berbagai karya canggih yang mampu diwujudkan. Karena itu manusia tidak boleh sombong melainkan rendah hati.
Om Santi Santi Santi Om.

PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
KABUPATEN BEKASI














" Arti dan Makna Yuga"





RENUNGAN AGAMA HINDU
EDISI : 17/ V / 2009


Penanggung jawab : Pengurus PHDI Kabupaten Bekasi. Staf Redaksi : Drs. AAG. Raka Putra, I Putu Badung, Mpd, I B Adi Candra, S.Si, I Made Awanita, S.Ag. M.si, Ir. I Nyoman Mertasari, I Wayan Sudiarta. Tata Usaha & Distribusi : Ir. I Wayan Darmanta, IGB Virgo, I Wayan Brata, S.Ag.Alamat Redaksi : Perumh. Graha Prima L 16 No. 8 Mangunjaya Tambun Bekasi Jawa-Barat.Telp. 021 88336171





KEGELAPAN
MENYEBABKAN KEHANCURAN

1. Umum. Menurut ajaran agama Hindu ada tujuh macam kegelapan pikiran dalam diri manusia yang dikenal dengan “Sapta Timira” yaitu Surupa (kegelapan karena ketampanan/kecantikan), Dhana (kegelapan karena kekayaan), Guna (kegelapan karena kepandaian), Kulina (kegelapan karena keturunan) Yowana (kegelapan karena keremajaan), Kasuran (kegelapan karena kemenangan), Sura (kegelapan karena minuman keras). Kegelapan atau kondisi mabuk yang dialami kecendrungannya merusak diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Di dalam ilmu kejiwaan kondisi kegelapan tersebut sangat mirip dengan “gila”. Apabila potensi gila ini tidak dikendalikan secara baik dan benar maka dipastikan tidak terarah menuju jurang kehancuran. Dalam Bhagawadgita II. 63 dinyatakan : “ Krodhad bhawati sammohah, sammohat smrtiwibhramah, smrtibhramsad buddhinaso, bhuddhinasat pranasyati”
yang artinya Dari kemarahan timbul kebingungan, dari kebingungan hilang ingatan, dari hilang ingatan menghancurkan pikiran, dari kehancuran pikiran ia musnah”.

2. Kondisi Pikiran Yang Diharapkan. Dalam ajaran agama Hindu pengendalian pikiran sangat menentukan kehidupan dan kondisi jiwa seseorang. Segala peluang dan potensi yang mengancam kestabilan pikiran berupa emosi, ego, loba menyebabkan kegelapan atau awidya tanpa batas. Semakin larut dalam kegelapan semakin menambah pekatnya kegelapan, ibarat melihat langit dari
2

kejauhan dikira langit tersebut rendah ternyata semakin mendekat semakin jauh. Dalam posisi seperti itu hendaknya obyek panca indria ditarik pada konsentrasi pengendalian pikiran yang stabil. Ibarat melihat bayangan sendiri akan mengikuti terus kemanapun dan dimanapun 7
seseorang berada. Pikiran dan pandangan tidak selalu melihat ke atas namun cobalah melihat ke bawah. Dengan demikian apa yang dialami sendiri, dialami juga oleh orang lain. Pahala, cobaan, kelahiran, kehidupan, sakit, sengsara, kematian hanyalah masalah waktu, tidak bisa dihindari. Suka duka lara pati merupakan perjalanan hidup manusia ibarat roda yang berputar dan berputar terus (Punarbhawa) sebelum mencapai alam Brahman yaitu Moksa. Perwujudan suka berupa sorga dan perwujudan duka lara berupa neraka adalah bagian yang tak terpisahkan dari karma masing-masing. Apa yang diperbuat dan tidak diperbuat, pahala dan hukuman selalu melekat dalam dirinya (Karma Wasana).
Dalam Bhagawadgita II. 58 dinyatakan : “Duhkheswana dwignamanah, sukhesuwigata spritah, witaraga bhaya krodhah, sthitadhir munir ucyate “
Yang artinya Seseorang yang tidak sedih dikala duka, tidak kegirangan dikala bahagia, bebas dari nafsu, takut dan kemarahan , Ia disebut orang suci.

3. Penyebab Kegelapan Pikiran. Kegelapan pikiran awal dari pintu masuk menuju pintu gerbang neraka. Penyebabnya antara lain ; Kama (nafsu), Krodha (kemarahan), Lobha (serakah). Sebagaimana dinyatakan dalam Bhagawadgita Adhyaya XVI seloka 21 : “Triwidham narakasye’dam, dwaram nasanam
3

atmanah, kamah krodhas tatha lobhas, tasmad etat trayam tyajet “ yang artinya Ini pintu gerbang ke neraka, jalan menuju jurang kehancuran diri, ada tiga yaitu Kama Krodha dan Lobha, Oleh karena itu ketiga-tiganya harus ditinggalkan “.

4. Kama (Nafsu)

Dalam Bhagawadgita adhyaya XVI seloka 10, 11 dan 12 dinyatakan :
”Kamam asritya duspuram, dambha mana madanwitah, mohad grihitwa sadgrahan, prawantante ‘suciwratah “

“Gintam aparimeyam ca, pralayantam upasritah, kamopabhoga parama, etawad iti niscitah “

“Asapasasatair baddhah, kama krodha parayanah, ihante kama bhogartham, anyayea ‘rthasamcayan”

yang artinya Dengan menyerahkan diri kepada Kama yang dikuasai oleh sifat berpura-pura, kebanggaan dan kesombongan (Ia) memiliki pandangan salah karena ilusi mereka berbuat hal-hal yang tidak suci”.

Keinginan yang tak habis-habisnya itu hanya berakhir pada kematian, menganggap pemenuhan keinginan sebagai tujuan utama, dengan berkeyakinan itulah semuanya ini dibelenggu oleh beratus-ratus ikatan harapan, menyerahkan diri kepada nafsu dan kemarahan yang mereka memiliki, mereka berusaha mengumpulkan kekayaan demi kepuasan birahi dengan jalan tidak dihalalkan”


4

5. Krodha (Kemarahan)

Dalam Bhagawdgita adhyaya XVI seloka 4 dinyatakan :
“Dambho darpo ‘bhimanas ca, krodhad parusyam ewa ca, ajnanam ca ‘abhijato ‘si, partha sampadam asurim “

yang artinya : Berpura-pura, angkuh, membanggakan diri, marah, kasar, bodoh, semuanya ini adalah harta dari dia yang dilahirkan dengan sifat-sifat raksasa, Oh Arjuna”

6. Lobha (serakah )

Dalam Bhagawadgita adhyaya XVIII seloka 27 dinyatakan :
“ragi karmaphalaprepsur, lubdho himsatmako ‘sucih, harsasokanwitah karta, rajasah parikirtitah “

yang artinya : Pelaku yang terbawa arus hawa nafsu, menginginkan pahala kerja, loba, berbahaya, tidak suci, mudah terpengaruh suka dan duka, ia dinamakan Rajasa “

Salah satu contoh seperti digambarkan dalam tutur tembang Jawa bagaimana proses seseorang menuju kematian sia-sia akibat gemar minum minuman keras.
Pertama, Eka padma sari artinya minum minuman keras seteguk dirasakan enak.

Kedua, Dwi amrtani artinya minum minuman keras dua teguk terasa seluruh badan.
Ketiga, Tri madyo bhusono artinya minum minuman keras tiga teguk buka baju separo karena kegerahan.

5


Keempat, Catur wanora rukam artinya minum minuman keras empat teguk mulai bertingkah seperti kera.
Kelima, Panca surapangga artinya minum minuman keras lima teguk gayanya mulai menantang.
Keenam, Sad guna wiweka artinya minum minuman keras enam teguk kebijaksanaan mulai hilang, tidak bisa membedakan baik dan buruk.
Ketujuh, Sapta kukila wama artinya minum minuman keras tujuh teguk mulutnya mulai ngoceh, ngawur.
Kedelapan, Asta lali raga artinya minum minuman keras delapan teguk badannya mulai sempoyongan dan lupa diri.
Kesembilan, Nawa gralupa artinya minum minuman keras sembilan teguk lupa ingatan.
Kesepuluh, Dasa yaksa mati artinya minum minuman keras sepuluh teguk jatuh seperti raksasa mati.

7. Kesimpulan.

Sebagai kesimpulan bahwa kegelapan (awidya) menyebabkan kehancuran diri sebagai akibat dari sifat-sifat (raksasa) manusia yang tidak terkendali. Karena itu diperlukan kekuatan spiritual berupa penerangan suci yang dapat dirasakan kemudian diamalkan dalam hidup ini, sehingga dapat terhindar dari neraka yang sangat mengerikan itu. Selamat Mengendalikan diri.
Dari kemarahan timbul kebingungan, dari kebingungan hilang ingatan, dari hilang ingatan menghancurkan pikiran, dari kehancuran pikiran ia musnah”. Bhagawadgita II. 63


PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
KABUPATEN BEKASI













KEGELAPAN
MENYEBABKAN KEHANCURAN



RENUNGAN AGAMA HINDU
EDISI : 18/ VI / 2009


Penanggung jawab : Pengurus PHDI Kabupaten Bekasi. Staf Redaksi : Drs. AAG. Raka Putra, I Putu Badung, Mpd, I B Adi Candra, S.Si, I Made Awanita, S.Ag. M.si, Ir. I Nyoman Mertasari, I Wayan Sudiarta. Tata Usaha & Distribusi : Ir. I Wayan Darmanta, IGB Virgo, I Wayan Brata, S.Ag.Alamat Redaksi : Perumh. Graha Prima L 16 No. 8 Mangunjaya Tambun Bekasi Jawa-Barat.Telp. 021 88336171



Arti dan Makna "DHARMA WACANA"

Om Swastyastu
1. Umum. Semua orang pasti mengenal dan sering mendengar kalimat :"Dharma Wacana". Yang artinya berbicara tentang kebenaran. Akan tetapi tidak semua orang memahami Dharma Wacana secara mendalam. Bagi sebagian orang mengganggap Dharma Wacana hanyalah sebatas wacana dan bersifat teori. Pada akhirnya barangkali kita mengatakan bahwa apa yang disampaikan pendharma wacana tidak sesuai dengan perilakunya sehari-hari.
Terlepas penilaian dari berbagai pihak, menyampaikan Dharma Wacana memang terkandung tanggung jawab moral karena yang disampaikan adalah sabda suci Tuhan Yang Maha Esa / Sanghyang Widhi Wasa yang dihimpun oleh para Maha Rsi dalam kitab suci Weda. Jika ini dijadikan landasan maka siapapun yang menyampaikan sabda suci Tuhan adalah seseorang yang diberi mandat atau juru bicaranya Sanghyang Widhi Wasa. Keterbatasan dalam Dharma wacana hanyalah bagian dari manusia yang memang tidak ada yang sempurna. Lebih baik mengutamakan azas manfaat dan dapat mengambil hikmah dari Dharma Wacana yang disampaikan. Dengan demikian terhindar dari prasangka dan dugaan yang mengotori pikiran. Semestinya Dharma Wacana dijadikan sebagai energi positip untuk meningkatkan kepekaan panca indra agar belajar mendengar (Sruti) dan mengingat (Smerti) serta belajar berbicara (wacana).
2

Dalam kitab suci Bhagawadgita Adhyaya IV seloka 26 dinyatakan : "Srotradini'driyanyanye, samyamagnisu juhwati, Sabdadinwisayan anye, indriyagnisu juhwati"
Yang artinya "Ada yadnya dengan pengendalian pada api pendengaran dan panca indra lainnya, yang lain mempersembahkan kurbannya dengan mengorbankan suara, obyek panca indra dan yang lainnya api nafsu keinginan"
Masih terkait dengan pengorbanan ini, lebih lanjut Bhagawadgita Adhyaya IV seloka 30 dinyatakan : "Apare niyata harah, pranan pranesu juhwati, sarwa 'py ete yajnawido, yajna ksapita kalmasah" yang artinya Lainnya ada yang mengendalikan makanan, mempersembahkan prana dalam prana, semua mereka ini yang mengetahui yadnya itu, dengan yadnya mereka melenyapkan dosa mereka".
Seloka tadi bermakna bahwa mendengar, berbicara/ bersuara tentang sabda suci Tuhan adalah bagian dari yadnya atau pengorbanan suci. Itu berarti dalam pengorbanan suci melalui mendengar, berbicara dan mengingat adalah salah satu bentuk tapa yang dapat membakar dan memusnahkan papa (kotoran) pada diri manusia.

2. Maksud dan Tujuan Dharma Wacana.

a. Dharma Wacana diadakan dengan maksud mensosialisasikan dan memberikan informasi keagamaan Hindu baik Tattwa agama Hindu, Tata Susila agama Hindu maupun Upacara agama Hindu.
3


b. Tujuan dari Dharma Wacana adalah untuk meningkatkan pemahaman umat Hindu terhadap ajaran agama Hindu sehingga kesadaran beragama semakin meningkat serta membiasakan panca indra memberi atau menerima yang baik dan benar dalam rangka mencapai tujuan agama Hindu sekaligus tujuan hidup umat manusia yaitu "Moksartham Jagadhita ya ca iti Dharmah" ( Kebahagiaan di dunia dan di akhirat berdasarkan ajaran Dharma ).

3. Manfaat Dharma Wacana.

Segala sesuatu kegiatan pasti ada manfaatnya, tergantung cara kita menyiasati dan dapat mengambil hikmah dari pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain. Demikian juga setiap kali menyampaikan Dharma Wacana sama besar manfaatnya dengan mendengarkan Dharma Wacana. Oleh karena itu kita tidak apriori apalagi alergi dengan Dharma Wacana, sekalipun dirasa pahit. Dharma Wacana seyogyanya diikuti dengan serius dan konsentrasi serta hindarkan dari wacana yang mengarah porno atau gaduh, khususnya saat Dharma Wacana dalam rangkaian persembahyangan bersama. Ada beberapa manfaat Dharma Wacana baik bagi yang menyampaikan maupun yang mendengarkan antara lain :

a. Menambah wawasan dan pengalaman tentang pemahaman ajaran agama Hindu seiring dengan perkembangan jaman, ilmu pengetahuan dan tekhnologi.
4

b. Membentuk watak kepribadian yang arif dan bijaksana serta belajar menghormati dan menghargai orang lain sebagaimana menghormati dan menghargai diri sendiri.

c. Mensterilisasi panca indra dari kotoran ( mala ) sehingga mempermudah mendekatkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa / Sanghyang Widhi Wasa.

d. Memelihara dan memacu semangat hidup untuk melaksanakan Dharma dan Karma.

e. Menyatukan pemahaman tentang ajaran agama Hindu sehingga terhindar dari pemahaman yang keliru atau salah dan berakibat pada konflik sosial dalam kehidupan keagamaan Hindu.

f. Menyebar luaskan ajaran agama Hindu kepada umat manusia untuk memelihara ketertiban, ketenteraman, kedamaian, keamanan, kebahagiaan dan kesejahteraan dunia beserta alam semesta.
Dalam Yajur Weda XXVI. 2 dinyatakan : " Yathemam wacam kalyanim awadani janebhyah, brahma rajanyabhyam sudraya caryaya ca swaya caranaya ca" yang artinya : Hendaknya disampaikan sabda suci ini kepada seluruh umat manusia, cendekiawan-rohaniwan, pemimpin pemerintahan / masyarakat. Para pedagang, petani dan nelayan serta para buruh, kepada orang-orangKU dan orang-orang asing sekalipun"
5


4. Kesimpulan dan Saran.

a. Dharma Wacana sebagai salah satu sarana dan bentuk media komunikasi antar umat Hindu khususnya berkaitan dengan ajaran agama Hindu yang meliputi ; Tattwa, Susila dan Upacara.

b. Dharma Wacana hendaknya menjadi mode kebutuhan sebagai salah satu bentuk Tapa dan Yadnya untuk menyucikan diri.

c. Dharma Wacana diadakan untuk menjaga keseimbangan antara yang memberi dan menerima.

Om Santi Santi Santi Om




Mendengar (Sruti), berbicara (Wacana) dan mengingat (Smrti) sabda suci Tuhan adalah salah satu bentuk tapa yang dapat membakar dan memusnahkan papa (kotoran) pada diri manusia.




PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
KABUPATEN BEKASI














"Arti dan Makna :
DHARMA WACANA"





RENUNGAN AGAMA HINDU
EDISI : 19 / VII / 2009


Penanggung jawab : Pengurus PHDI Kabupaten Bekasi. Staf Redaksi : Drs. AAG. Raka Putra, I Putu Badung, Mpd, I B Adi Candra, S.Si, I Made Awanita, S.Ag. M.si, Ir. I Nyoman Mertasari, I Wayan Sudiarta. Tata Usaha & Distribusi : Ir. I Wayan Darmanta, IGB Virgo, I Wayan Brata, S.Ag.Alamat Redaksi : Perumh. Graha Prima L 16 No. 8 Mangunjaya Tambun Bekasi Jawa-Barat.Telp. 021 88336171





MENYENANGI PEKERJAAN

Om Swastyastu.

Sebagian besar orang mempunyai pekerjaan. Entah pekerjaan itu menyenangkan atau sebaliknya. Di satu sisi seseorang dihadapkan pada sulitnya mencari pekerjaan. Di sisi lain seseorang yang sudah punya pekerjaan mengeluh akan kecilnya penghasilan. Akhirnya pekerjaan sebagai mata pencaharian hanyalah keterpaksaan keadaan yang dihadapi. Sehingga timbul rasa bosan, tetapi enggan untuk berhenti. Inilah potret bagaimana sebuah pekerjaan tidak disenangi membawa dampak tekanan batin. Orang bijak mengatakan "Cintailah pekerjaan anda dan suatu saat akan dicintai pekerjaan anda." Jika ini dipahami dan dilaksanakan dengan tulus maka pekerjaan itu akan mengejar anda dimanapun anda berada.
Lalu bagaimana ajaran agama Hindu memberikan inspirasi dan motivasi kepada umat manusia agar menyenangi akan pekerjaannya ? Menurut ajaran agama Hindu bahwa menyenangi pekerjaan sendiri adalah pahala. Pekerjaan itu dapat dirasakan melalui hati serta jiwa kita sehingga menerima kepuasan dan kebahagiaan. Melaksanakan pekerjaan sendiri dikenal dengan istilah Swadharma. Bhagawadgita XVIII seloka 47 menyatakan :
"Sriyam swadharmo wigunah, paradharmat swanusthitat, swabhawaniyatam karma, kurwan na 'pnoti kilbisam"

Lebih mulia (melakukan) kewajiban sendiri walau tak sempurna dari pada melakukan tugas kewajiban orang lain kendatipun dengan
2

sempurna, sesungguhnya bila ia melaksanakan tugas kewajibannya sendiri sesuai dengan sifatnya, ia tidak berdosa"
Melaksanakan pekerjaan dengan tulus sebagai bagian dari Karma, tidak perlu sangsi atau ragu akan pahala. Karena pahala menyertai karma tersebut. Sudah merupakan hukum Tuhan yang hakiki, ada sebab ada pula akibatnya. Pekerjaan harus disikapi dengan prinsip bahwa tidak ada di dunia ini yang tidak terikat dengan kerja.
Tugas manusia adalah bagaimana keterikatan akan kerja tidak membebani diri sendiri dengan mengharapkan balasan atau pamrih. Pekerjaan dirasa mudah apabila pekerjaan dipandang sebagai anugrah bukan hasil dari pekerjaan itu yang menjadi tujuan atau motif. Melainkan kesempatan mengabdi atas pekerjaan yang disenangi. Untuk memahami satu pekerjaan saja butuh waktu dan proses yang panjang melalui perenungan yang mendalam dan pengalaman hidup. Karenanya menekuni satu pekerjaan harus disertai dengan hasrat ingin tahu secara terus menerus. Sehingga timbul rasa penasaran yang merupakan faktor pendorong untuk mencari tahu. Mengelola pekerjaan dengan baik supaya berkembang diperlukan inovasi, kreasi, seni dan keindahan yang dapat dinikmati oleh semua orang. Pekerjaan menjadi menyenangkan tatkala adanya semangat sehingga menimbulkan kepuasan batin. Sebaliknya pekerjaan yang tidak menyenangkan menyebabkan tekanan batin dan hal ini sangat berbahaya bagi kesehatan mental. Antara kesehatan mental dan pekerjaan haruslah selaras dan harmonis. Adanya kesamaan tujuan yang ingin dicapai merupakan langkah awal untuk melakukan
3

sebuah pekerjaan. Dengan kata lain adanya keselarasan antara pikiran, ide, gagasan dengan tujuan yang hendak dicapai. Bhagawadgita mengajarkan tentang pekerjaan sesuai dengan bakat dan kemampuan serta bekerja sesuai yang telah ditentukan. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan profesi merupakan kehendak dari semua keinginan manusia walaupun profesi seseorang tidak mesti berdasarkan turun temurun dari orang tua, akan tetapi toh pada akhirnya seseorang itu yang menentukan pilihan profesinya, sehingga bisa saja profesinya berbeda dengan profesi orang tua. Selanjutnya seberapa besar tingkat kualitas dan kuantitas yang dapat diwujudkan melalui pekerjaannya masing-masing. Karenanya jika dipadukan menjadi sebuah ikatan kerja sama yang saling melengkapi dalam sebuah sistem network.
Untuk menilai sebuah pekerjaan diperlukan parameter atau tolok ukur antara lain : ikhlas, tuntas, dan manfaat. Ikhlas : merupakan ekspresi ketulusan hati yang paling dalam sehingga pekerjaan yang dilaksanakan menyenangkan.
Sarasamuscaya seloka 17 menyatakan :
"Yatha yatha hi purusah kalyana ramate manah, tatha tathasya siddhyanti sarwwartha natra samsayah"
Terjemahan bebas : "Segala orang baik golongan rendah, menengah atau tinggi selama kerja baik menjadi kesenangan hatinya, niscaya tercapailah segala yang diusahakan memperolehnya".
Sarasamuscaya seloka 18 menyatakan :
"Dharmah sada hitah purusam dharmas caiwasrayah satam, dharmallokas trayastata prawrttah sacaracarah"
4

Terjemahan bebas :
"Dan keutamaan dharma itu sesungguhnya merupakan sumber datangnya kebahagiaan bagi yang melaksanakannya, lagipula dharma itu merupakan perlindungan orang yang berilmu, tegasnya hanya dharma yang dapat melebur dosa tri loka atau jagad tiga itu"

Tuntas : maksudnya pekerjaan dapat diselesaikan dengan menyeluruh tanpa ada yang ketinggalan atau tunggakan pekerjaan.

Sarasamuscaya seloka 269 menyatakan :
"Awadhyam diwasam kuryad dharmatah kamator 'thatah, gate hi diwase tasminstadunam tasya jiwitam"
Terjemahan bebas :
"Janganlah biarkan waktu itu berlalu tanpa guna, berilah kesempatan agar benar-benar mendatangkan faedah waktu itu, barangkali dapat kiranya waktu itu dipergunakan untuk menyelesaikan perbuatan dalam bidang dharma, artha dan kama. Sebab tak urung akan berakhirnya hidup ini pada suatu waktu, oleh karenanya pergunakanlah baik-baik waktu hidup itu, jangan hendaknya membuang-buang atau menunda-nunda waktu"

Manfaat : maksudnya pekerjaan mulai dari persiapan, pelaksanaan dan hasil karya dapat bermanfaat sehingga memiliki arti dan nilai bagi kehidupan manusia beserta alam semesta.

Sarasamuscaya seloka 15 menyatakan :
"Yatnah kamarthamoksanam krtopi hi wi padyate, dharmmaya punararambhah sankalpopi na nisphalah"
5

Terjemahan bebas :
"Usaha tekun pada kerja mencari kama, artha dan moksa dapat terjadi ada kalanya tidak berhasil. Akan tetapi usaha tekun pada pelaksanaan dharma tak tersangsikan lagi, pasti berhasil sekalipun baru hanya dalam angan-angan saja"

Dari uraian tadi dapat disimpulkan bahwa melaksanakan suatu pekerjaan sangat menyenangkan manakala pekerjaan itu sebagai anugrah dan panggilan hati untuk mengabdi kepada dharma. Bagi yang belum bisa memahami ini cobalah dilakukan perenungan yang mendalam untuk mendapatkan sebuah pemahaman yang sesuai dengan nilai-nilai agama. Sebuah pekerjaan yang dilandasi dengan semangat, kemauan, kesabaran akan dapat mewujudkan bentuk pekerjaan yang bermutu.



"Cintailah pekerjaan anda dan suatu saat akan dicintai pekerjaan anda." Jika ini dipahami dan dilaksanakan dengan tulus maka pekerjaan itu akan mengejar anda dimanapun anda berada”.


Om Santi Santi Santi Om




PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
KABUPATEN BEKASI














MENYENANGI PEKERJAAN



RENUNGAN AGAMA HINDU
EDISI : 20/ VIII / 2009


Penanggung jawab : Pengurus PHDI Kabupaten Bekasi. Staf Redaksi : Drs. AAG. Raka Putra, I Putu Badung, Mpd, I B Adi Candra, S.Si, I Made Awanita, S.Ag. M.si, Ir. I Nyoman Mertasari, I Wayan Sudiarta. Tata Usaha & Distribusi : Ir. I Wayan Darmanta, IGB Virgo, I Wayan Brata, S.Ag.Alamat Redaksi : Perumh. Graha Prima L 16 No. 8 Mangunjaya Tambun Bekasi Jawa-Barat.Telp. 021 88336171





PUASA Yang Enjoy

Om Swastyastu

1. Umum. Puasa merupakan kegiatan yang wajib dilakukan oleh umat beragama. Puasa dalam bahasa Sanskerta dikenal dengan “Upawasa” yang artinya sama dengan pengertian secara umum yakni mengendalikan hawa nafsu dalam wujud tidak makan dan minum. Puasa dalam ajaran agama Hindu merupakan bagian dari pelaksanaan Tapa Brata yakni pengendalian diri. Mengendalikan diri dalam wujud tidak makan dan minum merupakan latihan rohani atau bathin agar mendapatkan kesadaran terhadap jati diri hidup sebagai manusia. Umat manusia dituntun melalui ketiadaan makan dan minum kemudian diharapkan muncul refleksi diri yang menjelma dalam sikap dan prilaku beragama dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu keterikatan manusia yakni makanan dan minuman untuk kelangsungan hidupnya di dunia ini. Karenanya manusia senantiasa mensyukuri atas makanan dan minuman yang telah diberikan oleh Tuhan yang Maha Esa, Sanghyang Widhi Wasa. Salah satu cara manusia beragama mendapatkan makanan dan minuman adalah melalui doa atau mantram. Akan tetapi yang pertama dilakukan justru doa atau mantram untuk mendapatkan air dengan memohon hujan kemudian air hujan membasahi tanah dan bumi (dalam filosofi bertemunya Purusa Pradhana) sehingga adanya makanan dan minuman yang memberikan kehidupan mulai Eka Pramana yang terdiri dari tumbuh-tumbuhan, Dwi pramana yang terdiri dari semua binatang, Tri pramana yakni manusia.

2. Waktu Berpuasa.

a. Berpuasa pada waktu Hari-hari suci keagamaan. Berpuasa sangat baik dilakukan pada waktu hari-hari suci keagamaan Hindu
2


antara lain : Purnama, Tilem, Nyepi, Siwaratri, Galungan, Kuningan, Saraswati, Pagerwesi. Diantara hari suci keagamaan Hindu tersebut waktu berpuasa paling dominan dilakukan pada Hari suci yang terkait dengan Tilem, Nyepi, Siwaratri.

b. Saat sedang sakit. Walaupun sedikit terpaksa karena anjuran petugas kesehatan, namun waktunya dibatasi. Contoh : sebelum chek up darah dianjurkan berpuasa sebelumnya.

c. Sewaktu-waktu. Berpuasa yang sifatnya sewaktu-waktu, karena keinginan individu yang bersifat pribadi sebagai suatu keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa.


3. Puasa yang enjoy.

Agama Hindu mengajarkan berpuasa kepada semua umat manusia agar melebur perbuatan tidak baik menjadi baik sehingga memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan. Berpuasa tidak semata-mata untuk dirinya saja, melainkan untuk semua ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, Sanghyang Widhi Wasa. Bagaimana puasa yang enjoy minimal sebagai berikut :

a. Diawali dengan tekad yang kuat.
b. Berpikiran Ikhlas.
c. Tidak mempengaruhi kegiatan sehari-hari.
d. Jujur dalam perkataan.
e. Sabar dalam hati.
f. Tidak pamer.
g. Hindari mencemooh orang yang tidak berpuasa.
h. Tidak meminta supaya dihormati puasanya.
i. Tidak tersinggung atau marah bila melihat orang makan / minum sekalipun di depan mata.
j. Tidak menganggap orang yang tidak puasa sebagai penjahat atau berbuat kriminal.
3


k. Tidak egois dalam kepentingan pribadi.
l. Lebih banyak mendengarkan.
m. Tekun dan konsentrasi pada kegiatan yang sedang dilaksanakan.
n. Tidak sombong terhadap kemampuan yang dimiliki.
o. Fokus pada tujuan yang hendak dicapai.
p. Bebaskan diri dari keraguan terhadap ajaran puasa.
q. Lakukan dengan senang hati dan gembira
r. Tidak mengenal istilah batal, tetapi nilai puasanya.


4. Hakekat Berpuasa.

Berpuasa pada hakekatnya mengekang hawa nafsu terutama ketiadaan makan dan minum dalam waktu-waktu yang ditentukan ajaran agama dan niat individu. Yang menjadi inti dari pelaksanaan puasa adalah sejauh mana tingkat mengendalikan diri terhadap dorongan nafsu yang bersifat internal. Karena dorongan nafsu yang tak tampak datangnya dari dalam diri manusia. Tugas manusia bagaimana kendala dalam diri menjadi peluang untuk meningkatkan kualitas pribadinya. Artinya nafsu dirubah menjadi tenaga untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan. Nafsu tidak bisa dilenyapkan, melainkan senantiasa ada dan mengintai setiap kelengahan manusia. Disinilah peran akal untuk mengupayakan semaksimal mungkin agar nafsu dalam diri tidak mendikte manusia menuju kehancuran. Jika dirunut maka muara dari adanya nafsu dalam diri manusia tidak lain karena pikiran manusia yang terbelenggu oleh kegelapan (awidya). Wajarlah jika kemudian pikiran senantiasa disucikan dengan Satya yakni kebenaran, kejujuran. Dari pikiranlah semua akan terwujud, entah baik/buruk /benar/salah /bahagia/menderita. Dengan berpuasa berarti sudah maju satu langkah sebelum melangkah ke langkah berikutnya. Berpuasa saja memang tidak
4

serta merta menjamin seseorang langsung masuk sorga. Berpuasa sebagai pengamalan yang melandasi fondasi mental seseorang ke jenjang pengamalan yang lebih tinggi. Walaupun berpuasa hanya dasar-dasar pembentukan karakter, akan tetapi tidak semua orang yang mampu melaksanakannya secara utuh. Berpuasa kelihatannya sepele, tetapi akan menjadi masalah besar jika berpuasa saja seseorang belum mampu mengamalkannya. Apalagi pengamalan yang lebih tinggi dari sekadar berpuasa yakni perilaku moral dan mentalitas keber-agama-an yang terpancar dalam komunitas yang majemuk dan universal.


5. Puasa sebuah fenomena eksklusiv

Di lain pihak puasa telah menjadi icon dan simbul identitas yang mendorong seseorang untuk menghakimi seakan malaikat yang menvonis dosa bagi orang yang tidak melaksanakan puasa. Beberapa tindakan tidak simpatik mengemuka seperti pengerusakan, penganiayaan dsb adalah contoh kecil dari betapa luar biasanya puasa sebagai dalih pembenaran untuk mencapai tujuan. Kemudian tidak jarang meminta supaya dihormati atau dihargai dengan juga melaksanakan puasa. Bahkan bagi yang tidak berpuasa terpaksa harus ngumpet makan dan minum, karena takut menyinggung perasaan atau dicap tidak menghormati atau tidak menghargai orang yang berpuasa. Rekayasa dan pencitraan bahwa akulah yang paling terbaik dan Tuhan hanya ada dalam dirinya saja (monopoli Tuhan Yang Maha Esa) sudah mengingkari keberadaan Tuhan berada dimana-mana (Wibhu Sakti). Barangkali sulit mencarikan padanan kata selain egois, monopoli Tuhan dan kebenaran, menganggap Tuhan hanya miliknya. Benar untuk mereka, sesat bagi yang lain.
Tuhan untuk mereka, setan bagi yang lain. Kultur masyarakat seperti ini seolah membeku dan dipertahankan di tengah perkembangan jaman
5

yang sarat dengan perubahan. Apakah orang yang tidak puasa dikatagorikan penjahat atau berbuat kriminal ? Puasa kok bikin susah orang lain ! Sampai kapan seperti ini ? Cape deh !

6. Kesimpulan.

Berpuasa merupakan latihan kerohanian dalam membentuk sikap pribadi dan karakter seseorang yang menjelma dalam tingkah laku sehari-hari. Berpuasa bukanlah tujuan melainkan cara atau metode yang diwajibkan ajaran agama. Dengan berpuasa seseorang diharapkan mengevaluasi dirinya sebelum mengkritisi orang lain. Melalui berpuasa akan melatih kepekaan rasa sosial seseorang sehingga menjadi orang yang bisa menerima orang lain sebagai sesama umat Tuhan, sesama manusia, sesama bangsa, sesama saudara, sesama teman. Sebagai orang beragama berkeyakinan bahwa berpuasa dapat melebur dosa-dosa yang telah diperbuat sebelumnya. Disinilah perlunya keinsyafan dan rasa penyesalan yang mendalam terhadap dosa yang pernah dilakukan dengan cara berpuasa yakni menahan lapar dan haus dalam waktu tertentu. Berpuasa merupakan komitmen untuk menerima sebagian sangsi dan hukuman yang harus dirasakan. Namun keputusan seberapa besar dosa seseorang dapat dilebur (100% atau 99,9% atau 99,8% atau .............. dst) tergantung dari Tuhan dalam kekuasaanya sebagai Dewa Yama. Jadi kuantitas dan kualitas puasa seseorang akan menentukan seberapa besar dosa seseorang dapat dilebur oleh Tuhan sebagai Penilai. Demikian juga upacara dan upakara yang kita lakukan baik Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya, Rsi Yadnya maupun Bhuta Yadnya. Siapapun tentu harapannya 100%. Semoga puasa dan yadnya menjadikan seseorang termotivasi untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas pengamalan ajaran Tapa Brata dan Yadnya.

Om Santi Santi Santi Om

PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
KABUPATEN BEKASI














PUASA YANG ENJOY




RENUNGAN AGAMA HINDU
EDISI : 21/ IX / 2009


Penanggung jawab : Pengurus PHDI Kabupaten Bekasi. Staf Redaksi : Drs. AAG. Raka Putra, I Putu Badung, Mpd, I B Adi Candra, S.Si, I Made Awanita, S.Ag. M.si, Ir. I Nyoman Mertasari, I Wayan Sudiarta. Tata Usaha & Distribusi : Ir. I Wayan Darmanta, IGB Virgo, I Wayan Brata, S.Ag.Alamat Redaksi : Perumh. Graha Prima L 16 No. 8 Mangunjaya Tambun Bekasi Jawa-Barat.Telp. 021 88336171




WACIKA PARISUDDHA
(PERKATAAN YANG BAIK DAN BENAR)

1. Umum. Manusia dalam hidupnya menggunakan tiga unsur dalam dirinya yaitu perbuatan, perkataan dan pikiran. Dalam ajaran agama Hindu ketiga unsur ini senantiasa dibersihkan dan disucikan yang dikenal dengan Tri kaya parisudha yakni kayika, wacika dan manacika. Wacika parisuddha sebagai salah satu unsur Tri kaya parisudha mempunyai peran dan fungsi dalam hubungan komunikasi sosial antara sesama manusia atau sesama ciptaan Tuhan dan hubungan komunikasi spiritual antara manusia dengan Tuhan. Wacika parisuddha yang berarti perkataan yang baik dan benar yang harus diamalkan oleh umat manusia atau umat Hindu dalam kehidupan sehari-hari. Melalui perkataan yang baik dan benar diharapkan terjalin hubungan yang harmonis baik horizontal maupun vertikal. Dengan hubungan yang harmonis antar semua ciptaan Tuhan akan mempercepat tercapainya tujuan lahiriah maupun rohaniah. Sebaliknya buruknya hubungan antar ciptaan Tuhan menyebabkan terhambatnya proses mencapai tujuan. Hampir setiap hari orang berkata-kata atau bercakap-cakap untuk menyampaikan isi hatinya kepada orang lain. Pengetahuan kita sebagian besar diperoleh melalui kata-kata baik secara lisan maupun secara tertulis. Dengan demikian kata-kata itu mempunyai kedudukan dan peranan yang amat penting dalam hidup kita. Ia dapat mendatangkan kebahagiaan untuk diri sendiri atau menarik simpati orang lain. Ia dapat merupakan tirtha amerta yang sejuk nyaman, yang menghibur dan menghidupkan semangat orang. Tetapi ia dapat juga menjadi racun yang menghancurkan, merusak jiwa dan raga manusia. Perkataan yang bersumber dari lidah bagaikan alat pisau yang dapat bermanfaat dan sebaiknya dapat mengakibatkan malapetaka bagi orang lain. Perkataan yang sensitif sangat melekat dengan hati seseorang, karena itu
2

perkataan bisa menarik simpati dan sebaliknya dapat menyakiti hati seseorang.
Sarasamuscaya seloka 120 dinyatakan : Waksayaka wadanannispatanti yairahatah socati ratryahani, parasya wa marmasute patanti tasmaddhiro nawasrjet paresu” (Ikang ujar ahala tan pahilawan hru, songkabnya sakatempuhan denya juga alara, resep ri hati, tatan keneng pangan turu ring rahina wengi ikang wwang denya, matangnya tan inujaraken ika de sang dhira purusa, sang ahning maneb manahnira”)
Yang artinya : Perkataan yang mengandung maksud jahat tiada beda dengan anak panah yang dilepaskan. Setiap yang ditempuhnya merasa sakit. Perkataan itu meresap ke dalam hati, sehingga menyebabkan orang tidak bisa makan dan tidur pada siang dan malam hari. Oleh sebab itu perkataan yang demikian tidak diucapkan oleh orang budiman dan wira perkasa, pun pula oleh orang yang suci bersih hatinya. Karena itu Sarasamuscaya seloka 75 dinyatakan : ”Asatpralapam parusyam, paisunyama nrtam tahta, Catwari waca rajendra, na jalpennanucintayet (Nyang tanpa prawrttyaning wak, pat kwehnya, pratyekanya ujar ahala, ujar apregas ujar pisuna, ujar mitya, nahan tangpat sinanggahananing wak, tan ujarakena, tan angen-angenan kojarannya)”
Yang artinya : Inilah yang tidak patut timbul dari kata-kata, empat banyaknya yaitu : perkataan jahat, perkataan kasar, perkataan menfitnah, perkataan bohong. Inilah keempatnya harus disingkirkan dari perkataan, jangan diucapkan, jangan dipikir-pikir akan diucapkannya.
Dalam Selokantara seloka 3 dinyatakan :
Nasti satyat paro dharmo, nanrtat patakam param,
Triloke ca hi dharma syat, tasmat satyam na lopayet
Yang artinya :
Tidak ada dharma yang lebih tinggi dari satya, tidak ada dosa yang lebih rendah dari dusta, dharma harus dilaksanakan di ketiga dunia ini dan satya harus tidak dilanggar.

3

2. Nilai perkataan dan dampaknya.
Tinggi rendahnya nilai perkataan ditentukan oleh rasa bahasa dengan menyesuaikan ketupat (keadaan, waktu, tempat). Dalam bahasa Bali ada istilah ”sor singgih basa” yang terdiri dari bahasa halus, bahasa madya dan bahasa kebanyakan/umum. Terlepas dari tingkatan bahasa yang mempengaruhi perkataan seseorang ketika berbicara, ternyata dalam hal berkata-kata sangat perlu untuk dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena dari perkataan akan mencerminkan karakter kita masing-masing. Dalam Manu Smrti IV. 256 dinyatakan : ”Wacyartha niyatah sarwe wanmula wagwinih srtah, tam tu yah stenayedwacam sa sarwaste yakrnnarah” Yang artinya : Segala sesuatu dikuasai oleh perkataan. Perkataanlah akar dan asal segala sesuatu. Orang tidak jujur dalam kata-kata sesungguhnya tidak jujur dalam segala-galanya.
Tetapi patut disadari bahwa kultur yang berbeda juga memiliki ciri khas bahasa yang berbeda-beda serta makna yang berbeda pula. Contoh : ada beberapa bahasa suatu daerah A yang memiliki intonasi, irama, volume suara tertentu ketika diterapkan di daerah B, C dst akan memiliki arti dan makna rasa bahasa yang berbeda pula. Di sini perlu saling memahami kultur daerah asal khususnya rasa bahasa masing-masing supaya tidak terjadi kesalah pahaman. Sebelum berbicara perlu dipikirkan terlebih dahulu agar tidak terjadi hal-hal yang menyebabkan ketersinggungan terhadap orang lain yang dapat menimbulkan dampak yang berkelanjutan. Apabila terjadi kesalahan atau kekeliruan dalam perkataan, segera meminta maaf untuk mencegah terjadinya kesalah pahaman yang berujung pada perselisihan atau pertengkaran. Ibarat lidah tak bertulang apabila tidak dikendalikan dengan baik akan berdampak negatif. Dalam Kakawin Nitisastra Srg. V dinyatakan : ””wasita nimittanta manemu laksmi, wasita nimittanta pati kapangguh, wasita nimitanta manemu duhkha, wasita nimittanta manemu mitra”
Yang artinya :
4
Oleh karena perkataan engkau akan mendapatkan kebahagiaan, oleh karena perkataan engkau akan mendapatkan kematian, oleh karena perkataan engkau akan mendapatkan kesusahan, oleh karena perkataan engkau akan mendapatkan sahabat.
Di lain pihak kita dituntut memiliki kesabaran dan jiwa yang lapang apabila kita menerima perkataan yang tidak baik dari orang lain, sehingga tidak terpancing untuk membalas dengan kata-kata yang bertentangan dengan ajaran agama.
Sarasamuscaya seloka 307 dinyatakan :
”Na smarantyaparaddhani smaranti sukrtanica, asambhinnaryamaryadah sadhawah puruso tamah
(Lawan ta waneh, tarangen-angen dosa ning len, pisaningun ujarakenang parapawada, gunanya, mwang ulahnya, rahayu juga kenget nira, tatan hana gantanira manasara sakeng sistacara apageh juga sira ri maryadanira, mangkana laksana sang sadhu, sira purusotama ngaranira waneh)
Yang artinya : Dan lagi sang sadhu tidak memikirkan dosa atau cacat orang lain, pun tidak akan mengeluarkan kata-kata apapun tentang celaan atau teguran dari pihak lain, hanya kebajikan dan perbuatan baik pihak lain saja dipikirkan beliau dan sama sekali tidak ada kemungkinan beliau akan menyimpang dari perilaku orang arif, melainkan tetap teguh berpegang pada susila dan sopan santun. Demikianlah laksana sang sadhu. Beliau disebut pula manusia utama.

3. Upaya mengendalikan perkataan.
Dalam ajaran agama Hindu upaya mengendalikan perkataan disediakan waktu untuk berlatih sekaligus melakukan Mona Brata pada hari suci Siwaratri yang jatuh pada Purwaning Tilem Kepitu. Makna Mona Brata adalah mengendalikan perkataan pada hari tertentu yang bertujuan membiasakan perkataan yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pengertian lebih luas di luar konteks hari suci Siwaratri, Mona Brata juga bermakna membiasakan perkataan
5

yang baik dan benar secara terus menerus dengan cara menghindari perkataan jahat, perkataan kasar, perkataan menfitnah, perkataan bohong dalam kehidupan sehari-hari.

4. Kesimpulan.
Dalam hidup ini tidak lepas dari komunikasi melalui perkataan. Sebelum perkataan itu diucapkan sebaiknya terlebih dahulu dipastikan perkataan tersebut tidak mengakibatkan dampak negatif baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Seorang orator yang sangat berpengaruh pada era Romawi yang bernama Cicero, sekitar tahun 45 – 44 SM menyatakan : The good man speaks well yang artinya pembicara yang baik adalah orang baik juga. Karena itu kredibilitas seseorang menjadi sangat penting untuk mendapatkan efek dari perkataan yang diucapkan yang dapat mempengaruhi atau menyentuh hati seseorang. Dalam istilah Bali dikenal dengan ”Taksu”. Sebagaimana juga salah satu syarat orang sadhu (mulia) yakni dapat dicermati melalui perkataannya yang berpegang teguh pada susila dan sopan santun serta satya wacana (tidak berdusta). Walaupun ia sendiri menerima perkataan tidak baik seperti perkataan kasar atau jahat dari orang lain. Perkataan yang baik dan benar sudah dijelaskan secara normatif dalam Sarasamuscaya seloka 75. Untuk melatih mengendalikan perkataan laksanakan Mona Brata pada Hari suci Siwaratri. Namun dalam aplikasinya perlu diperhatikan aspek desa, kala, patra atau ketupat (keadaan, waktu, tempat). Dengan demikian diharapkan terjalin hubungan komunikasi sosial yang harmonis, nyaman dan menyenangkan, sehingga dapat memberikan motivasi dan semangat hidup dalam mengamalkan ajaran Dharma.

Om Santi Santi Santi Om.

”Terlanjurnya berkata-kata
akan sulit ditarik kembali”


PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
KABUPATEN BEKASI












WACIKA PARISUDDHA
(Perkataan yang baik dan benar)




RENUNGAN AGAMA HINDU
EDISI : 22/ X / 2009


Penanggung jawab : Pengurus PHDI Kabupaten Bekasi. Staf Redaksi : Drs. AAG. Raka Putra, I Putu Badung, Mpd, I B Adi Candra, S.Si, I Made Awanita, S.Ag. M.si, Ir. I Nyoman Mertasari, I Wayan Sudiarta. Tata Usaha & Distribusi : Ir. I Wayan Darmanta, IGB Virgo, I Wayan Brata, S.Ag.Alamat Redaksi : Perumh. Graha Prima L 16 No. 8 Mangunjaya Tambun Bekasi Jawa-Barat.Telp. 021 88336171






Berbhakti kepada Orang Tua

Om Swastyastu
1. Umum. Banyak nasehat sering kita dengar baik langsung maupun tidak langsung termasuk nasehat yang bunyinya sebagai berikut : berbhaktilah kepada orang tua, hormatilah orang tua, jangan melawan orang tua, patuhlah terhadap kata-kata orang tua, jangan sekali-kali melupakan orang tua, jangan mengkhianati orang tua dan lain sebagainya. Jika direnungkan, nasehat tersebut tidaklah mengada-ada. Banyak contoh nyata yang terjadi disekitar kita seakan sebagai pelajaran agar tidak terjadi atau dialami oleh kita sendiri. Dalam ajaran agama Hindu berbhakti kepada orang tua disebut dengan Guru Rupaka. Guru Rupaka dimaknai mulai dari orang tua yang melahirkan kita sampai kepada orang yang lebih tua usianya dan kepada orang yang dituakan.

2. Orang Tua sebagai Kawitan. Asal usul Kelahiran dinyatakan dalam kitab :

a) Sarasamuscaya Seloka 235 :
Carirametaukurutah pita mata ca bharata, acaryacasta ya jatih sa divya sajaramara.

Nihan tattwaning bapedu, upadhyaya, bapedu sangkaning sarira, ndatan langgeng ika, kuneng iking jati makading kabrahmanan, sangskara dang upadhyaya, sangkanyan hana, ikanang prasiddha tinut winarawarah ing upadhyaya, yatika uttama, ika tan kena ring lara pati. (Beginilah hakekat ibu bapa dan guru; ibu bapa adalah asal mula tubuh yang tidak kekal ini; adanya kelahiran yang lain, terutama kelahiran kebrahmanaan, pensudiannya (pentahbisannya) oleh sang guru, lantaran itu ada yang patut diikuti yang merupakan ajaran sang guru suci; itulah yang utama yang terluput dari penyakit dan bahaya maut).

b) Sarasamuscaya Seloka 242 :
Carirakrt pranadata yasya cannani bhunjake, kremenaite trayo 'pyuktah pitaroa dharmasadhane.
2

Tlu pratyekaning bapa, tingkahnya, carirakrt, pranadata, annadata, çarirakrt ngaraning sangkaning çarira, pranadata ngaraning mapunya hurip, annadata ngaraning maweh amangan angingwani wih. (Tiga perincian bapa itu menurut perikeadaannya yaitu carirakrt, pranadata, annadata, carirakrt artinya yang mengadakan tubuh, pranadata artinya yang memberikan hidup, annadata artinya yang memberi makan serta mengasuhnya).

3. Orang Tua sebagai Leluhur. Kewajiban hormat kepada Orang Tua , dinyatakan dalam kitab :

a) Sarasamuscaya Seloka 239 :
Tapaçcaucavata nityam dharmasatyaratena ca, matapitroraharahah pujanam karyamanjasa.

Ikang wwang gumawayaken kapujaning ramarena sari-sari, langgeng magawe tapa ngaranika, mwang langgeng macoca, apageh ring kesatyan mwang dharma ngaranika. (Orang yang senantiasa setiap hari hormat kepada ibu bapanya disebut tetap teguh melakukan tapa dan menyucikan diri, tetap teguh berpegang kepada kebenaran dan dharma).

b) Sarasamuscaya Seloka 240 :
Mata gurutara bhumehkhat tathoccatarah pita, manah çighrataram yayoçcinta bahutara trnat.

Apah Iwih temen bwatning ibu, sangkeng bwatning lemah, katwangana, tanbari-barin kalinganya, aruhur temen sang bapa sangke langit, adrs temen ang manah sangkeng dukut.( Sebab jauh kebih berat kewajiban ibu dari pada beratnya bumi, karenanya patut dihormati beliau dengan sungguh-sungguh, tanpa ragu-ragu; demikian pula lebih tinggi penghormatan terhadap bapa dari pada tingginya langit, terlebih deras jalannya pikiran daripada jalannya angin, terlebih banyak adanya angan-angan dari pada rumput).

c) Sarasamuscaya Seloka 241 :
Pita mata ca rajendra tusyato yasya dehinah, iha pretya ca tasyatha kirtirbhavati çaçvati
3

Ikang bhakti makawwitan, paristuta sang rawwitnya denya, phalanya mangke daha, langgeng paleman ika ring hayu. (Setia bakti terhadap orang tua, membuat orang tua itu sangat senang dan puas hatinya, pahalanya baik sekarang ini maupun kemudian, tetap mendapat pujian tentang kebajikan).

d) Sarasamuscaya Seloka 248 :
Abdhivadsayeta vrddhamasanam casya darçayet, krtajnalirupasita gacchantam prstatonviyat.

matangnyan mangkeng ulaha ring wwang matuha, manantwa swagata awegata awehonggwanunggwan, manembaha açila angharrepakena, yar angkat mangaterakena. (Oleh karena prilaku terhadap orang tua, hendaklah memberi salam selamat dan menyapanya dengan sopan santun, mempersilakan duduk, kemudian menyembah serta dengan sopan duduk bersila dihadapkannya; pada waktu berangkat, hendaklah mengantarkannya).

4. Orang Tua sebagai Panutan. Dalam Niti satra VIII.3 dinyatakan kewajiban orang tua lima macam atau Panca Wida yaitu matulung urip rikalaning bhaya (menyelamatkan keluarga pada saat bahaya), Nitya Maweh Bhinoajana (selalu mengusahakan makanan yang sehat), Mengupadyaya (memberikan ilmu pengetahuan kepada si anak), Anyangaskara (menyucikan si anak atau membina mental spritual si anak) dan Sang Ametwaken (bapak sebagai penyebab lahirnya si anak).

5. Pahala berbhakti kepada Orang Tua

a) Sarasamuscaya Seloka 246 :
Putrapautropapanno 'pi jananin yah samaçritah, api varsaçatasyante vihayasyesa vartate.

Ikang wwang teka ring panakan, paputwan, ndatan sahlawan sang ibu, wetning bhaktinyan pakading dewa sira, kadirghayusan mwang swargapada phalanika. (Orang yang sampai ada anak dan cucu tidak berpisah, senantiasa hidup dengan si ibu,

4

disebabkan oleh setia baktinya kepada ibunya, yang dianggap bagaikan dewa; usia panjang dan sorgalah merupakan ganjarannya).

b) Sarasamuscaya Seloka 250 :
Adhivadanaçilasya nityam vrddhopasevinah, catvari tasya vardhante kirtirayuryaço balam.

Kuneng phalaning kabhaktin ring wwang atuha, pat ikang wrddhi, pratyekanya, kirti, ayusa, bala, yaça, kirti ngaraning paleman ring hayu, ayusa ngaraning hurip, bala ngaraning kaçaktin, yaca ngaraning patitingal rahayu, yatikawuwuh paripurna, phalaning kabhaktin ring wwang atuba. (Akan pahala hormat bhakti terhadap orang tua, adalah empat jenis hal yang bertambah, perinciannya; kirti, ayusa, bala, yaca; kirti artinya pujian tentang kebaikan, ayusa, artinya hal hidup (umur panjang), bala, artinya kekuatan, yaca, artinya peninggalan yang baik (jasa) itulah yang bertambah sempurna sebagai pahala hormat bakti terhadap orang tua).

6. Akibat Mengkhianati Orang Tua.
a) Dalam kitab Sarasamuscaya Seloka 234 dinyatakan :
Upadhyayam pitaram mataram ca ye'bhidruhyanti manasa karmana wa, tesam papam bhrunahtyawicistam nanyastasmat papa krccastiloke

Hana pwa drohaka ring pangajyanya, ring bapedu kunang, makakaranang kaya, wak, manah, ikang makangna kramanya, agong papanika, Iwih sakeng papaning bhrunaha, bhrunahangaraning rurugarbha, sangksepanye atyantapapanika. (Jika ada orang yang berkhianat terhadap guru, terhadap ibu dan bapa,dengan jalan perbuatan, perkataan dan pikiran, orang yang demikian prilakunya amat besarlah dosanya, lebih besar dari pada dosa bhrunaha artinya menggugurkan kandungan ; singkatnya, amat besarlah dosanya).

b) Sarasamuscaya Seloka 247 :
5

Tada samrddho bhavati tada bhavati duhkhitah, tada çunyam jagat sarvam yada matra viyujyate.

Kunang ikang ininggatan deni ibunya, makahetu pratikulanya, ya ika daridra ngaranya, ya ika anemu duhkha ngaranya, ya ika gumawe cunyaning rat ngaranya. (Orang yang ditinggalkan oleh ibunya, yang disebabkan karena bermusuhan (terhadap ibunya), miskinlah orang itu disebut, mengalami duka nestapa, dan hal itu menyebabkan dunia seakan-akan tidak ada apa-apanya, sepi adanya).

c) Sarasamuscaya Seloka 238 :
Samyan mith yapravrtte va vartitavyam guraviha, guruninda nikantyayumanusyanamna samçayam.

Lawan waneh, haywa jugangwang mangupat ring guru yagyapin salahkena polahnira, layatnakena juga guru-pacarana, kasiddhaning lasewaning kadi sira, bwatamuharalpayusa amangun kapapan, kanindaning kadi sira. (Dan lagi, jangan sekali-kali mencela guru, meskipun keliru perbuatan beliau, hendaklah diusahakan baik-baik cara perlakuanya yang layak kepada guru, agar berhasil melaksanakan pengabdiannya kepada beliau, sangatlah menyebabkan usia pendek serta menimbulkan dosa jika menghina guru).

7. Kesimpulan. Ajaran agama Hindu menekankan pentingnya berbhakti kepada orang tua terutama orang yang melahirkan, memberi sandang pangan papan kepada anak-anaknya. Atas jasa dan pengabdiannya wajar jika kemudian orang tua patut dihormati atau senantiasa berbhakti kepadanya. Yakinlah bahwa Hukum karmaphala mengajarkan jika kita menghormati orang tua maka kitapun akan dihormati oleh anak-anak kita sendiri. Demikian juga jika kita menghormati yang lebih tua dalam usia atau yang dituakan maka kitapun akan dihormati orang lain. Dalam konsepsi Hindu mengajarkan ”Ijya” adalah berbhakti kepada Sanghyang Widhi Wasa dan Leluhur.
Om Santi Santi Santi Om

PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
KABUPATEN BEKASI













Berbhakti kepada Orang Tua




RENUNGAN AGAMA HINDU
EDISI : 23/ XI / 2009



Penanggung jawab : Pengurus PHDI Kabupaten Bekasi. Staf Redaksi : Drs. AAG. Raka Putra, I Putu Badung, Mpd, I B Adi Candra, S.Si, I Made Awanita, S.Ag. M.si, Ir. I Nyoman Mertasari, I Wayan Sudiarta. Tata Usaha & Distribusi : Ir. I Wayan Darmanta, IGB Virgo, I Wayan Brata, S.Ag.Alamat Redaksi : Perumh. Graha Prima L 16 No. 8 Mangunjaya Tambun Bekasi Jawa-Barat.Telp. 021 88336171





Dusta itu dosa

Om Swastyastu.

1. Umum. ”Jangan ada dusta diantara kita” Seperti itulah kira-kira ungkapan yang sering kita dengar. Dusta dalam bahasa lain dikenal dengan istilah ”bohong”. Bohong atau berbohong adalah mengatakan sesuatu yang tidak sebenarnya atau tidak sesuai dengan kenyataannya. Berbohong juga terjadi saat seseorang ingkar janji atau tidak menepati pada janji. Dalam agama Hindu termasuk bentuk pelanggaran ajaran Satya Wacana. Lebih kentara lagi kita bisa mengamati dalam urusan perkara hukum untuk mencari keadilan. Segala upaya dapat dilakukan melalui siasat, teknik, metode yang bermuara pada ketidak jujuran alias kebohongan dengan satu tujuan yakni memenangkan suatu perkara hukum. Antara kejujuran dan kebohongan nyaris berbeda tipis sehingga dalam proses hukum seakan sulit menentukan atau memastikan siapa yang berbohong dan siapa yang jujur. Disinilah tantangan aparat penegak hukum untuk mengambil sebuah keputusan hukum yang dapat memberi rasa keadilan kepada semua pihak. Disamping itu juga tidak kalah pentingnya dalam kehidupan sehari-hari sering dihadapkan dengan masalah kebohongan atau dusta khususnya dalam interaksi antar anak-anak, remaja, dewasa sampai orang tua. Demikian juga interaksi antar suami, istri, anak, mertua, saudara dekat sering mengalami masalah dusta atau kebohongan. Sejalan dengan perkembangan demokrasi, banyak bermunculan pendapat sebagai bahan retorika. Masing-masing orang merasa berhak untuk menyampaikan pendapat sesuai kapasitasnya atau ahli di bidangnya. Yang menjadi bahan pertanyaan ialah sudahkah pendapat tersebut memenuhi aspek ajaran agama dan moral terutama kejujuran dan kebenaran ? Berbagai kalangan masyarakat sepakat tidak melakukan kebohongan atau dusta.

2


Hal ini sejalan dengan tuntutan berbagai gerakan seperti anti korupsi. Korupsi adalah bagian dari dusta. Karena di dalam perbuatan dusta ada hal yang ditutupi, sehingga seakan bermuka dua (asli dan palsu/fiktif). Hal tersebut tidak lebih seperti sandiwara dengan multi peran. Secara tradisional boleh dibilang seperti bertopeng yang penuh dengan kepura-puraan. Di dalam dusta juga ada kepalsuan dan penipuan. Jadi dusta merupakan wujud implikasi dari tindakan pelanggaran norma dan hukum yang berlaku.

2. Dusta itu dosa.

Sebagai acuan, tulisan ini mencoba memformulasikan ajaran kitab suci dan pendapat para ahli yang sudah terkenal.

Dalam Selokantara seloka 3 dinyatakan :
”Nasti satyat paro dharmo, nanrtat patakam param, Triloke ca hi dharma syat, tasmat satyam na lopayet. Yang artinya : Tidak ada dharma yang lebih tinggi dari satya, tidak ada dosa yang lebih rendah dari dusta, dharma harus dilaksanakan di ketiga dunia ini dan satya harus tidak dilanggar.

Dalam Kitab Selokantara sloka 13 dinyatakan :”Tiryag dasagunam papam manusye catamewa ca, prabhau dasasahasranianantam munidewayoh”
Artinya : Dusta yang dilakukan terhadap makhluk yang lebih rendah itu membawa dosa sepuluh lipat, dusta terhadap sesama manusia membawakan seratus lipat, terhadap raja menimbulkan seribu lipat dosa, dan terhadap pertapa dan Dewa-Dewa itu menyebabkan dosa yang tak terbatas.

Sedangkan dalam Kitab Nitisastra VI. 3 dinyatakan :” Mresa kita ring triyak dasani warsa papa linakonta kajaring aji, sama-sama manuseka cata warga durgati bhinukti yan mresa kita, yadi kita mitya ring Widhi saharsa warsa lawasing kapataka kita, Guru linino-lonok tan hana hinganing tahun ananta papa katamu”
3


Artinya : Kalau engkau berbohong pada binatang engkau akan mendapat hukuman selama sepuluh tahun demikian bunyi kitab ajaran-ajaran agama, kalau engkau berbohong sesama manusia engkau akan mendapat siksaan didalam neraka selama seratus tahun , kalau engkau berbohong pada Tuhan hukuman selama seribu tahun, jika engkau berbohong terhadap Guru derita yang engkau terima dari tahun ketahun tidak akan ada habis-habisnya.

Menurut Kitab Korawasrama Bab VII. 100 (Kata Dewi Uma kepada Bhatara Gana) :
” E.. Gana anakku, janganlah engkau berbohong kepadaku, besar bahayanya jika engkau berbohong terhadap Guru, berlidah dua terhadap Dewa-Dewa, berbohong terhadap Pendeta, karena seratus tahun lamanya akan disiksa dicecang didalam neraka oleh Sang Gingkrabala, kalau berbohong pada sesamamu (manusia) engkau menjadi buta dan tuli ...................”

Menurut Mahatma Gandhi (India) menyatakan :
”Kebohongan adalah ibu dari kebengisan”

Menurut T.Southenn (Inggris) menyatakan :
”Kebohongan ialah tanda yang jitu dari pengecut”

3. Pengecualian Dusta/kebohongan.

Tulisan ini mencoba mengungkapkan fakta di lapangan dihadapkan dengan ajaran hukum Karmaphala yang sesungguhnya tidak bisa ditawar. Namun demikian dapat dimaklumi hidup sebagai manusia di dunia ini umumnya sulit menghadapi dilema yang dialami seseorang. Apakah tidak berbohong secara murni atau berbohong dengan pengecualian ? Inilah yang menjadi renungan bersama bahwa mempelajari agama Hindu hendaknya secara komprehensip baik Kitab suci Weda dengan cabang-cabangnya maupun penambahan wawasan Itihasa dan Purana. Roh dari semua implementasi di lapangan adalah hati nurani. Karena itu tidak ada seorangpun yang menjadikan ini

4

sebagai dalih pembenaran untuk berbohong di luar ketentuan yang diberlakukan.

Dalam kitab Selokantara seloka 47 dinyatakan :
”narma syad wacanam yaddhi prama drawyaraksane ca, strisu wiwabakala tu pancasrtam na patakam”

Kalinganya, lima ikang tan amuhara papa ning linok. Lwirnya kawruhana : ujar ing sowo mapaceh-pacehan, karaksahan ing hurip, karaksahan ing drewya, karaksahan ing anak rabi, muwah ri sedeng ing pasangguman, wenang linok ing mangkana (Ada lima macam kebohongan yang dapat dianggap bukan dosa yaitu lelucon, kata-kata yang menyebabkan orang tertawa, kata-kata untuk menyelamatkan jiwa, menyelamatkan harta, menyelamatkan anak-anak dan istri, dan juga pada waktu bersetubuh atau bercumbu-cumbuan. Kebohongan-kebohongan ini boleh dipergunakan).

Sedangkan dalam kitab Nitisastra VI. 4 dinyatakan
”Lima wilanging mreseka gawayem tanam panuhareka papa wangunan, Ri sedeng angutsathawa wiwaha kala ri karaksaning wita juga, iyaka saka ring limeka kawah kita tekapaing aswalalaita” ( Ada lima macam kebohongan jika dilakukan tidak mengakibatkan dosa (yaitu) : pada waktu penjamuan ( bersuka ria) atau waktu perkawinan dan sewaktu melindungi bibit kehidupan, atau lagi sewaktu melindungi hidup kita, sedang bersenda gurau sambil tertawa-tawa, pura-pura berbohong, lain dari kelima macam suasana ini jika berbohong akan dibawanya engkau ke neraka oleh kuda pacuan (dengan sangat cepat).

Dalam kitab Adi parwa Bab II dikisahkan tentang perkecualian berbohong itu ketika Sang Carmistha membujuk Maha Raja Yayati untuk mengawininya saat bermain-main di taman bunga. Padahal mertuanya (Bhagawan Sukra) tidak mengijinkan.
Untuk memperkuat kehendaknya Sang Carmistha menjawab : ”Tuanku ! Ada terdengar ucapan
5

hukum susila : jika sedang bergurau bersenang-senang itu (kita berbohong), demikian juga berbohong kepada istri, berbohong diwaktu perkawinan dan juga berbohong diwaktu jiwa kita diancam penjahat dan jika sedang harta bendanya ingin diambil oleh pencuri. Pembohongan demikian itu diperbolehkan. Itulah bernama Pancanrta (lima kebohongan). Kebohongan demikian itu tidak mendapatkan neraka (tidak dianggap dosa).

Demikianlah ada perkecualian dalam berbohong itu. Di jaman sekarang sudah pada dimaklumi bahwa inipun masih berlaku yaitu perkecualian kebohongan itu tetap ada, hanya orang-orang yang dibohongi itu berlainan. Umpanya orang-orang yang dibohongi ialah : anak-anak, orang perempuan (jahat), orang sakit, orang gila yang berbahaya dan musuh. Kelima macam orang ini boleh dibohongi dan itu tidak dianggap dosa kecuali oleh orang-orang yang benar-benar melakukan dan menganggap bahwa berkata benar itu mengatasi segala-galanya. Jadi perkecualian ini ada, tetapi dituruti atau tidak, terserah pada pribadi manusia itu yang masing-masing punya hati nurani.

4. Kesimpulan.

Dusta atau berbohong itu dosa. Dari sudut hukum karmaphala, sekecil apapun kebohongan itu pasti ada konskwensinya dan Tuhan selaku hakim pemegang otoritas yang menilai mana pura-pura berbohong (pengecualian) dan mana yang benar-benar berbohong sehingga Tuhan menentukan dengan berbagai cara baik berupa pemberian hukuman maupun pengampunan. Karena itu tidak ada seorangpun pengecualian ini sebagai dalih pembenaran untuk berbohong di luar ketentuan yang diberlakukan. Roh dari semua implementasi di lapangan adalah hati nurani. Karena dalam hati nurani ada Tuhan/Sanghyang Widhi Wasa yang senantiasa bersemayam sebagai saksi mulai hal-hal yang kecil sampai yang besar, dari yang tidak terlihat kasat mata/rekaman sampai yang terlihat nyata.
Om Santi Santi Santi Om

PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
KABUPATEN BEKASI












Dusta itu dosa




RENUNGAN AGAMA HINDU
EDISI : 24/ XII / 2009



Penanggung jawab : Pengurus PHDI Kabupaten Bekasi. Staf Redaksi : Drs. AAG. Raka Putra, I Putu Badung, Mpd, I B Adi Candra, S.Si, I Made Awanita, S.Ag. M.si, Ir. I Nyoman Mertasari, I Wayan Sudiarta. Tata Usaha & Distribusi : Ir. I Wayan Darmanta, IGB Virgo, I Wayan Brata, S.Ag.Alamat Redaksi : Perumh. Graha Prima L 16 No. 8 Mangunjaya Tambun Bekasi Jawa-Barat.Telp. 021 88336171




DEWA SURYA

Om Swastyastu.

1. Umum. Sepanjang ilmu pengetahuan dan tekhnologi belum bisa menjawab tentang persoalan alam semesta termasuk planet-planet yang bertebaran di angkasa sementara referensinya pada cerita kuno atau dongeng yang sebetulnya sangat anti bagi ilmuwan umum. Lain halnya ilmuwan agama referensinya adalah kitab suci yang didalamnya termasuk cerita kuno dalam Hindu dikenal dengan istilah Purana. Manusia boleh berbangga sudah bisa menginjakkan kakinya di Bulan dan planet-planet lainnya kecuali planet yang satu itu yakni Matahari. Belum diketahui pasti sampai jarak berapa manusia sanggup mendekati planet matahari apalagi menginjakkan kakinya. Orang Jepang dikenal pemuja Matahari dengan agama Sintho. Dalam ajaran agama Hindu pemujaan matahari senantiasa ada setiap hari yang dikenal dengan Surya Sewana bagi Pendeta. Bagi umat Hindu pemujaan kepada matahari selalu ada dalam rangkaian persembahyangan apapun. Sejak jaman dahulu matahari selalu menjadi pusat pemujaan yang diyakini sebagai bagian dari ciptaan Tuhan. Dalam Weda Smrti Bab II seloka 101 dinyatakan :
"Purwam samdhyam japam, stisthetsawitrim arka darcanat, pascimam tu samasinah, samyagrksa wibhrwa wanat artinya : Hendaklah ia berdiri di waktu subuh mengucapkan mantra Sawitri sampai matahari terbit, tetapi di waktu sore boleh dengan cara duduk sampai cakrawala tampak dengan jelas".
Dalam kitab Kausitaki Brahmana Upanisad Bab II seloka 7 dinyatakan :
........ketiga samadhi dari penakluk semesta kausitaki. Penakluk semesta Kausitaki sesungguhnya memang pernah menyembah matahari terbit ..... Dengan cara yang sama dia (pernah memuja matahari) ketika hal ini berada di tengah-tengah langit ... Dengan cara yang sama dia (pernah memuja matahari) ketika hal ini mau tenggelam dan berkata engkau adalah pembawa yang penuh bawalah aku dari segenap dosaku. Dengan demikian dosa apa saja diperbuatnya siang atau malam langsung dihapuskannya.
Konsep pemujaan agama Hindu tidak hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa, akan tetapi juga kepada ciptaan-Nya antara lain pemujaan kepada para Dewa,
pemujaan kepada para Leluhur, pemujaan kepada para Maha Rsi, pemujaan kepada sesama manusia (dibaca ; menghormati), pemujaan kepada para Bhuta (dibaca ;
2
menghormati). sebagaimana dinyatakan dalam kitab Manu Smrti Bab IV seloka 21 : "Rsi yajnam dewa yajnam bhuta yajnam ca sarwada, mryajanam pitrayajnam ca yatha sakti nahapayet " yang artinya Hendaknya jangan ia sampai lupa jika ia mampu melakukan yadnya untuk para pertapa, para Dewa, pada unsur-unsur alam, pada sesama manusia dan kepada para leluhur. Hindu memandang Tuhan terjalin include dengan ciptaannya, sebagaimana dinyatakan dalam kitab Yajur Weda 32. 8 dinyatakan “ Sa’atah protasca wibhuh prajasu” yang artinya Tuhan terjalin dalam makhluk yang diciptakan. Artinya Hindu memuja Tuhan Yang Maha Esa juga dengan tidak mengabaikan atau meremehkan ciptaan-Nya, karena dalam ciptaan-Nya Tuhan itu juga ada. Dalam Reg Weda dinyatakan salah satu Dewa yang merupakan Dewa tertinggi adalah Dewa Surya dalam wujud materi yakni matahari. Sebagaimana diketahui matahari adalah sumber kehidupan di muka bumi ini.

2. Pengaruh Matahari

Berbicara matahari tidak terlepas dari waktu, karena itu matahari mengatur jalannya waktu. Sang waktu akan bergerak terus tiada henti sebagai simbul bahwa Tuhan tiada henti untuk berkarma untuk memberikan kehidupan pada alam semesta. Ketika sang waktu berhenti saat itu juga tiadanya tanda kehidupan (pralina). Sebagaimana Tuhan bersabda dalam kitab Bhagawadgita adhyaya III 5, 23 & 24 :
”Nahi kascity ksanam api, jatu tisthaty akarmakrit, karyate hy awasah karma, sarwah prakritijair gunaih

Artinya : Walaupun untuk sesaat juga, tidak seorangpun untuk tidak berbuat, karena setiap manusia dibuat tidak berdaya oleh hukum alam yang memaksanya bertindak.

”Yadi hy aham na warteyam, jatu karmany atandritah,
Mama wartna nuwartante, manusyah partha sarwasah
”Utsideyur ime loka, na kuryam karma ced aham, samkarasya ca karta syam, upahanyam imah prajah

Artinya : Sebab kalau aku tidak selalu bekerja tanpa henti-hentinya, orang tidak akan mengikuti jalanKu itu dalam segala bidang apapun juga. Dunia ini akan hancur jika aku tidak bekerja, aku jadi pencipta kekacauan ini dan memusnahkan manusia ini semua.
Pengaruh matahari juga membuktikan keperkasaannya saat manusia ajal sebagaimana dinyatakan dalam Bhagawadgita VIII 24 & 25 :
”Agnir jyotir ahah suklah, sanmasa uttarayanam,
Tatra prayata gacchanti, brahma brahmawido janah
3
Artinya : Api, cahaya, siang hari, purnama dan enam bulan waktu matahari ada di utara katulistiwa apabila pada saat itu ajal tiba, orang yang mengetahui Brahman pergi kepada Brahman.
Dhumo ratris tatha krisnah, san masa daksinayanam,
Tatra candramasam jyotir, yogi prapya nirwartate

Artinya : Asap, malam hari, bulan mati dan enam bulan musim matahari ada di selatan, apabila saat itu ajal telah memanggil yogi yang mencapai cahaya bulan akan kembali lagi.
Begitu juga matahari sebagai sumber waktu sebagaimana dinyatakan dalam kitab Maitri Upanisad Praphataka VI . 14 & 15 :
”Sesungguhnya makanan itu adalah menjadi sumber dari isi seluruh alam ; sang waktu adalah menjadi sumber dari makanan. Sedang yang menjadi sumber waktu adalah Mataharii” Betapapun banyaknya bagian-bagian dari waktu. Semuanya bergerak melalui perhitungan atas dasar pedoman matahari. Barang siapa yang menghormati sang waktu sama seperti penghormatan yang dipersembahkan kepada Brahman, maka baginya sang waktu itu akan menjauhinya.
”Sang waktu yang bagaikan sang juru masak, itu telah memasak benda-benda dan makhluk-makhluk menjadi isi alam. Sang waktu itu jika saatnya telah tiba (yaitu pada jaman maha pralaya atau kiamat besar), meletakkan semua benda dan makhluk-makhluk pada haribaannya sang maha roh (=Mahatman = Tuhan Yang Maha Esa). Siapa yang telah dapat mengetahui rahasia memasaknya benda-benda dan makhluk-makhluk oleh sang waktu. Maka dia menjadi orang yang telah dapat mengetahui isi kitab-kitab suci Weda.
Matahari adalah Brahman seperti dinyatakan dalam Maitri Upanisad Praphataka VI . 16 :
Dewa Sawitri yang artinya yang menghasilkan yang menjadi sang ayah yang dari diri beliau itu muncul bulan, bintang-bintang, planet-planet, tahun dan benda-benda lainnya. ........ Hendaklah orang menghormati sang matahari itu dengan sebutan sang waktu. Orang bijaksana mengatakan bahwa Brahman itu adalah matahari.
Dalam Maitri Upanisad Praphataka VI.30 & 32 dinyatakan :
”Tiga macam hasil perbuatan orang yaitu : pertama yang sama sekali tidak pernah memuja matahari dia harus mengulangi menjadi makhluk di dunia lagi. Kedua yang memuja matahari sebagai manifestasi dia dapat naik surga dan mengalami kenikmatan untuk sementara waktu tetapi
4
masih harus terlahirkan lagi ke dunia. Ketiga yang memuja matahari sebagai Brahman-Atman dia sudah memperoleh kebebasan spiritual dan tidak terlahirkan lagi ke dunia.
”Ketika beliau (Tuhan Yang Maha Esa) mengeluarkan nafas muncul : kitab-kitab suci Rig Weda, Yajur Weda, Sama Weda, syair-syair pujaan dari para Atharwan dan keluarga Anggirasa, Legenda (Itihasa), cerita-cerita kuno (Purana), ilmu pengetahuan (Widya), doktrin-doktrin mistyk (Upanisad), syair-syair (seloka), Aphorisma-aphorisma (Sutra), keterangan-keterangan tentang sesuatu (Anawyakhyana) dan komentar-komentar (Wyakhyana). Dari Diri Tuhan Yang Maha Esa lah semua yang ada ini dimunculkan melalui pernafasan beliau.
Dalam kitab Maitri Upanisad Praphataka VI . 36 :
”Orang yang ingin naik surga haruslah melaksanakan persembahyangan korban suci agnihotra. Yang ingin menikmati kebahagiaan di alamnya Dewa Yama haruslah melaksanakan persembahyangan korban suci Agnisthoma. Yang ingin menikmati kebahagiaan di alamnya Dewa Soma (di Bulan) haruslah melaksanakan persembahyangan korban suci Uktha. Yang ingin menikmati kebahagiaan di alamnya Dewa Surya (di matahari) haruslah melaksanakan persembahyangan korban suci Shodasin (yang berlangsung selama 16 hari). Yang ingin menikmati kebahagiaan di alam kebebasan haruslah melaksanakan persembahyangan korban suci Atiratra, yang berlangsung secara terus menerus selama 1000 hari yang ditujukan kepada Sang Prajapati.
Dalam maitri Upanisad Praphataka VI . 37 :
”Sesaji-sesaji dalam persembahyangan yang dilemparkan ke dalam api persembahyangan itu. Sari-sari sesajinya dapat naik ke atas, ke matahari. Dari mataharilah dihasilkan hujan itu. Dari hujan, bahan makanan muncul. Dan dari makanan itu makhluk-makhluk berkembang biak.
Dalam Manawa Dharmasastra III. 76 :
Agnau prastahutih samyag, adityam upatistate, adityajayate wrstir, wristeranam tatah prajah

Artinya : Persembahan dijatuhkan ke dalam api mencapai matahari, dari matahari turunlah hujan, dari hujan timbul makanan, dari makanan makhluk hidup mendapatkan hidupnya.
Dalam Purana, Dewa Surya digambarkan laki-laki berkulit hitam kemerah-merahan, memiliki tiga mata dan
5
bertangan empat ( dua tangannya memegang bunga teratai dan dua lainnya dalam sikap memberi anugrah). Ia duduk di atas padma (teratai merah) dan dari seluruh tubuhnya memancar cahaya.
Dalam Purusa Sukta dinyatakan :
”Candrama manaso jatas caksoh suryo ajayata, mukhad indras cagnisca pranad wayur ajayata
Artinya : Bulan lahir dari pikirannya, matahari dari matanya, indra (hujan/air) dan agni (api) dari mulutnya, wayu (angin) dari nafasnya.
Uraian seloka tadi mengisyaratkan bahwa matahari ibarat sang waktu tiada henti berputar sebagai hukum alam yang tidak bisa ditentang oleh manusia atau manusia tidak kuasa melawan hukum alam. Matahari membawa konskwensi waktu pagi, siang, sore dan malam. Begitu juga membawa konskwensi waktu lahir, hidup dan mati. Waktu lampau, waktu sekarang dan waktu yang akan datang. Serta menentukan semua arah mata angin. Demikian besar peran dan pengaruh matahari bagi kehidupan alam semesta sehingga matahari dipuja sebagai ciptaan Tuhan yang diwujudkan sebagai Dewa yang tertinggi yang dikenal dengan Dewa Surya. Dari uraian tadi barangkali yang menjadi renungan adalah Akankah ada kehidupan tanpa diciptakan matahari ? Akankah ada panas/api pada planet tanpa diciptakan matahari oleh Tuhan ? Lagi-lagi kita diingatkan sebagaimana dinyatakan dalam kitab Bhagawadgita adhyaya III 11 dinyatakan "Parasparam bhawayantah" yang artinya saling memberi, saling menopang, saling membantu. Adapun umat Hindu mewujudkannya dengan Yadnya yakni korban suci. Karena Matahari sebagai sumber kehidupan maka kita meyakini bahwa adanya kehidupan tidak terlepas dari pengaruh matahari. Demikian sebaliknya bencana alam yang terjadi tidak terlepas dari pengaruh matahari.

3. Kesimpulan.
Memuja Matahari bukanlah sesuatu yang salah atau keliru tergantung memahaminya. Matahari sebagai ciptaan Tuhan patut dipuja karena telah memberi manfaat langsung kepada kita sebagai manusia dan dalam matahari include Tuhan bersemayam. Sungguh tidak bijak memuja Tuhan Yang maha Esa, akan tetapi tidak menyayangi dan memandang rendah bahkan meremehkan ciptaan-Nya. Semoga memuja Tuhan Yang Maha Esa sama besar rasa hormat kepada ciptaanNya termasuk alam semesta dan sesama manusia.
Om Santi Santi Santi Om

PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
KABUPATEN BEKASI












DEWA SURYA




RENUNGAN AGAMA HINDU
EDISI : 25/ I / 2010



Penanggung jawab : Pengurus PHDI Kabupaten Bekasi. Staf Redaksi : Drs. AAG. Raka Putra, I Putu Badung, Mpd, I B Adi Candra, S.Si, I Made Awanita, S.Ag. M.si, Ir. I Nyoman Mertasari, I Wayan Sudiarta. Tata Usaha & Distribusi : Ir. I Wayan Darmanta, IGB Virgo, I Wayan Brata, S.Ag.Alamat Redaksi : Perumh. Graha Prima L 16 No. 8 Mangunjaya Tambun Bekasi Jawa-Barat.Telp. 021 88336171





Nyepi dalam Kegelapan

Om Swastyastu.

1. Umum. Menurut ajaran agama Hindu ada tujuh macam kegelapan pikiran dalam diri manusia yang dikenal dengan “Sapta Timira” yaitu Surupa (kegelapan karena ketampanan/kecantikan), Dhana (kegelapan karena kekayaan), Guna (kegelapan karena kepandaian), Kulina (kegelapan karena keturunan) Yowana (kegelapan karena keremajaan), Kasuran (kegelapan karena kemenangan), Sura (kegelapan karena minuman keras). Kegelapan atau kondisi mabuk yang dialami kecendrungannya merusak diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Di dalam ilmu kejiwaan kondisi kegelapan tersebut sangat mirip dengan “gila”. Apabila potensi gila ini tidak dikendalikan secara baik dan benar maka dipastikan tidak terarah menuju jurang kehancuran. Dalam Bhagawadgita II. 63 dinyatakan : “ Krodhad bhawati sammohah, sammohat smrtiwibhramah, smrtibhramsad buddhinaso, bhuddhinasat pranasyati” yang artinya Dari kemarahan timbul kebingungan, dari kebingungan hilang ingatan, dari hilang ingatan menghancurkan pikiran, dari kehancuran pikiran ia musnah”.

2. Nyepi dalam Kegelapan. Kegelapan memiliki dua aspek pengertian yaitu secara pisik tidak adanya penerangan/cahaya dan secara rohani adanya kegelapan pikiran. Gelapnya pikiran oleh kabut duniawi merupakan awal dari pintu masuk menuju pintu gerbang neraka. Penyebabnya antara lain ; Kama (nafsu), Krodha (kemarahan), Lobha (serakah). Sebagaimana dinyatakan dalam Bhagawadgita Adhyaya XVI seloka 21 : “Triwidham narakasye’dam, dwaram nasanam atmanah, kamah krodhas tatha lobhas, tasmad etat trayam tyajet “ yang artinya Ini pintu gerbang ke neraka, jalan menuju jurang kehancuran diri, ada tiga yaitu Kama Krodha dan
(2)

Lobha, Oleh karena itu ketiga-tiganya harus ditinggalkan “.
Pengendalian Kama (Nafsu) dinyatakan dalam Bhagawadgita XVI seloka 10, 11 dan 12 :
”Kamam asritya duspuram, dambha mana madanwitah, mohad grihitwa sadgrahan, prawantante ‘suciwratah “
“Gintam aparimeyam ca, pralayantam upasritah, kamopabhoga parama, etawad iti niscitah “
“Asapasasatair baddhah, kama krodha parayanah, ihante kama bhogartham, anyayea ‘rthasamcayan”

yang artinya Dengan menyerahkan diri kepada Kama yang dikuasai oleh sifat berpura-pura, kebanggaan dan kesombongan (Ia) memiliki pandangan salah karena ilusi mereka berbuat hal-hal yang tidak suci”.
Keinginan yang tak habis-habisnya itu hanya berakhir pada kematian, menganggap pemenuhan keinginan sebagai tujuan utama, dengan berkeyakinan itulah semuanya ini dibelenggu oleh beratus-ratus ikatan harapan, menyerahkan diri kepada nafsu dan kemarahan yang mereka memiliki, mereka berusaha mengumpulkan kekayaan demi kepuasan birahi dengan jalan tidak dihalalkan”
Pengendalian Krodha (Kemarahan) dinyatakan dalam Bhagawdgita XVI seloka 4 :
“Dambho darpo ‘bhimanas ca, krodhad parusyam ewa ca, ajnanam ca ‘abhijato ‘si, partha sampadam asurim “

yang artinya : Berpura-pura, angkuh, membanggakan diri, marah, kasar, bodoh, semuanya ini adalah harta dari dia yang dilahirkan dengan sifat-sifat raksasa, Oh Arjuna”
Pengendalian Lobha (serakah) dinyatakan dalam Bhagawadgita adhyaya XVIII seloka 27 :
“Ragi karmaphalaprepsur, lubdho himsatmako ‘sucih, harsasokanwitah karta, rajasah parikirtitah “

yang artinya : Pelaku yang terbawa arus hawa nafsu, menginginkan pahala kerja, loba, berbahaya,
tidak suci, mudah terpengaruh suka dan duka, ia dinamakan Rajasa “
(3)

Dalam ajaran agama Hindu pengendalian pikiran sangat menentukan kehidupan dan kondisi jiwa seseorang. Segala peluang dan potensi yang mengancam kestabilan pikiran berupa emosi, ego, loba menyebabkan kegelapan atau awidya tanpa batas. Semakin larut dalam kegelapan semakin menambah pekatnya kegelapan, ibarat melihat langit dari kejauhan dikira langit tersebut rendah ternyata semakin mendekat semakin jauh. Dalam posisi seperti itu hendaknya obyek panca indria ditarik pada konsentrasi pengendalian pikiran yang stabil. Ibarat melihat bayangan sendiri akan mengikuti terus kemanapun dan dimanapun seseorang berada. Pikiran dan pandangan tidak selalu melihat ke atas namun cobalah melihat ke bawah. Dengan demikian apa yang dialami sendiri, dialami juga oleh orang lain. Pahala, cobaan, kelahiran, kehidupan, sakit, sengsara, kematian hanyalah masalah waktu, tidak bisa dihindari. Suka duka lara pati merupakan perjalanan hidup manusia ibarat roda yang berputar dan berputar terus (Punarbhawa) sebelum mencapai alam Brahman yaitu Moksa. Perwujudan suka berupa sorga dan perwujudan duka lara berupa neraka adalah bagian yang tak terpisahkan dari karma masing-masing. Apa yang diperbuat dan tidak diperbuat, pahala dan hukuman selalu melekat dalam dirinya (Karma Wasana).

Dalam Bhagawadgita II. 58 dinyatakan : “Duhkheswana dwignamanah, sukhesuwigata spritah, witaraga bhaya krodhah, sthitadhir munir ucyate “

Yang artinya Seseorang yang tidak sedih dikala duka, tidak kegirangan dikala bahagia, bebas dari nafsu, takut dan kemarahan , Ia disebut orang suci.
Agama Hindu mengajarkan bahwa di dunia ini tidak ada yang kekal dan suatu saat akan dikembalikan kepada asalnya oleh Sanghyang Widhi Wasa. Karena itu manusia senantiasa diajarkan untuk berbuat baik dan benar agar dalam kehidupan nanti dapat menikmati kebahagiaan sejati yaitu suka tanpa
(4)

wali duka yang berarti kebahagiaan tanpa kembalinya penderitaan. Penderitaan dapat dipandang dari dua sisi yakni pertama ; penderitaan sebagai hukuman sekaligus pembersih atau pelebur. Kedua ; penderitaan sebagai anugrah. Melalui penderitaan seseorang dapat lebih memahami dan tumbuhnya kesadaran. Hal tersebut bukan berarti mencari-cari penderitaan agar segera mendapatkan anugrah atau melebur segala perbuatan yang tidak baik atau segala kesalahan. Hal ini semata-mata sebagai motivasi untuk membangkitkan kesadaran yang sempat hilang atau terhalang oleh kabut duniawi.
Dalam kitab Manawa Dharmasastra dinyatakan saat dunia ini diciptakan diawali dengan gelap hingga terciptanya makhluk hidup. Sesuatu yang gelap dan ketiadaan kemudian menjadi terang dan ada. Gelap sebagai perwujudan kosong, sepi, hening namun sesungguhnya ada suatu kekuatan sinar suci yang hanya tampak bagi orang suci. Nyepi memberi makna pengosongan pikiran dan menarik indria dari ikatan duniawi. Dengan demikian Nyepi adalah kegiatan yoga untuk membersihkan dan mensucikan diri dari endapan panca tan matra dan panca budhindria, yang meliputi gerak seluruh anggota tubuh dan indria.
Dalam perayaan Nyepi ada empat kegiatan inti yang diawali dengan Melis/Melasti, Tawur Agung kemudian dilanjutkan dengan Catur Brata Penyepian dan Dharma Santi.

Pertama ; Melis/Melasti.
Makna dari Melis/Melasti ini adalah memohon amertha untuk mensucikan sarana upacara dan upakara serta membersihkan diri di laut (pantai). Filosofinya bahwa laut adalah sebagai sumber dan kembalinya segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan (Amertha) dan sebagai tempat peleburan dan penyucian (Prayascita). Dewa Baruna atau Sagara sebagai penguasa laut.

(5)

Kedua ; Tawur Kasanga.
Makna dari Tawur Kasanga adalah untuk mensucikan bhuana agung (makrokosmos) dan bhuana alit (mikrokosmos). Alam dan makhluk hidup disucikan agar dapat hidup dengan harmonis, bahagia dan sejahtera.

Ketiga ; Catur Brata Penyepian.
Makna dari Catur Brata Penyepian adalah mengendalikan diri yang terdiri dari amati gni yaitu tidak menyalakan api, yang diwujudkan dengan puasa (tidak makan dan minum), amati karya yaitu tidak beraktifitas/bekerja yang diwujudkan dengan mengistirahatkan seluruh indria, amati lelungan yaitu tidak bepergian yang diwujudkan dengan tinggal di tempat (rumah atau Pura), amati lelangunan yaitu tidak bersenang-senang yang diwujudkan dengan tidak melakukan kegiatan yang bersifat hiburan duniawi. Mengendalikan empat hal ini dengan maksud menyucikan diri secara lahir dan bathin serta memberikan dampak positip pada pembentukan karakter antara lain dari kesalahan menuju kebenaran, dari kegelapan menuju penerangan.

Keempat ; Dharma Santi
Makna dari Dharma Santi ini adalah saling minta maaf antar sesama mulai dari keluarga sampai orang lain agar tercipta kedamaian.

3. Kesimpulan.
Sebagai kesimpulan bahwa kegelapan (awidya) menyebabkan kehancuran diri sebagai akibat dari sifat-sifat (raksasa) manusia yang tidak terkendali. Karena itu diperlukan kekuatan spiritual untuk menyucikan diri dan alam semesta dengan melakukan rangkaian kegiatan Hari Raya Nyepi yaitu Melis/Melasti, Tawur Kasanga, Catur Brata Penyepian dan Dharma Santi.

Selamat Hari Raya Nyepi 1932 Saka.

Om Santi Santi Santi Om


PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
KABUPATEN BEKASI












Nyepi dalam Kegelapan




RENUNGAN AGAMA HINDU
EDISI : 26/ II / 2010



Penanggung jawab : Pengurus PHDI Kabupaten Bekasi. Staf Redaksi : Drs. AAG. Raka Putra, I Putu Badung, Mpd, I B Adi Candra, S.Si, I Made Awanita, S.Ag. M.si, Ir. I Nyoman Mertasari, I Wayan Sudiarta. Tata Usaha & Distribusi : Ir. I Wayan Darmanta, IGB Virgo, I Wayan Brata, S.Ag.Alamat Redaksi : Perumh. Graha Prima L 16 No. 8 Mangunjaya Tambun Bekasi Jawa-Barat.Telp. 021 88336171





Jujur sebagai jalan dharma

Om Swastyastu

1. Umum. Tulisan ini mencoba membantah anggapan bahwa siapa yang jujur dia akan hancur. Tulisan ini mengkaji lebih dalam tentang hakikat jujur sesuai kitab suci. Hampir setiap saat ”jujur” selalu meghiasi perjalanan kehidupan manusia baik kehidupan orang lain maupun kehidupan diri sendiri. Di satu pihak jujur sering menjadi dilema dan di pihak lain jujur justru menjadi realita kehidupan yang harus dihadapi dengan kesabaran yang tinggi. Seiring perkembangan jaman nyaris jujur sebagai hal yang langka kita temui. Jujur itu hanya penghias bibir dan sebatas angan-angan ideal belaka. Sehingga yang terjadi seseorang terjebak pada posisi yang tidak meyakinkan akan ajaran ”jujur” Satyam ewa jayate na anrtam (Kejujuran yang akan menang bukan ketidak jujuran)

2. Landasan. Adapun yang menjadi landasan perbuatan, perkataan dan pikiran yang jujur adalah Dharma. Dharma mempunyai tujuh segi yakni kebenaran, watak, kebajikan, pengendalian indra, tapa, menjauhi nafsu/keinginan duniawi, tanpa kekerasan. Disamping itu manusia harus memiliki 3 aspek watak untuk mencapai sukses dalam bidang kerohanian yakni aspek pertama ; kesucian, kesalehan, kebaikan. Aspek kedua ; toleransi, kesabaran, ketabahan. Aspek ketiga ; ketetapan hati, kebulatan tekad, keuletan. Salah satu segi Dharma yakni pengendalian indra disebut Dama. Jika dibalik menjadi Mada yang artinya angkuh. Jika orang yang telah mampu mengendalikan indra mendapat sebutan Sakshara yang artinya orang yang menjadi pemimpin. Jika kata Sakshara dibalik akan menjadi Raksasa atau iblis. Sifat Dama yang mengutamakan kerendahan hati dan sifat Sakshara yang selalu menjadi pemimpin dalam mengamalkan ajaran dharma melalui ketauladanan
(2)


3. Ceritra tentang Jujur. Pada suatu hari ada seorang Jagadguru, guru besar yang banyak menolong orang agar maju dalam bidang kerohanian. Bilamana ada orang yang datang, guru ini menanyakan tentang tingkah laku dan wataknya untuk menentukan sifat-sifat orang itu. Sesuai dengan kualitas dan tingkat perkembangan rohaninya, sang guru memberikan mantra. Seorang pencuri, setelah mengetahui kebesaran jagadguru ini, datang kepadanya. ”Baik Nak, bagaimana sifat-sifatmu ? Apakah kelemahanmu ?” Pencuri itu berkata, ”Sifat saya yang tidak baik adalah memasuki rumah demi rumah pada tengah malam dan mencuri barang-barang dalam rumah itu. Karena malam hari saya mencuri, siang hari saya mabuk dan tidur. Minum adalah kebiasaan buruk saya yang kedua. Jika polisi menangkap saya, maka untuk menyelamatkan diri, saya berbohong. Itu kebiasaan buruk saya yang ketiga.” Mahatma bertanya kepadanya, ” Baik Nak, dapatkah engkau menghilangkan satu dari tiga sifat yang buruk itu ?” Ia berpikir sebentar, ”Jika aku tidak mencuri, bagaimana aku mengurus keluargaku, anak-anak dan istriku ? Tidak, aku tidak bisa meninggalkan kebiasaan ini. Hanya bila badanku sehat dan kuat aku bisa lolos jika tertangkap. Jadi aku harus cukup tidur dan minum dapat menolongku agar gampang tidur pada siang hari. Tetapi tidak mungkin polisi sering menangkap aku ; jadi aku akan meninggalkan kebiasaan berbohong”. Lalu orang mulia ini bertanya, ”Dapatkah engkau berjanji bahwa engkau akan selalu mengatakan yang benar mulai besok dan seterusnya ?” Pencuri itu menjawab, ”Pasti. Bahkan mulai hari ini saya hanya akan berkata yang benar”. Inilah tekad pencuri itu. Betul-betul sejak hari itu ia selalu berkata jujur kemanapun ia pergi.
Pada suatu musim panas, malam hari udara panas sekali. Pada masa itu tidak ada pendingin ruangan bahkan kipas anginpun tidak ada. Seorang Walikota kota tertentu, orang yang sangat kaya, sedang beristirahat di teras lotengnya. Karena udara
(3)


malam yang panas dan pengap, ia tidak bisa tidur. Pencuri tadi berhasil memanjat ke teras loteng, orang kaya tersebut melihatnya dan tahu bahwa orang itu pencuri. Ia menegurnya dan berkata, ”Hai siapa itu ?” Karena pencuri jujur, ia menjawab, ”Saya pencuri”. Untuk mengetahui apa rencana orang itu, orang kaya berkata, ”Oh ya? Baik, saya juga pencuri”. Mereka sepakat untuk bekerja sama dan mereka merencanakan mencuri beberapa barang berharga yang disimpan dalam rumah. Orang kaya berkata kepada pencuri, ”Ada banyak barang perhiasan terkunci dalam peti di rumah orang kaya ini, tetapi akan sulit membuka peti itu kalau kita tidak mendapat kuncinya. Biar saya masuk ke rumah, barangkali saya bisa mencuri kunci peti itu” Orang kaya itu berkata lagi, ”Saya sedang menunggu seseorang yang bisa menjaga saya. Sekarang karena ada teman seperti engkau, saya mau masuk”
Ia tinggalkan pencuri itu dan berpura-pura mendobrak rumah, lalu masuk. Ia sibuk mondar mandir dan menunda keluar rumah beberapa saat. Kemudian ia mengambil kunci dan diam-diam keluar. Ia berkata kepada pencuri. ”Nah, ini kuncinya, tetapi saya cari petinya dimana-mana tidak ketemu. Biar saya yang berjaga di luar dan engkau masuk. Barangkali engkau bisa menemukan peti itu dan mengambil perhiasan yang disimpan pemiliknya” Orang kaya ini menyimpan tiga butir berlian besar di dalam peti. Pencuri masuk dan segera menemukan peti itu ; peti dibuka dan tiga butir berlian diambil. Segera timbul masalah dalam pikirannya. Bagaimana membagi tiga berlian itu diantara mereka berdua ? karena pencuri ini mengikuti jalan kebenaran, secara otomatis sekelumit kebajikan timbul dalam dirinya. Ia membawa ketiga berlian itu keluar dan berkata kepada orang kaya, ”Bung. Anda ambil satu berlian. Saya bawa satu. Berlian ketiga tidak dapat dipecah. Saya akan mengembalikan berlian itu untuk dia sendiri” Dengan keputusan ini pencuri masuk kembali dan menaruh satu dari tiga berlian itu ke dalam peti, kemudian ia kembali ke loteng.
(4)


Setelah selesai pembagian, pencuri itu akan pergi, tetapi orang kaya berkata kepadanya. ”Bung, barangkali kita bisa bekerja sama seperti ini lagi di kemudian hari. Tolong beri saya alamat anda sehingga saya dapat menghubungi anda.” Karena harus jujur, pencuri memberikan alamat yang sebenarnya. Keesokan harinya orang kaya ini yang menjadi Wali Kota itu mengambil alamat itu dan memerintahkan pegawainya agar dibuat pengaduan kepada polisi tentang hilangnya berlian dari petinya. Ia menyuruh polisi pergi ke kampung sesuai dengan alamat yang diberikan dan menangkap pencuri yang tinggal di sana. Pencuri itu telah terkenal di kampungnya. Polisi pergi ke sana dan dengan mudah menemukan si pencuri. Mereka menangkapnya dan membawanya ke Wali Kota. Pencuri tidak mengenali Wali Kota yang kemarin menjadi rekan kerjanya mencuri.
Wali Kota lalu bertanya kepada pencuri. ”Bagaimana caramu mendapatkan berlian ini ?” Pencuri menceritakan dengan cermat petualangannya langkah demi langkah. Ia ceritakan bagaimana ia naik ke loteng, mendapat teman untuk bekerja sama, memasuki rumah, membuka peti, mengambil tiga berlian, memberikan satu berlian kepada temannya, satu untuk dirinya sendiri, lalu kembali masuk ke rumah dan membuka peti lagi, kemudian mengembalikan satu berlian. Seluruh kejadian ini diceritakannya. Wali Kota memanggil Kepala Kantornya dan berkata, ”Pergilah dan lihat apakah masih ada satu berlian di dalam peti” Kepala Kantor itu mengambil kunci peti. Ia berpikir, ”Adakah pencuri yang mengembalikan berlian ?” Sambil berpikir begitu ia membuka peti, melihat berlian yang telah dikembalikan oleh pencuri, lalu mengantonginya dan kembali ke Wali Kota, melaporkan bahwa tidak akan ada berlian di dalam peti.
Wali Kota lalu memanggil pencuri itu. Ia berkata , ”Saya tahu bahwa apa yang engkau ceritakan kepada saya semuanya benar.
(5)


Karena itu, mulai hari ini engkau saya angkat menjadi Kepala Kantor saya. Hanya orang yang jujur boleh menjadi pegawai. Sayang sekali engkau telah menjadi pencuri, tetapi sifatmu tidak begitu” Orang ini sekarang tidak mencuri lagi dan menjadi pegawai tinggi ; ia selalu berkata jujur. Dengan sendirinya lama kelamaan ia berhenti minum minuman keras dan mencuri ; kemudian menjadi manusia yang lurus dan jujur.
Mungkin pada mulanya engkau menemui banyak kesusahan karena berpegang teguh pada kejujuran. Walaupun menanggung kesusahan, jika engkau tetap mengikuti jalan kejujuran, akhirnya sifat jujur ini akan membuat engkau senang dan bahagia dan memberimu keberhasilan dalam segala usaha. Karena itu untuk meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan umat manusia, Bhagawadgita mengajarkan bahwa kita harus selalu bersikap jujur. Kebenaran adalah cara hidup yang mulia dan jalan kebenaran itu adalah satu-satunya jalan untuk membina tingkah laku yang benar dalam masyarakat. ”Dimana ada Dharma, kebajikan dan kesucian serta dimana kewajiban dan kebenaran dipatuhi di sana akan ada kemenangan. Orang yang melindungi Dharma akan dilindungi oleh Dharma”


4. Kesimpulan.
Jujur terhadap diri sendiri merupakan langkah awal membuka hati dan pikiran yang kabut. Kesempatan menempa diri untuk mengetahui sejauh mana kualitas jujur dalam diri dibutuhkan tiga aspek watak dalam bidang kerohanian yakni aspek pertama ; kesucian, kesalehan, kebaikan. Aspek kedua ; toleransi, kesabaran, ketabahan. Aspek ketiga ; ketetapan hati, kebulatan tekad, keuletan. Ketiga aspek watak ini harus ditopang dengan pengendalian indra yang disebut Dama dan mampu mengendalikan indra sehingga orang menjadi pemimpin yang disebut Sakshara.
Om Santi Sati Santi Om

PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
KABUPATEN BEKASI












Jujur sebagai jalan dharma





RENUNGAN AGAMA HINDU
EDISI : 27/ III / 2010



Penanggung jawab : Pengurus PHDI Kabupaten Bekasi. Staf Redaksi : Drs. AAG. Raka Putra, I Putu Badung, Mpd, I B Adi Candra, S.Si, I Made Awanita, S.Ag. M.si, Ir. I Nyoman Mertasari, I Wayan Sudiarta. Tata Usaha & Distribusi : Ir. I Wayan Darmanta, IGB Virgo, I Wayan Brata, S.Ag.Alamat Redaksi : Perumh. Graha Prima L 16 No. 8 Mangunjaya Tambun Bekasi Jawa-Barat.Telp. 021 88336171




MAKNA GALUNGAN & KUNINGAN

1. Umum.
Pada Hari Raya Galungan dan Kuningan dilakukan pemujaan kepada Sanghyang Widhi Wasa yang dilakukan dengan penuh kesucian dan ketulusan hati, memohon kesejahteraan dan keselamatan hidup serta agar dijauhkan dari awidya. Hari Raya Galungan adalah hari pawedalan jagat yaitu pemujaan bahwa telah terciptanya jagat dengan segala isinya oleh Hyang Widhi. Galungan dirayakan setiap 210 hari sekali yang jatuh pada hari Rabu Kliwon Wuku Dungulan.
Galungan merupakan perlambang perjuangan antara yang benar (Dharma) melawan yang tidak benar (Adharma) dan juga sebagai pernyataan rasa terima kasih atas kemakmuran dan alam yang diciptakan Hyang Widhi ini.
Disamping itu pula, perayaan Galungan dengan maksud untuk menyatakan terima kasih dan rasa bahagia atas kemurahan Hyang Widhi yang dibayangkan telah berkenan turun dengan diiringi oleh para Dewa dan para Pitara ke dunia ini.
Sehari sebelum Galungan yaitu pada hari Selasa Wage Wuku Dungulan disebut hari penampahan. Mulai saat Penampahan ini segala bentuk nafsu hendaknya dikendalikan dalam rangka menyambut hari raya Galungan keesokan harinya. Pada hari Penampahan ini manusia berusaha digoda oleh nafsu-nafsunya yang bersifat negatif, misalnya murka, iri hati, sombong, congkak dan lain-lainnya, yang dilambangkan dengan Sang Kala Tiga. Apabila manusia pada saat itu kurang waspada dan tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri, maka ia akan dikuasai oleh Sang Kala Tiga itu. Akibatnya, maka pada saat itu juga akan timbul adanya dorongan nafsu marah, sering terjadi pertengkaran, perselisihan, kekacauan, kesedihan, penderitaan dan lain sebagainya. Namun bagi orang-orang yang selalu sadar, akan tetap bersikap waspada dan berusaha untuk menaklukan godaan dari Sang kala Tiga dengan mengendalikan nafsu-nafsunya yang bersifat negatif, seperti sad ripu.
2

Secara ritual pengaruh Sang Kala Tiga disucikan dengan upacara Abhyakala yang bertujuan untuk membebaskan diri dan mengharmoniskan hubungan baik bhuwana agung (Makrokosmos) maupun bhuwana alit (Mikrokosmos).
Adapun pemasangan penjor di depan pintu masuk rumah pada perayaan Galungan dan Kuningan sebagai simbul Naga Ananta Bhoga yang ditandai penjor berisi daun-daunan, ubi-ubian, biji-bijian, jenis-jenis jajan, kain, uang kepeng dan sebagainya. Pun juga simbul Naga Basuki yang memberikan keselamatan, bebas dari penyakit dan penderitaan. Kedua Naga ini merupakan lambang dari karunia dan anugrah Sanghyang Widhi Wasa kepada umat manusia yang telah memberikan kesejahteraan, kemakmuran, kebahagiaan dan kedamaian.
Pada perayaan Kuningan dipersembahkan sesajen diantaranya nasi berwarna kuning, sebagai lambang ucapan terima kasih atas kesejahteraan dan kebahagiaan yang dilimpahkan kepada umat manusia. Sedangkan pemasangan Tamiang sebagai simbul alat penangkis dari serangan. Endongan sebagai simbul tempat makanan. Kolem sebagai simbul hening, jernih.


2. Latar Belakang Galungan & Kuningan.

Perayaan Galungan dan Kuningan dilatar belakangi oleh suatu peristiwa atau kejadian masa lalu berkaitan dengan perkembangan ajaran agama Hindu, khususnya di Indonesia.
Menurut sejarah masuknya Hindu ke Indonesia yang diawali di Kutai (Kalimantan) pada abad ke – 4 dengan Raja Mulawarman. Di Jawa Barat berdiri Kerajaan Tarumanagara dengan Raja Purnawarman pada abad ke-6. Pada abad ke-6 juga di Sumatra berdiri Kerajaan Sriwijaya dengan Raja Mauli Warmadewa. Adapun leluhur dari wangsa Warmadewa berasal dari Hindia Timur (Muangthai atau Thailand). Sejalan dengan perkembangan
3

Kerajaan dari wangsa Warman, di Jawa berkembang juga Kerajaan dari Wangsa Sanjaya yang di Jawa dikenal dengan Wangsa Kalingga/Keling. Leluhurnya berasal dari Hindia Selatan. Kedua Kerajaan dan kedua wangsa ini berkembang pesat, ditandai dengan berdirinya Candi Prambanan dan Candi Borobudur. Sampai masuknya kedua wangsa ini ke Bali dengan mendirikan Kerajaan menggantikan Raja-Raja yang sebelumnya berasal dari Bali Aga yaitu orang-orang dari Gunung Rawung yang ada di Jawa Timur yang dibawa oleh Rsi Markandeya. Pada jaman Rsi Markandeya didirikan Pura Besakih. Di Besakih dari Wangsa Warman yang menjadi Raja bernama Sri Kesari Warmadewa dengan nama Kerajaan Singhadwala. Sedangkan di Batur dari Wangsa Sanjaya/ Kalingga/ Keling/ Balingkang yang menjadi Raja bernama Sri Ratu Ugrasena Tabendra dengan nama Kerajaan Singhamandala. Kedua Kerajaan ini saling berperang dan menang kalahpun silih berganti. Pihak Raja Batur Sri Ratu Ugrasena Tabendra terkenal dengan ilmu siluman yang sangat sakti sedangkan pihak Raja Besakih Sri Kesari Warmadewa memiliki limu Kanuragan yang sangat tinggi, sehinga mampu mengimbangi ilmunya Sri Ratu Ugrasena. Sampai pada puncaknya perang yang cukup lama Sri Ratu Ugrasena dapat dikalahkan selama-lamanya dan dikuasainya Kerajaan Batur. Sejak itu rakyat mulai mendapat ketenangan, ketenteraman, kedamaian dan kebahagiaan serta dapat melaksanakan kegiatan agama guna menghaturkan bhakti kepada Sanghyang Widhi wasa Tuhan Yang Maha Esa.

Peristiwa/kejadian ini yang berakhir dengan kekalahan pihak Raja Sri Ratu Ugrasena kemudian diabadikan dalam bentuk perayaan Galungan dan Kuningan, mitologi dan cerita Petopengan dengan judul “Galungan KI Maya Danawa”
Singkat cerita, dikabarkan bahwa Raja Batur KI Maya Danawa memiliki ilmu siluman yang sangat tinggi. Dimana-mana rakyat disihir menjadi macam-macam binatang apabila berbuat kesalahan.
4

Demikian pula para prajurit dibekali ilmu silmuan, sehingga bisa berubah wujud sekehendak hati. Kesukaan Raja ialah menyantap daging binatang maupun manusia. Sehingga sebagian rakyat menjadi cemas dan takut akan menjadi santapan Sang ratu, akhirnya banyak rakyat Batur yang mengungsi pergi menuju Besakih. Karena di Besakih, suasananya sungguh jauh berbeda dimana adanya ketentraman, keramaian, kebahagiaan, banyak yang sembahyang ke Pura dan lain sebagainya. Apa yang terjadi di Kerajaan Batur didengar oleh Raja Besakih Dewa Wisnu dan Dewa Indra. Sehingga berencana mengadakan serangan ke Batur dengan pusat kerajaan di Bukit Penulisan. Sedangkan di Besakih, Pura Dalem Puri sebagai markas prajurit, Pura Dalem/Mrajan Salunding sebagai markas Panglima Perang dan tempat senjata sakti Dewa Wisnu dan Dewa Indra. Serangan pertama, sudah diantisipasi oleh pihak Ki Maya Danawa dengan membuat siluman dan racun udara. Hal ini tidak berlangsung lama, kemudian serangan berikutnya, Dewa Wisnu mengeluarkan ilmu Kanuragan pengelepas racun dan pengaruh maya yang disebut :
-AJI PENGAWASAN (DETEKSI ALAM GAIB)
-CAKRA WAYU (KEKUAT.TENAGA DALAM)
-AJI TATELIK (ILMU TANDA-TANDAPENYAKIT)
-AJI PEMUSNAH RACUN
-AJIAN CAKRA WAYU WISNU MURUB (GUNTUR,
PETIR, HUJAN, ANGIN KENCANG SAMPAI BANJIR ).
-KI SURYA CHANDRA DEWA MURUB
(MATAHARI & BULAN DIKUASAI DEWA)
-AJIAN SIGAR BUANA BALAHA AKASA
(AJIAN MEMBELAH BUMI & ANGKASA)
MEMANAH KE ARAH TANAH KELUAR AIR BESAR (TIRTHA MPUL)
DIPANAH ARCA PD TENGAH HARI MENGENAI KEPALA ARCA,4 ANAK PANAH (2KAKI 2TANGAN)
5 ANAK PANAH(LEHER,DUBUR, LAMBUNG KANAN /
KIRI, ULU HATI)
Kemudian Ki Maya Danawa melarikan diri sambil berubah wujud / siluman bermacam-macam yang nanti menjadi nama sebuah desa :
5


SILUMAN BURUNG BERBULU EMAS ( Ds.Manukaya)
SILUMAN BUSUNG (Ds.Belusung).
SILUMAN BASANG AMBU (Ds. Basang Ambu).
SILUMAN PANCURAN AIR RACUN/ CETIK (S.Petanu)
SILUMAN BATU BESAR (Ds. Batubulan).
SILUMAN ARCA DI TEPIAN JURANG
KMD MINTA PENYUPATAN DGN UPACARA KURBAN
SILUMAN KEPALA ARCA DITEMUKAN (Ds. Yeh Pulu)
Akhirnya permintaan Ki Maya Danawa dipenuhi Dewa Wisnu dan Dewa Indra dengan selalu memperingati kejadian ini dengan menghaturkan persembahan yang ditujukan kepada Dewi Durgha agar berubah wujud seperti semula menjadi Dewi Uma.
Hari Raya Galungan diperkirakan sudah ada di Indonesia sejak abad ke XI. Hal ini didasarkan atas antara lain Kidung Panji Malat Rasmi dan Pararaton Kerajaan majapahit. Di Bali sebelum pemerintahan Raja Sri Jaya Kasunu, perayaan Galungan pernah tidak dilaksanakan, oleh karena Raja-Raja pada jaman itu kurang memperhatikan upacara keagamaan. Hal tersebut mengakibatkan kehidupan rakyat sangat menderita dan umur Raja-Raja sangat pendek-pendek. Kemudian setelah Sri Jaya Kasunu naik tahta dan juga setelah mendapatkan pewarah-warah dari Bhatari Durgha atas permohonannya, maka Galungan kembali dirayakan. Di India perayaan semacam ini dinamakan Sradha Wijaya Dasami atau Durgha Wijaya Dasami.

3. Kesimpulan.

Kemenangan pihak Dharma ( kebenaran ) atas Adharma ( kebatilan ) merupakan tonggak peringatan yang dikenal dengan nama Galungan dan Kuningan. Hal ini dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari terutama bagaimana menghadapi musuh terbesar yang ada pada diri manusia berupa hawa nafsu yang tidak terkendali. Dalam ajaran agama Hindu dikenal dengan Sad Ripu yaitu Kama ( hawa nafsu), Krodha (kejam dan pemarah), Loba (rakus dan serakah), Mada ( sifat mabuk), Moha (bingung dan angkuh), Matsarya (dengki dan iri hati).
Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan.

PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
KABUPATEN BEKASI












MAKNA GALUNGAN & KUNINGAN





RENUNGAN AGAMA HINDU
EDISI : / 2010



Penanggung jawab : Pengurus PHDI Kabupaten Bekasi. Staf Redaksi : Drs. AAG. Raka Putra, I Putu Badung, Mpd, I B Adi Candra, S.Si, I Made Awanita, S.Ag. M.si, Ir. I Nyoman Mertasari, I Wayan Sudiarta. Tata Usaha & Distribusi : Ir. I Wayan Darmanta, IGB Virgo, I Wayan Brata, S.Ag.Alamat Redaksi : Perumh. Graha Prima L 16 No. 8 Mangunjaya Tambun Bekasi Jawa-Barat.Telp. 021 88336171





DHARMA SEBAGAI PEDOMAN HIDUP

Umat sedharma tentunya tidak asing lagi bila mendengar atau membaca kata “Dharma”.
Secara umum bisa diartikan kebajikan, kebenaran, keadilan, kejujuran, kebaikan, agama, kewajiban, hukum dan lain sebagainya sesuai dengan konteks kalimat atau seloka yang dimaksud. Secara khusus Dharma berarti ajaran agama Hindu yang memberikan tuntunan kepada umat manusia untuk mencapai kebahagiaan lahir maupun bhatin. Sedangkan secara luas Dharma berarti kebenaran yang hakiki yang harus dipatuhi oleh umat manusia agar memperoleh keselamatan dan kesejahteraan di dunia dan diakhirat.
Patut menjadi renungan, kenapa Dharma menjadi pedoman hidup bagi umat manusia khususnya umat Hindu ?

Pertama, dalam Sarasamuscaya seloka 12 dinyatakan :
“Kamarthaulipsamanastu,dharmmamevaditascaret, nahi dharmmadapetyarthah, kamo vapi kadacana :
Pada hakikatnya jika artha dan kama dituntut, maka seharusnya dharma hendaknya dilakukan lebih dulu ; tak tersangsikan lagi pasti akan diperoleh artha dan kama itu nanti, tidak akan ada artinya jika artha dan kama itu diperoleh menyimpang dari dharma.

Seloka ini memberikan rambu bahwa dalam mencari harta dan menikmati kesenangan hendaknya berdasarkan ajaran dharma yang menyangkut norma atau aturan yang berlaku.
Dikaitkan dengan kondisi saat ini, banyak kalangan sepakat untuk segera memberikan


sangsi hukum terhadap mereka yang terbukti melanggar. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat umum sangat peduli dan menentang segala bentuk pelanggaran termasuk korupsi. Namun sebuah penomena di era reformasi, dimana disatu sisi merupakan penegasan kembali dari seloka yang dimaksud tadi. Akan tetapi di sisi lain yang menentang korupsi tidak menyadari bahwa dirinya juga korupsi, ibaratnya maling teriak maling.

Kedua, dalam Sarasamuscaya seloka 14 dinyatakan :
“Dharma eva plavo nanyah, svargam samabhi vanchatam, saca naurpvanijasstatam,jaladheh paramicchatah :
Yang disebut dharma adalah merupakan jalan untuk pergi ke sorga, sebagai halnya perahu, sesungguhnya merupakan alat bagi saudagar untuk mengarungi lautan.

Dharma sebagai sarana atau jalan bagi manusia memegang peranan sangat penting yang menuntun umat manusia mengarungi kehidupan yang penuh dengan cobaan, ujian dan tantangan untuk mencapai tujuan.

Ketiga, dalam Sarasamuscaya seloka 16 dinyatakan :“Yathadityah samudyan vai tamah, sarvam vyapohati, evam kalvanamatistam, sarvva papam vyapohati : Seperti prilaku matahari yang terbit melenyapkan gelapnya dunia, demikianlah orang yang melakukan dharma dapat memusnahkan segala macam dosa. Orang bijak mengatakan : habis gelap terbitlah terang. Pemaknaan ini merupakan relevansi dari proses kehidupan yang penuh dengan Avidya / kegelapan yang membelenggu


panca indra manusia yang dapat menyebabkan manusia penuh dengan dosa. Karena itu diupayakan untuk membebaskan diri dari kegelapan atau dosa melalui pengamalan ajaran dharma.

Keempat, dalam Manavadharma sastra VIII. 15 dinyatakan :
“Dharma eva hato hanti, dharmo raksati raksatah, tasmad dharmo na hantavyo, mano dharmo hato’vadhit : Keadilan/hukum yang dilanggar menghancurkan, keadilan yang dipelihara/dijaga akan menjaminnya/ menjaganya, oleh karena itu keadilan/hukum jangan dilanggar, melanggar keadilan akan menghancurkan kita sendiri.

Sejalan dengan itu, dalam Bhagavadgita IV. 7 & 8 ditegaskan :
“Yada-yada hi dharmasya, glanir bhavati bharata, abhyutthanam adharmasya, tada’manam srijamyaham : Sesungguhnya manakala dharma berkurang (tidak lagi dipatuhi ) dan kebatilan hendak merajalela O Arjuna, saat itu maka Aku ciptakan diriku sendiri.
“Paritranaya sadhunam, vinasaya ca duskritam, dharma samsthapanarthaya, sambhavami yuge-yuge : Untuk melindungi orang-orang yang baik dan untuk memusnahkan orang yang jahat, demi untuk menegakkan (Dharma) hukum Aku lahir ke dunia dari masa ke masa.

Jika direnungkan maka keberadaan Dharma sangatlah penting bagi umat manusia di dunia ini, karena mempunyai fungsi sosial keagamaan, fungsi pembentukan karakter/watak, dan fungsi keseimbangan hidup. Pengamalan ajaran dharma hendaknya



dilakukan dengan segenap jiwa , raga dan hati serta pikiran kita yaitu bersatunya sabda, bayu dan idep. Konsistensi sikap dan tindakan sebagai cermin orang dharmais, bukan topeng ataupun badut. Pengamalan ajaran dharma merupakan perbuatan kebajikan yang mengantarkan kita menuju kehidupan yang harmonis, tenteram, bahagia dan sejahtera serta dapat memusnahkan segala macam dosa sebagai pahala dari Sanghyang Widhi Wasa.











































































































MAKNA SIWARATRI


Hari suci Siwaratri jatuh pada purwanining Tilem ke VII (Kepitu) yaitu sehari sebelum bulan mati. Pelaksanaan tapa brata Siwaratri selama 36 jam mulai pukul 06.15 sampai dengan pukul 18.15 pada keesokan harinya. Ada tiga pokok kewajiban yang harus dilakukan dalam pelaksanaan brata Siwaratri. Pertama, Mona brata yaitu tidak berbicara atau berbicara berdasarkan Dharma sesuai tuntunan Wacika Parisudha antara lain tidak mencaci maki, tidak berkata kasar kepada mahkluk lain, tidak memfitnah, tidak ingkar janji/ucapan selama 12 jam / 06.15 s/d 18.15. Kedua, Upawasa yaitu puasa tidak makan dan minum selama 24 jam / 06.15 s/d 06.15 keesokan pagi harinya. Ketiga, Jagra yaitu melek selama 36 jam / 06.15 s/d 18.15 keesokan sore harinya. Siwaratri yang berarti malam perenungan suci untuk memuja Siwa agar diberikan pengampunan atas dosa yang telah diperbuat pada masa sebelumnya. Siwa adalah Dewa manifestasi Tuhan Yang Maha Esa yang fungsinya sebagai pelebur alam semesta beserta isinya. Karena itu segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, setelah diciptakan dan dipelihara suatu saat ada masa peleburan atau dikembalikan ke asalnya dimana Siwa sebagai penguasanya.

Di dalam Lontar Lubdhaka yang ditulis oleh Mpu Tanakung mengenai pelaksanaan Siwaratri ini disebutkan bahwa pertama-tama pada waktu siang harinya kita mandi

(2)

yang bersih dan metirtha dengan berpakaian yang bersih serta kemudian mulailah berpuasa tanpa makan dan minum dengan maksud untuk melatih mental agar mempunyai kekuatan dan daya tahan terhadap perasaan haus dan lapar. Kemudian pada waktu malam harinya dilanjutkan dengan sambang samadhi yakni tidak tidur semalam suntuk dengan menenangkan pikiran sambil membaca kitab suci Weda serta mengadakan pemujaan kehadapan Hyang Widhi untuk memohon pengampunan dan peleburan dosa-dosa yang diperbuat sebelumnya.
Pada malam Siwaratri, setiap orang mendapat kesempatan untuk melebur perbuatan buruknya (dosanya) dengan jalan melaksanakan brata Siwaratri. Hal ini dinyatakan dalam kitab Padma Purana, bahwa sesungguhnya malam Siwaratri itu adalah malam peleburan dosa yang dilakukan seseorang di dalam hidupnya.
Di dalam lontar Lubdhaka dinyatakan, bahwa sungguhpun orang itu sangat berdosa, bahkan yang paling berdosa sekalipun, masih mendapat kesempatan untuk melebur dosanya jika dia merayakan dan melaksanakan brata Siwaratri. Hal ini dilukiskan dalam mithologi Lubdhaka, bahwa betapa besar dosa seorang pemburu, karena dia pembunuh binatang. Namun karena ia taat melaksanakan brata Siwaratri pada masa hidupnya, sadar akan perbuatannya dan bertobat kepada Hyang Widhi, maka setelah meninggal ia masuk sorga. Maksud dan pusat gagasan yang tertuang dalam mithologi tersebut, secara implisit dirangkum dalam judul cerita dan simbolik nama yang
(3)

dipakai kata Lubdhaka merupakan kata pengganti manusia yang pada umumnya masih dibelenggu oleh kebodohan, keserakahan, ke-angkaramurkaan dan setiap langkahnya selalu digerakkan oleh ego ( keakuan). Mpu Tanakung mengajarkan bahwa manusia yang paling berdosa sekalipun masih mendapat kesempatan untuk melebur dosanya apabila di dalam hidupnya ia sadar, selalu menyentuh dan sujud bhakti kepada Hyang Widhi.
Sepintas kilas, apa yang termaktub dalam lontar Lubdhaka tersebut nampaknya berlawanan dengan hukum Karmaphala sebagai salah satu dasar keimanan dalam ajaran agama Hindu. Namun apabila direnungkan secara mendalam, tidaklah demikian halnya, karena hukum Karmaphala tetap berlaku. Setiap perbuatan baik ataupun buruk mesti akan membawa pahala atau hasil. Sebagaimana yang dilukiskan oleh Mpu Tanakung tentang siksaaan berat yang dialami dan diderita oleh Lubdhaka ketika ia dihukum oleh para Antaka ( rakyat Dewa Yama / Dewa keadilan ) sebagai pahala dari hasil karmanya yang ia lakukan semasa hidup. Akan tetapi siksaan itu berakhir karena mendapat pertolongan dari Dewa Siwa serentak setelah Lubdhaka menyadari akan dirinya yang penuh dengan dosa dan segera berseru kepada istri, anak dan sanak familinya agar selalu berbuat baik dan bertobat kepada Hyang Widhi atas dosa-dosa yang pernah dilakukan.
Proses kesadaran inipun sebagai akibat dari proses pencerahan yang pernah dialami oleh Lubdhaka ketika ia masih hidup yakni dari suasana hidup kegelapan sebagai
(4)


pemburu yang amati-mati sato ( membunuh binatang sebagai lukisan mengikuti hawa nafsunya ) berubah dengan serentak menjadi suasana hidup yang terang setelah ia melaksanakan brata Siwaratri.

Kesimpulannya, makna Siwaratri hendaknya ditransformasikan dalam diri manusia yang masih diliputi Awidya ( kegelapan, kebodohan, ego/aku, hawa nafsu ) menuju pada pencerahan diri yang sadar akan tugas dan kewajiban manusia hidup di dunia ini untuk secara terus menerus meningkatkan kualitas diri manusia.











































































IMPLEMENTASI MAKNA SARASWATI

Hari suci Saraswati diperingati setiap 210 hari / 6 bulan kalender pawukon, pada hari Saniscara/Sabtu Umanis Watugunung. Kegiatan yang dilakukan adalah pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta dan sumber ilmu pengetahuan melalui persembahyangan dan tapa brata. Karena itu Hari Raya Saraswati diperingati sebagai turunnya wahyu Weda ke dunia ini yang diterima melalui para Maha Rsi di tanah India. Dari berbagai pendapat para ahli menyatakan bahwa kitab suci Weda diturunkan sekitar tahun 1.500 bahkan tahun 6.000 SM. Terlepas dari berbagai pendapat tentang kepastian kapan Weda diturunkan, pada kenyataannya sampai saat ini Weda masih eksis dan kebenarannya tidak diragukan.

Weda yang berarti ilmu pengetahuan suci, memegang peranan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup dan spiritualitas manusia. Ibarat obor dalam kegelapan yang dapat memberikan penerangan kepada semua makhluk ciptaan Tuhan/Hyang Widhi Wasa. “Widya sastra sudharma sumene dipanikanang tribhuana sumena prabaswara yang artinya ilmu pengetahuan, sastra utama sebagai pelita menerangi ketiga alam dunia dengan sempurna“ demikian dinyatakan dalam kitab Nitisastra IV.
Ada dua sisi akibat dari ilmu pengetahuan yaitu pertama berakibat kesejahteraan/ kebahagiaan dan kedua berakibat kerusakan/ kehancuran. Disinilah letak kemampuan dan kesadaran seberapa bijak umat manusia mengembangkan dan mengamalkan ilmu pengetahuan secara baik, benar dan tepat. Ibarat pisau bermata dua yang memiliki fungsi ganda. Sudah barang tentu disini manusia bukan hanya bersifat fisik/materi, akan tetapi ia juga bersifat mental/rohani yang menggerakkan seluruh bagian tubuh.
Di dalam Weda terdapat cabang-cabang ilmu pengetahuan, Pertama; kelompok Weda Sruti yang terdiri dari : Reg Weda, Sama Weda, Yajur Weda, Atharwa Weda , Kedua; kelompok Weda Smrti terdiri dari Manawa Dharmasastra, Sad Angga Weda ( Siksa, Wyakarana, Nirukta, Chanda, Jyotisa, Kalpa ), Upa Weda ( Itihasa = Ramayana & Mahabharata, Ayur Weda, Artha Sastra, Gandharwa Weda ).

Kitab suci Bhagawadgita IV. 33 mengajarkan bahwa persembahan berupa ilmu pengetahuan lebih mulia dari persembahan materi. Karena itu manusia terus berupaya mengembangkan ilmu pengetahuan sebagai nilai yang abadi. Seumpama kita memberikan materi yang bersifat sementara kepada seseorang dan pada akhirnya habis, akan lebih berarti dan bermanfaat memberikan ilmu pengetahuan kepada seseorang yang dapat dipergunakan untuk mencari materi/harta sendiri. Ini dimaksudkan untuk tujuan yang lebih panjang.

Manusia yang diliputi berbagai kesalahan dan dosa dapat diatasi dengan mempelajari serta mengamalkan Ilmu pengetahuan secara baik, benar dan tepat. Seperti dinyatakan dalam Bhagawadgita IV 36 : “Walau seandainya engkau paling berdosa diantara manusia yang memikul dosa dengan perahu ilmu pengetahuan lautan dosa engkau akan seberangi”.
Jika direnungkan betapa besar peranan ilmu pengetahuan dalam mengantarkan manusia menuju kepada kebahagiaan.
Ilmu pengetahuan yang telah diturunkan kepada umat manusia tentunya mempunyai dua implikasi yaitu positip dan negatif. Jika ilmu pengetahuan diterapkan dalam konteks kesejahteraan, kedamaian, kebahagiaan seluruh umat manusia dapat dikatakan telah berdasarkan pada ajaran agama / Dharma. Demikian sebaliknya apabila ilmu pengetahuan diterapkan semata-mata untuk kehancuran umat manusia yang mengikuti hawa nafsu dapat dikatakan sebagai penyalahgunaan ilmu pengetahuan. Seyogyanya orang yang berilmu adalah orang yang mengabdikan dirinya untuk kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia. Bukan malah sebaliknya ilmu pengetahuan yang dimiliki untuk menyakiti dan merugikan orang lain, kelompok maupun masyarakat. Orang bijak bilang bahwa ilmu tanpa agama akan lumpuh, agama tanpa ilmu akan hancur.

Karena itu dalam memperingati dan merayakan hari suci Saraswati ini umat manusia senantiasa sadar dan menghormati ilmu pengetahuan dengan memuja Dewi Saraswati sebagai pencipta, ibu dari segala mantram Weda yang senantiasa mengalir seperti air sungai yang suci memberikan kehidupan kepada umat manusia.






Kesimpulannya, bahwa hari suci Saraswati sebagai pemujaan kepada Dewi Saraswati penguasa ilmu pengetahuan yang diturunkan ke dunia untuk memberikan pencerahan dan penerangan kepada umat manusia guna membebaskan diri dari dosa dengan cara berkarma yaitu bekerja mengamalkan ilmu pengetahuan secara baik, benar dan tepat bagi kesejahteraan dan kebahagiaan.






























































































































CATUR BRATA PENYEPIAN PADA HARI RAYA NYEPI

Hari raya Nyepi sebagai peringatan tahun baru saka untuk mengenang kebijakan dan kemahsyuran Raja Kaniska I dari suku bangsa saka dinasti kusana yang dinobatkan pada tahun 78 Masehi. Kebijakan dalam menjalankan pemerintahan tidak lagi menggunakan cara-cara fisik dengan kekuatan bersenjata melainkan dirubah melalui pendekatan strategi budaya dan kerukunan hidup beragama. Hal tersebut memberikan hasil dan dampak yang cukup luas bagi suku bangsa yang lain untuk mengikuti jejaknya. Sehingga pada jamannya kehidupan masyarakat lebih harmonis, aman, tenteram, sejahtera dan bahagia. Sejak itulah peringatan tahun baru saka dilaksanakan dari tahun ke tahun. Sejalan dengan perkembangan agama Hindu dari tanah India sampai ke kawasan Asia termasuk Indonesia peringatan tahun baru saka senantiasa dilaksanakan. Peringatan tahun baru Saka lebih semarak lagi sejak diperkenalkan peringatan tahun baru saka sebagai Hari raya Nyepi pada tahun 1959 berdasarkan keputusan Pesamuan Agung para pemuka agama Hindu, Tokoh Hindu dan Majelis Agama Hindu yang diselenggarakan di Aula Fakultas sastra Universitas Udayana Denpasar pada tanggal 21 Pebruari sampai 22 Pebruari 1959. Berkat asung kerta wara nugraha Sanghyang Widhi Wasa walaupun memakan waktu yang cukup relatif lama tapi membuahkan hasil dengan terbitnya Keputusan Presiden nomor 3 tahun 1983
tanggal 19 Januari 1983 yang menyatakan Hari Raya Nyepi sebagai hari libur nasional. Salah satu rangkaian kegiatan perayaan Nyepi adalah saat pelaksanaan catur brata penyepian pada hari raya Nyepi.

TAHAP PERSIAPAN
1. Kebersihan/Penyucian. Kegiatan ini dapat dilakukan sehari sebelum catur brata penyepian yang bertepatan pula dengan Tawur Kasanga. Dari segi kebersihan bisa dilakukan dengan membersihkan diri dan lingkungan dimana nantinya umat Hindu melaksanakan brata penyepian pada Hari Raya Nyepi. Dari segi penyucian dapat dilakukan bersamaan dengan Tawur Kasanga yang dilanjutkan dengan Ngerupuk di lingkungan masing-masing.

2. Konsumsi / Penerangan Lampu. Hal ini perlu dipersiapkan sehari sebelumnya diperuntukkan bagi anak-anak balita / yang belum mampu / yang sakit. Diupayakan konsumsi berupa makanan dan minuman yang bisa bertahan minimal sehari semalam, seperti ketupat, lalapan, kacang sahur/serondeng, buah-buahan serta air putih untuk minum. Begitu juga dengan penerangan lampu diatur sedemikian rupa sehingga tidak tampak dari luar rumah dan hanya diperuntukkan bagi balita / yang sakit.

TAHAP PELAKSANAAN
1. Kewajiban Dasar umat Hindu. Secara nyata/lahiriah/sekala catur brata penyepian dapat dilakukan tanpa intepretasi yang


mendalam sehingga bisa dilaksanakan umat Hindu secara umum, yaitu :

a. Amati gni yang artinya tidak menyalakan api dalam bentuk apapun, seperti ; api kompor, rokok, listrik / lampu, dupa /dipa / api suci, api unggun, bakar sampah dan lain-lainnya. Dengan demikian tidak menggunakan api secara total layaknya kita menghargai dan menghormati api yang telah memberikan manfaat serta membantu kehidupan manusia di dunia ini. Tanpa api seseorang / manusia tidak bisa hidup di dunia ini. Karena itu ketergantungan kepada api selama setahun berjalan kita hentikan sehari semalam sebagai perenungan diri.

b. Amati karya yang artinya tidak bekerja / beraktivitas. Ini dapat dilakukan oleh semua kalangan umat Hindu untuk menciptakan suasana hening, diam tapi bermakna ke dalam diri sambil interospeksi diri dan mengevaluasi terhadap segala sesuatu yang telah dikerjakan dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

c. Amati Lelangunan yang artinya tidak bersenang-senang, tidak foya-foya, tidak menikmati hiburan, seperti menyetel radio, tape, Televisi, nonton film, dan tidak berhubungan badan bagi suami/istri dan lain-lainnya.

d. Amati Lelungan yang artinya tidak bepergian dari tempat brata penyepian baik perorangan maupun kelompok. Batas maksimal pintu keluar.

2. Kewajiban peningkatan rohani / spiritual. Secara batin / rohani / niskala catur brata penyepian dapat dilakukan dengan interpretasi yang lebih mendalam tanpa meninggalkan kewajiban dasar brata penyepian tersebut diatas.


a. Amati Geni yaitu kewajiban dasar ditambah atau disempurnakan dengan interpretasi makna amati geni ialah pengekangan api nafsu dalam diri yang diwujudnyatakan dengan puasa yaitu tidak makan dan tidak minum selama waktu brata penyepian, mengendalikan sadripu, nafsu seks dan lain-lain.

b. Amati Karya yaitu kewajiban dasar ditambah atau disempurnakan dengan interpretasi makna amati karya ialah mengendalikan anggota badan / tubuh sesuai fungsinya.

c. Amati Lelangunan yaitu kewajiban dasar ditambah atau disempurnakan dengan interpretasi makna amati lelangunan ialah mengendalikan panca indera.

d. Amati Lelungan yaitu kewajiban dasar ditambah atau disempurnakan dengan interpretasi makna amati lelungan yaitu pikiran dikendalikan sehingga terpusat pada konsentrasi rohani ibarat kusir mengendalikan kereta.

3. Pengecualian. Dalam hal pengecualian pelaksanaan catur brata penyepian diklasifikasikan menjadi tiga macam yaitu :

a. Situasi dan kondisi darurat atau sakit
b. Anak balita / bayi
c. Belum mampu terutama puasa

4. Waktu dan Tempat kegiatan.

a. Waktu. Waktu pelaksanaan catur brata penyepian jatuh pada Hari Raya Nyepi tanggal 1 Kadasa dimulai pukul 06.00 s/d 06.00 keesokan harinya tanggal 2 Kadasa (selama 24 jam).

b. Tempat kegiatan. Tempat kegiatan dapat dipilih sesuai situasi dan kondisi ataupun niat suci masing-masing diantaranya dapat dilakukan di alam atau di Pura atau di rumah masing-masing.

5. Mekanisme / Jadwal kegiatan. ( terlampir )

PENUTUP

Demikian petunjuk teknik Catur brata penyepian sebagai langkah awal untuk memberikan panduan bagi umat Hindu yang melaksanakan catur brata penyepian pada Hari Raya Nyepi sehingga memiliki ketentuan tetap. Saran dan kritik sangat diharapkan guna penyempurnaan juknik ini.

Selamat melaksanakan Catur Brata Penyepian, semoga berhasil.























































MEMBENTUK KELUARGA
YANG BAHAGIA

1. Umum.
Kata Keluarga berasal dari dua kata yaitu Kula yang artinya abdi, hamba dan Warga yang artinya jalinan, ikatan, pengabdian. Jadi Keluarga dapat didefinisikan suatu jalinan / ikatan pengabdian antara suami, istri dan anak. Disamping itu Keluarga adalah kumpulan anggota yang memiliki hubungan secara genetika, tradisi, organisasi ( formal maupun non formal ), dan hubungan emosional baik vertikal maupun horisontal.
Dalam keluarga terjalin hubungan pertemanan/persahabatan, persaudaraan yang mengikat sehingga menjadi komunitas hubungan yang emosional. Wajar apabila kemudian adanya rasa senasib sepenanggungan, sehidup semati (dalam tanda kutip), dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Di sisi lain yang tidak ketinggalan adalah adanya gagasan, ide dan cita-cita untuk memelihara hubungan tersebut menjadi langgeng /abadi. Walaupun dalam pelaksanaannya tidak jarang terjadi perselisihan pendapat, kesalah pahaman dan lain sebagainya sebagai suatu dinamika sebuah keluarga yang tidak bisa dipungkiri. Kesemuanya itu merupakan warna dan adanya keinginan yang sama ataupun berbeda. Menjadikan pengabdian sebagai dasar ikatan dalam keluarga dan menyadari sepenuhnya bahwa apa yang diperbuat adalah semata-mata melaksanakan petunjuk dari Sanghyang Widhi Wasa yang dituangkan melalui kitab suci.



Dalam kehidupan keluarga Hindu ada tiga komponen yang harus dipersiapkan yaitu adanya tempat pemujaan Tuhan serta manifestasi-Nya ( Parahyangan), tempat tinggal anggota keluarga ( Pawongan ), dan tempat melestarikan lingkungan ( Palemahan ). Sehinga dari azas ini bisa tercapai keluarga Hindu yang tenteram kerta raharja.

2. Tujuan Keluarga Hindu.

Dalam kitab Sarasamuscaya seloka 135 menegaskan : “Dharmarthakamamoksanam pranah samsthitithetawah, tan nighnata kin na hatam raksa bhutahitartha ca “ yang artinya Untuk menjamin tercapainya dharma artha kama dan moksa itu haruslah melakukan bhutahita artinya melestarikan dan mengupayakan kesejahteraan semua makhluk”. Untuk mencapai tujuan ini ada tiga hal dalam aplikasi kehidupan sehari-hari sebagaimana dinyatakan dalam Kakawin Ramayana Sargah I :
“Gunamanta Sang Dasaratha
Wruh sira ring Weda bhakti ring Dewa
Tar malupeng pitra puja
Maasih ta sireng swagotra kabeh”
Yang artinya Gunawanlah Sang Dasaratha
Beliau pandai dalam Weda dan bhakti kepada Dewa,
Tidak pernah lupa akan pemujaan terhadap Leluhur,
Cinta kasih kepada seluruh keluarganya.

Selanjutnya untuk kesempurnaan sebuah keluarga terdiri dari atas tiga unsur menjadi satu yaitu istri, suami dan keturunan/anak/putra/i. Demikian dinyatakan dalam Weda Smrti IX.45.
Dengan demikian maka keturunan berupa anak/putra/i adalah merupakan tujuan dari berkeluarga. Kenapa anak/putra/I menjadi penting dalam sebuah keluarga ?
Dilihat dari kata “putra” berasal dari kata “put” yang berarti neraka dan kata “trayati” yang berarti menyeberangkan. Sehingga arti dan maksud kata putra pada hakikatnya adalah Ia yang menyelamatkan atau menyeberangkan roh orang tua / leluhurnya dari neraka mencapai alam sorga. Anak atau putra-putri yang dilahirkan dalam keluarga Hindu adalah sebagai penerus keturunan dan pewaris segala tugas yang belum terselesaikan dalam kehidupan berkeluarga oleh orang tuanya baik kehidupan keduniawian maupun kehidupan kerohanian suatu lembaga perkawinan berupa keluarga. Namun jangan sampai ada pandangandengan melahirkan anak sebanyak-banyaknya maka jalan ke sorga akan dibuka semakin lebar. Hal ini dapat diperhatikan secara seksama bahwa tidak semua anak yang dilahirkan atas bertemunya Kama Bang dan Kama Petak menjadi manik jeroning garba sebagai penyelamat orang tuanya. Misalnya putra-putri yang dilahirkan dari kumpul kebo, selingkuh dan lain sebagainya yang populer merebak dimana-mana, putra-putri yang dilahirkan yang tidak jelas ayah atau ibunya, putra-putri yang dilahirkan tanpa upacara keagamaan dan putra-putri yang dilahirkan bukan hasil pertemuan antara ayah ataupun ibunya yang sejati ( hasil penyelewengan seksual ) yang telah disepakati. Dalam Weda Smrti IX.96 ditegaskan : “ Laki-laki diciptakan untuk menjadi suami dan untuk menjadi ibu, wanita itu diciptakan dan peresmiannya melalui upacara keagamaan yaitu Samskara Wiwaha dalam kebersamaan hidupnya menjadi suami-istri.
Dengan demikian anak yang diharapkan adalah putra-putri yang Suputra yaitu putra-putri yang utama. Putra-putri yang membahagiakan orang tua semasa hidupnya dan membahagiakan-menyelamatkan arwah orang tua leluhurnya. Adapun ciri-ciri seorang anak suputra antara lain : termasyur susila dan bagus, hatinya damai dan berbudi mulia, setiap orang mengasihinya, semua mengaku keluarga, semua jatuh hati melihatnya.

3. Kewajiban Keluarga Hindu.

Dalam Weda Smrti III.67.71 dinyatakan bahwa kewajiban keluarga Hindu adalah melaksanakan Panca Yadnya dalam arti yang seluas-luasnya, meliputi Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya dan Bhuta Yadnya.
Selain lima kewajiban pokok, ada pula kewajiban masing-masing unsur atau anggota keluarga yaitu kewajiban suami, kewajiban istri dan kewajiban anak.

4. Kewajiban Suami.

Kata Suami berasal dari lata Swami yang berarti pelindung, bapak yang dihormati dalam keluarga Hindu. Ini berarti suami adalah pemimpin dalam sebuah keluarga. Sebagai pemimpin tentunya memiliki rencana dalam membentuk dan membina sebuah keluarga yang bahagiaan menjaga keutuhan keluarga, sebagaimana yang dititipkan orang tua/ ayah si istri kepada seorang laki-laki yang mengawininya atau penyerahan estapet kepemimpinan. Dalam Reg Weda X.85.25 dinyatakan “Wahai mempelai laki-laki, aku ayah dari gadis ini, membebaskan kewajibannya di rumah dan bersatulah engkau dengan dia sebagai suaminya. Drai padanya tidak pernah terpisahkan.Semoga putri kami teguh melakukan pati brata memperoleh kebahagiaan sejati dengan suaminya yang tampan dan perkasa dan semoga engkau menurunkan putra-putri yang luhur”. Lebih lanjut dalam kitab Yajur Weda VIII.4 dinyatakan “ Wahai mempelai laki-laki, lakukanlah yadnya (pengorbanan) yang akan mengantarkan keluargamu mencapai kebahagiaan dan perkawinan yang penuh rahmat. Senantiasa berbhaktilah kepada Sanghyang Widhi, berikanlah kegembiraan kepada semua makhluk.
Dalam kitab Sarasamuscaya seloka 242 dinyatakan bahwa kewajiban suami adalah sarira krt (mengupayakan kesehatan jasmani anak), prana data (membangun jiwa si anak, anna data (memberikan makan). Dengan kata lain membangun jiwa dan raga si anak.
Dalam Nitisastra VIII.3 dinyatakan bahwa kewajiban suami adalah Panca Wida yaitu Matulung urip rikalaning bhaya (menyelamatkan keluarga pada saat bahaya), Nitya maweh bhinoajana ( selalu mengusahakan makanan yang sehat), Mangupadyaya (memberikan ilmu pengetahuan kepada si anak), Anyangaskara (menyucikan si anak atau membina mental spiritual si anak), Sang ametwaken (bapak sebagai penyebab lahirnya si anak).
Dalam kitab Weda Smrti III.45 s/d 60 menguraikan tentang kewajiban suami kepada istrinya yaitu agar menggauli istrinya kecuali pada perwani dan merasa puas dengan istrinya seorang, istri harus dihormati, selalu berbahagia dengan istrinya.
Lebih lanjut dalam Weda Smrti IX.2,3,9 dan 11 diuraikan tentang kewajiban suami yaitu wajib melindungi istri dan anak-anaknya serta memperlakukan istri dengan wajar dan hormat, wajib memelihara kesucian hubungannya dengan saling mempercayai sehingga terjalin kerukunan dan keharmonisan rumah tangga/keluarga, menyerahkan harta kekayaan dan menugaskan istrinya untuk mengurus artha rumah tangga, urusan dapur, yadnya serta ekonomi keluarga, bila dinas keluar daerah suami menjamin istrinya memberikan nafkah, menggauli istrinya dan mengusahakan agar antara mereka sam-sama menjamin kesucian keturunannya serta menjauhkan diri dari

unsur-unsur yang mengakibatkan perceraian, suami istri merasa puas dan berbahagia bersama istrinya untuk menjaga keutuhan keluarga, melaksanakan dharma grahastin dengan baik, kula dharma, wansa dharma/masyarakat/bangsa, wajib mengawinkan putra-putrinya pada waktunya, melaksankan sraddha, pitra puja, memelihara cucunya serta melaksanakan panca yadnya.

5. Kewajiban Istri.

Istri berasal dari kata “stri” yang berarti pengikat kasih. Fungsinya sebagai istri adalah menjalin kasih sayang kepada suami dan anak-anaknya.
>Sebagai ibu dalam rumah tangga. Dituntut kesabaran dan ketabahan dengan cara mengendalikan diri dari segala rongrongan kejahatan yang akan menyebabkan kehancuran keluarga dan rumah tangga.
>Sebagai Dewi artinya sinar yang menentukan keadaan rumah tangga.
>Sebagai Permaisuri berasal dari kata Parama = pertama/utama dan Iswari = pemimpin. Jadi Permaisuri artinya sebagai pemimpin rumah tangga yang meliputi tata hubungan, tata garha, tata boga, tata keuangan, tata busana dan sebagainya.
Adapun tugas dan kewajiban Istri adalah :
>Memenuhi doa harapan ayah yang menikahkannya sekaligus restu orang tua, antara lain ; sebagai pengayom bagi seluruh keluarga (Atharwa Weda XIV.2.26), menjadi petunjuk yang terang terhadap keluarga, membantu dengan kebijaksanaan

dan pengertian, mengikuti jalan yang benar dan hidup sehat dalam rumah ( Atharwa Weda XIV.2.27), melakukan pati brata, memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan pada rumah, memberikan keturunan yang mulia dan dihormati, sebagai ratu dalam rumah (Atharwa Weda II.36.3).
>Memenuhi harapan suami, antara lain; kesetiaan yang dilandasi tingkah laku yang sesuai dengan kitab suci (Atharwa Weda XIV.1.57), melahirkan anak yang perwira, pemuja Sanghyang Widhi dan para Dewata, patuh kepada suami, mampu menyenangkan setiap orang, keluarga dan mengasihi binatang ternak (Rg Weda X.85.43), menjadi pelopor dalam kebaikan, cerdas teguh, mandiri, mampu merawat/memelihara dan senantiasa taat kepada hukum seperti halnya bumi/pertiwi ( Yajur Weda XIV.21), pengendali keluarga, cerdas, mengatur dan mendukung kehidupan keluarga ( Yajur Weda XIV.22)
>Berpenampilan lemah lembut dan simpatik, antara lain bila berjalan lihatlah ke bawah jangan menengadah, bila sedang duduk tutuplah kakimu rapat-rapat (Reg Weda VII.33.19)
>Setia kepada suami, senantiasa waspada, tahan uji, menghormati yang lebih tua, antara lain ; ramah, pembawa keberuntungan dan kesejahteraan, melahirkan anak, setia dan patuh kepada suami, siap sedia menerima anugrah yang mulia (A.W.XIV.1.42), memberikan keturunan, waspada melayani, tahan uji dan menjaga nama baik keluarga suami (R.W.X.85.27), memuja Saraswati dan

menghormati kepada yang lebih tua dalam keluarga (A.W.XIV.2.20).
Dapat disimpulkan peranan istri :
a. Sebagai ibu rumah tangga
“Abhayam mitrat, abhayam amitra, abhayam jnatad, abhayam puroyah, abhayam naktam, abhayam dewanah, sarwa asha nama mitram bhawantu, yang artinya Semoga tiada bahaya dari teman, tiada bahaya dari yang bukan teman, tiada bahaya dari yang dikenal, tiada bahaya dari yang tidak dikenal, malampun tiada bahaya, siangpun tiada bahaya untuk kami, semoga semua arah menjadi teman kami”. Atharwa Weda.

b. Sebagai penerus keturunan
“Prajanartham mahabhagah pujarne grhadip, tayah sriyasca gehesu na wiseso kascana yang artinya Sama sekali tidak ada bedanya antara Sri (Dewi Kemakmuran) dengan istri di rumah yang dikawinkan dengan tujuan mempunyai keturunan, membawa kebahagiaan, yang layak dipuja sebagai pelita rumah tangga”. MS.XI.26

c. Sebagai Pembimbing Anak.
“Tingkahing sutasasaneka kadi raja tanaya risedeng limang tahun, sapta ing warsa wara hulun sapuluhing tahun ika waruken ring aksara, yapawan sodasawarsa tulya wara mitra tinaha taha denta midana, yan wus putra suputra tianghalana solahika wuruken ing nayenggita, yang artinya Anak yang sedang berumur lima tahun hendaknya diperlakukan seperti anak raja, jika sudah

berumur tujuh tahun dilatih supaya suka menurut, jika sepuluh tahun diajari membaca, jika sudah enam belas tahun diperlakukan sebagai sahabat, kalau kita mau menunjukkan kesalahannya harus dengan hati-hati sekali, jia ia sendiri sudah beranak diamat-amati saja tingkahnya, kalau hendak memberikan pelajaran kepadanya cukup dengan gerak dan alamat”. Nitisastra Sargah IV.21

d. Sebagai penyelenggara aktivitas agama
“Apatyam dharmakaryani susrusa aratiruttama, daradhinastatha aswargah pitrinam atmanasca ha, yang artinya Anak-anak, upacara agama, pengabdian kebahagiaan rumah tangga, sorga untuk leluhur maupun untuk diri sendiri (semua) didukung oleh istri”.

6. Kewajiban Anak Dalam Keluarga.

Dalam kitab Sarasamuscaya seloka 228 dinyatakan “Durbalartham balam yasya tyagartham ca parigrahah pakaccaiwa pacitartham pitarastena putrinah “ yang artinya Yang dianggap anak adalah orang yang menjadi pelindung bagi orang yang memerlukan pertolongan, serta menolong kaum kerabat yang tertimpa kesengsaraan, mensedekahkan segala hasil usahanya, memasak dan menyediakan makanan untuk orang-orang miskin, demikian putra yang sejati namanya”. Lebih lanjut Sarasamuscaya seloka 239 menyatakan : “Tapassaucawata nityam dharmasatyaratena ca, matapitroraharahan pujanam karyamanjasa, yang artinya Orang yang menghormat kepada ibu bapaknya setiap harinya, namanya teguh melakukan tapa dan senantiasa menyucikan dirinya, tetap teguh berpegang kepada yang disebut dharma”.
Dalam Nitisastra IV dinyatakan :
“Sanghyang candra tranggana pinaka dipa mamadangi ri kalaning wengi, sanghyang surya sedeng prabhasa makadipa mamadangi bhumi mandala, widya sastra suddharma dipanikanang tribhuana sumena prabhaswara, yan ring putra suputra sadhu gunawan maemadangi kula wandhu wandawa, yang artinya Bulan dan bintang sebagai pelita yang menerangi di waktu malam, matahari yang sedang terbit sebagai pelita menerangi seluruh wilayah bumi, ilmu pengetahuan, sastra utama sebagai pelita menerangi ketiga dunia dengan sempurna, kalau dikalangan putra (anak), anak yang utama sebagai pelita menerangi seluruh keluarga.

7. Arti Kesetiaan.

Kesetiaan berarti patuh dan taat terhadap apa yang menjadi kesepakatan baik tertulis maupun tidak tertulis. Itu semua membutuhkan tekad dan pengabdian yang tulus untuk mencapai tujuan mulia yaitu kesejahteraan dan kebahagiaan. Kesetiaaan berlaku bagi siapa saja baik suami, istri, anak, teman saudara maupun teman sekerja.

Dalam Selokantara seloka 2 dinyatakan :
“Kupacatad wai paramam saro ‘pi, saran satad wai paramo ‘pi yajnah, yajna satad wai paramo ‘putrah, putra satad wai paramam hi styam, yang artinya Membuat sebuah telaga untuk umum itu lebih baik dari pada menggali seratus sumur, melakukan yadnya (korban suci) itu lebih tinggi mutunya dari pada membuat seratus telaga, mempunyai seorang putra itu lebih berguna dari pada melakukan seratus yadnya, dan menjadi manusia setia itu jauh lebih tinggi mutu dan gunanya dari pada mempunyai seratus putra”.
Disamping itu kesetiaan telah ditunjukkan oleh Sita kepada Sang Rama dalam kisah Ramayana, Ekalawya kepada Gurunya Drona dalam kisah Mahabharata, Sawitri kepada (suaminya) Setiawan dalam kisah pewayangan.

8. Kesimpulan.

Membentuk keluarga yang bahagia ditentukan oleh semua unsur dalam sebuah keluarga kecil maupun keluarga besar. Pihak suami, istri, anak dan lingkungan ikut mempengaruhi jalannya bahtera kehidupan berumah tangga. Kesemuanya itu dibutuhkan kesabaran, ketabahan, pengendalian diri, pengabdian yang tulus untuk membina serta membentuk keluarga yang bahagia ( Graha Paramita ) dalam rangka mencapai tujuan hidup manusia sekaligus tujuan agama Hindu yaitu “Moksartham jagadhita ya ca iti dharmah” (kebahagiaan di dunia dan di akhirat).
Selamat menjalani bahtera rumah tangga.




































MEMBENTUK KELUARGA
YANG BAHAGIA
1. Umum.
Kata Keluarga berasal dari dua kata yaitu Kula yang artinya abdi, hamba dan Warga yang artinya jalinan, ikatan, pengabdian. Jadi Keluarga dapat didefinisikan suatu jalinan / ikatan pengabdian antara suami, istri dan anak. Dalam kehidupan keluarga diperlukan keterpaduan gagasan, ide dan cita-cita dari semua unsur keluarga untuk memelihara hubungan tersebut menjadi langgeng /abadi.
Dalam kehidupan keluarga Hindu ada tiga komponen yang harus dipersiapkan yang dikenal dengan Tri Hita Karana yaitu adanya tempat pemujaan Tuhan serta manifestasi-Nya (Parahyangan), tempat tinggal anggota keluarga (Pawongan), dan tempat melestarikan lingkungan (Palemahan). Sehinga dari azas ini bisa tercapai keluarga Hindu yang tenteram kerta raharja.

2. Tujuan Keluarga Hindu.
Untuk kesempurnaan sebuah keluarga terdiri dari atas tiga unsur menjadi satu yaitu
istri, suami dan keturunan / anak / putra/i. Demikian dinyatakan dalam Weda Smrti IX.45.
Dengan demikian maka keturunan berupa anak/putra/i adalah merupakan tujuan dari berkeluarga. Kenapa anak/putra/I menjadi penting dalam sebuah keluarga ?
Dilihat dari kata “putra” berasal dari kata “put” yang berarti neraka dan kata “trayati” yang berarti menyeberangkan. Sehingga arti dan maksud kata putra pada hakikatnya adalah Ia yang menyelamatkan atau menyeberangkan roh orang tua / leluhurnya dari neraka mencapai alam sorga. Dalam Weda Smrti IX.96 ditegaskan : “ Laki-laki diciptakan untuk menjadi suami dan untuk menjadi ibu, wanita itu diciptakan dan peresmiannya melalui upacara keagamaan yaitu Samskara Wiwaha dalam kebersamaan hidupnya menjadi suami-istri. Dengan demikian anak yang diharapkan adalah putra-putri yang Suputra yaitu putra-putri yang utama. Putra-putri yang membahagiakan orang tua semasa hidupnya dan membahagiakan-menyelamatkan arwah orang tua leluhurnya.

3. Kewajiban Keluarga Hindu.

Dalam Weda Smrti III.67.71 dinyatakan bahwa kewajiban keluarga Hindu adalah melaksanakan Panca Yadnya dalam arti yang seluas-luasnya, meliputi Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya dan Bhuta Yadnya. Selain lima kewajiban pokok, ada pula kewajiban masing-masing unsur atau anggota keluarga yaitu kewajiban suami, kewajiban istri dan kewajiban anak.

4. Kewajiban Suami Dalam Keluarga.

Kata Suami berasal dari kata “Swami” yang berarti pelindung, bapak yang dihormati dalam keluarga Hindu. Ini berarti suami adalah pemimpin dalam sebuah keluarga. Sebagai pemimpin tentunya memiliki rencana dalam membentuk dan membina sebuah keluarga yang bahagia dan menjaga keutuhan keluarga. Karena itu peranan suami adalah sebagai pemimpin dan kepala keluarga serta sebagai pelindung. Dalam Weda Smrti, Reg Weda, Yajur Weda, Atharwa Weda, Sarasamuscaya, Nitisatra disebutkan tugas dan kewajiban suami yang dapat dirangkum sebagai berikut :
1) Melakukan yadnya.
2) Memberikan kegembiraan kepada semua makhluk .
3) Mengupayakan kesehatan jasmani anak, membangun jiwa si anak dan memberikan makan.
4) Menyelamatkan keluarga dari bahaya.
5) Mengusahakan makanan yang sehat.
6) Memberikan ilmu pengetahuan kepada anak.
7) Menyucikan dan membina mental spiritual anak.
8) Memberikan keturunan.
9) menggauli istri kecuali Perwani dan merasa puas dengan istrinya.
10) Menghormati dan berbahagia dengan istri
11) Memelihara kesucian hubungan dengan saling percaya, kerukunan dan keharmonisan rumah tangga.
12) Menyerahkan harta kekayaan kepada istri.
13) Mengawinkan putra-putrinya pada waktunya.
14) Memelihara cucunya.

5. Kewajiban Istri Dalam Keluarga.

Istri berasal dari kata “stri” yang berarti pengikat kasih. Fungsinya sebagai istri adalah menjalin kasih sayang kepada suami dan anak-anaknya. Peranan Istri antara lain : Sebagai ibu dalam rumah tangga, Sebagai penerus keturunan, Sebagai Pembimbing nak,Sebagai penyelenggara aktivitas agama, Sebagai Dewi artinya sinar yang menentukan keadaan rumah tangga, Sebagai Permaisuri berasal dari kata Parama = pertama/utama dan Iswari = pemimpin. Jadi Permaisuri artinya sebagai pemimpin rumah tangga yang meliputi tata hubungan, tata garha, tata boga, tata keuangan, tata busana dan sebagainya.
Dalam Weda Smrti, Reg Weda, Yajur Weda, Atharwa Weda, Sarasamuscaya, Nitisatra disebutkan tugas dan kewajiban istri yang dapat dirangkum sebagai berikut :
1) Memenuhi doa harapan ayah/orang tua yang menikahkan.
2) Melakukan pati brata.
3) Memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan pada rumah tangga..
4) Memberikan keturunan yang mulia dan dihormati, perwira, pemuja Sanghyang Widhi dan para Dewata.
5) Memenuhi harapan suami berupa kesetiaan dan patuh kepada suami.
6) Mampu menyenangkan setiap orang, keluarga dan mengasihi binatang ternak.
7) Menjadi pelopor dalam kebaikan.
8) Cerdas, teguh dan mandiri.
9) Mampu merawat/memelihara dan senantiasa taat kepada hukum.
10) Pengendali keluarga.
11) Berpenampilan lemah lembut dan simpatik antara lain : bila berjalan jangan menengadah, bila sedang duduk kaki ditutup rapat-rapat.
12) Menghormati yang lebih tua, ramah, membawa keberuntungan dan kesejahteraan.
13) Memuja Saraswati.
14) membimbing anak
15) Penyelenggara aktivitas agama.

6. Kewajiban Anak Dalam Keluarga.

Anak atau putra pada hakikatnya adalah Ia yang menyelamatkan atau menyeberangkan roh orang tua / leluhurnya dari neraka mencapai alam sorga. Dalam Weda Smrti, Reg Weda, Yajur Weda, Atharwa Weda, Sarasamuscaya, Nitisatra disebutkan tugas dan kewajiban anak yang dapat dirangkum sebagai berikut :
1) Pelindung bagi orang yang memerlukan pertolongan.
2) Menolong kaum kerabat yang tertimpa kesusahan/sengsara.
3) Mensedekahkan segala hasil usahanya.
4) Memasak dan menyediakan makanan untuk orang-orang miskin.
5) Menghormati ibu dan bapaknya setiap hari.
6) Teguh tapa brata dan menyucikan diri.
7) Teguh berpegang kepada Dharma.
8) Menjadi putra yang utama.

7. Kesimpulan.
Membentuk keluarga yang bahagia ditentukan oleh semua unsur dalam sebuah keluarga kecil maupun keluarga besar. Pihak suami, istri, anak dan lingkungan ikut mempengaruhi jalannya bahtera kehidupan berumah tangga. Kesemuanya itu dibutuhkan kesabaran, ketabahan, pengendalian diri, pengabdian yang tulus untuk membina serta membentuk keluarga yang bahagia ( Graha Paramita ) dalam rangka mencapai tujuan hidup manusia sekaligus tujuan agama Hindu yaitu “Moksartham jagadhita ya ca iti dharmah” (kebahagiaan di dunia dan di akhirat).

Selamat menjalani bahtera rumah tangga.



















































MAKNA HARI RAYA WAISAK
DAN NASEHAT SANG BUDDHA


1. Umum.

Hari Raya Waisak adalah hari raya bagi umat Buddha, sebagai peringatan lahirnya Sang Buddha, saat memberikan ceramah ajaran agama Buddha, dan wafatnya Sang Buddha mencapai Nibhana. Peringatan atas ketiga kejadian ini sering dikenal dengan Perayaan Tri Suci Waisak. Pada tahun 2006 M ini Hari raya Waisak jatuh pada tanggal 13 Mei 2006 bertepatan dengan bulan Purnama Waisak ( 2550 Waisaka ).
Lahirnya Siddharta Gautama ke dunia ini bagaikan pelita menerangi dunia beserta isinya termasuk umat manusia. Umat manusia yang mendapat wejangan, nasehat, tuntunan dari Siddharta Gautama yang telah mencapai ke-Budha-an memperoleh penerangan atas segala persoalan dan problema yang tadinya membelenggu dan penuh pada kegelapan.

2. Hari Raya Tri Suci waisak.

Hari Raya Tri Suci waisak yang jatuh pada Purnama bulan Mei untuk memperingati kejadian / peristiwa penting yaitu saat lahirnya Pangeran Siddharta Gotama, saat pertapa Siddharta Gotama mencapai penerangan sempurna (Bodhi) menjadi Buddha., saat Sang Buddha Gotama wafat atau Parinibbhana.

a. Siddharta lahir di Lumbini kira-kira 566 SM adalah putra pasangan Raja Suddhodana dari dinasti Raja-Raja Sakyas dan Mahamya Dewi. Kerajaanya bernama


Kosala dengan ibu kota kapilawastu terletak di lereng pegunungan Himalaya. Siddharta kawin mendekati umur 19 tahun dengan putri Yasodhara dan melahirkan seorang putra bernama Rahula. Siddharta meninggalkan istana pada umur 29 tahun mengendarai kuda bernama Kanthaka, karena ingin melepaskan diri dari ikatan keduniawian.

b. Siddharta mengembara selama 6 tahun dan suatu saat mandi di Sungai Narayana (Lilayan) kemudian duduk di bawah pohon pipal/bodhi (Bodh-gaya) dengan pemusatan pikiran selama 7 malam 7 hari hingga mencapai kesadaran (Buddha). Karena itu Siddharta dikenal dengan nama Buddha Gotama.

Pencapaian kesadaran ini dituangkan dalam bentuk ajaran agama Buddha , selanjutnya disebarkan selama 45 tahun yang diawali tempat pertama penyebaran ajaran agama Buddha di daerah Benares ( Kashi ).

c. Buddha Gotama meninggal pada usia 80 tahun sekitar tahun 483 SM, di Kusinagara.

3. Pokok-Pokok Ajaran Agama Buddha.

Pokok-pokok ajaran agama Buddha dituangkan dalam buku-buku bernama Pitaka ( Tri Pitaka). Tri Pitaka berarti tiga keranjang sebagai inti ajaran agama Buddha terdiri dari Keranjang Tata Tertib (Winaya Pitaka), Keranjang Ceramah (Sutta Pitaka), dan Keranjang Ajaran Pokok (Abhidhamma

Pitaka). Tri Pitaka ditulis pertama kalinya sekitar tahun 83 SM di Aluwihara di sebuah dusun kecil di pedalaman Sri Lanka saat Pesamuan Agung Para Arahat diadakan pada masa pemerintahan Raja Simhala.
Kotbah pertama dengan judul “Memutar Roda Dari Agama”. Sang Buddha hanya menghendaki penyelesaian yang segera dan mendesak yaitu menghilangkan penderitaan hidup. Karena itu Sang Buddha sendiri tak suka pembicaraan-pembicaraan mengenai sesuatu yang tinggi dan tidak cukup bukti serta hanya memberikan akibat perpecahan pandangan, ibarat orang buta yang meraba-raba gajah. Penyelesaian segera tersebut meliputi 4 (empat) hal yang dikenal dengan istilah Catwari Arya Satyani ( 4 kebenaran yang mulia) yaitu :

1) Hidup di dunia ini adalah menderita (Dukha). Penderitaan itu antara lain : lahir, umur tua, sakit, mati, sedih, dll.

2) Yang menjadi sebab penderitaan itu ada yaitu keinginan / kehausan, penyakit, dll. (Samudaya). Keinginan berdampingan dengan kegagalan, keuntungan, kesusahan, kesenangan, putus asa/harapan, dll , proses hidup berjalan terus.
3) Dan penderitaan itu dapat dihilangkan (Nirodha), dengan jalan menguasai keinginan.
4) Dan Jalan yang membawa terlepas dari penderitaan itu ada, yaitu dengan jalan menuruti jalan tengah / 8 jalan dari Buddha antara lain :



(1) Berbicara yang benar.
(2) Berbuat yang benar.
(3) Kehidupan yang benar.
(4) Usaha yang benar (Sila).
(5) Mempunyai perhatian yang benar.
(6) Pemusatan pikiran yang benar.
(7) Pengertian yang benar.
(8) Keyakinan yang benar (memperbaiki hidup menurut kebenaran).
Dari 8 (delapan)jalan tengah terbagi menjadi 3 (tiga) syarat yaitu :
(1) Sila (Moral) termasuk larangan-larangan di dalam hidup antara lain : jangan membunuh, mencuri,berbohong, menfitnah, bermewah-mewahan, mem- buat upacara keagamaan dengan darah, selalu rindu dengan kekayaan, dll.

(2) Samadhi (pemusatan pikiran).
(3) Prajna (kebijaksanaan).

Ketiga hal tersebut membawa ke arah Sambodhi (penerangan, kesadaran) dan Nibbhana/Nirwana.

4. Susunan Acara Puja Bhakti Waisak.
a. Pradaksina.
b. Penyalaan lilin panca warna diiringi lagu pendupaan.
c. Namakkara Ghata.
d. Permohonan tuntunan Tisarana dan Pancasila.



e. Buddhanussati – Dhammanussati – Sanghanussati.
f. Karaniya metta sutta.
g. Renungan Waisak oleh Bhikku Sangha.
h. Meditasi Waisak.
i. Wihara Gita “Malam Suci Waisak”.
j. Pemberkahan oleh Bhikkhu Sangha.
k. Ettawata.
l. Namakkara Ghata.

5. Sekelumit Nasehat Sang Buddha.

“Kelahiran tidak membuat seseorang menjadi seorang buangan, kelahiran tidak membuat seseorang menjadi Brahmin, Perbuatanlah yang membuat seseorang menjadi seorang buangan, Perbuatanlah yang membuat seseorang menjadi seorang Brahmin”

Selamat Hari Raya Tri Suci Waisak.





































RENUNGAN AGAMA BUDDHA



















PUJA SANTHI KEMERDEKAAN R I


1. Umum. Setiap tangal 17 Agustus, seluruh rakyat dan bangsa Indonesia memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan RI. Proklamasi dibacakan Presiden Soekarno didampingi Wakil Presiden Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 menyatakan Kemerdekaan R I. Ini berarti bangsa Indonesia menjadi bangsa yang mampu berjuang mengusir para penjajah dari muka bumi pertiwi tanah air Indonesia. Apa yang dialami para pejuang sebagai pendahulu kita, sungguh tidak bisa dihitung secara materi. Pengorbanan materi, pikiran, jiwa dan nyawa sudah menjadi tekad yang bulat untuk mencapai cita-cita Kemerdekaan. Pekik “Merdeka atau Mati” menjadi pemacu semangat yang pantang menyerah memperjuangkan harkat dan martabat bangsa Indonesia di mata dunia Internasional. Pada dasarnya siapapun tidak rela bangsanya dijajah, akan tetapi kalau itupun terjadi maka akan memperjuangkan dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Puja Santhi Kemerdekaan RI merupakan doa sekaligus harapan untuk selalu hidup rukun dan damai baik antar sesama anak bangsa maupun dengan bangsa lain

2. Makna Proklamasi Kemerdekaan RI.
Terwujudnya Kemerdekaan RI berkat anugrah Tuhan Yang Maha Esa dan perjuangan seluruh rakyat Indonesia. Hal tersebut memberi makna terhadap Proklamasi Kemerdekaan RI yaitu :



a. Perdamaian. Salah satu syarat terciptanya kerukunan dan keharmonisan hidup adalah perdamaian. Hidup berdampingan satu sama lain dengan bermacam perbedaan yang ada mulai orang perorang, kelompok, maupun golongan merupakan hal yang tidak bisa dipungkiri keberadaannya. Oleh karena itu bersikaplah dengan wajar dan arif terhadap perbedaan yang ada, perbedaan bukanlah sebagai kendala ataupun ancaman. Sekecil apapun perbedaan itu merupakan hal yang tidak bisa dipungkiri, karena merupakan bagian dari dinamika hidup. Konflik yang sedang terjadi di berbagai belahan dunia semakin meningkatkan intensitas pertikaian, perselisihan, sampai peperangan dari sekala yang kecil sampai sekala yang besar. Perdamaian dapat diwujudkan apabila memiliki sikap sabar dan ikhlas terhadap perbedaan, agar tidak terjadi pertumpahan darah mulai saudara, teman, kelompok, golongan, bangsa dan negara.

Dalam kitab Yajur Weda 36. 17 dinyatakan :
“Dyauh santir antariksam santih prthiwi santir apah santir osabhayah santih vanaspatayah santir visve devah santir brahma santih sa ma santir edhi’

artinya Damai di langit, damai di angkasa, damai di bumi, damai di air, damai pada tetumbuhan, damai pada pepohonan, damai pada semua Dewa, damai pada Brahman, damai dalam alam semesta, damai dalam kedamaian”.

b. Harkat dan martabat. Pada hakikatnya sebagai bangsa yang berdaulat tidak rela dijajah oleh bangsa lain. Karena itu bangsa Indonesia dari berbagai lapisan masyarakat selalu mengadakan perlawanan baik secara fisik maupun diplomatis terhadap para
penjajah yang ingin menguasai wilayah kedaulatan NKRI. Penderitaan dan kesengsaraan yang dialami para pendahulu tidak menyurutkan sikap mempertahankan harkat dan martabat sebagai bangsa yang berdaulat.

Dalam Bhagawadgita II 31 dan 33 dinyatakan : “ Svadharma api cha’vidyate, na vikampitum arhasi, dharmayad dhiyuddhach chreyo’nyat, ksatriyasya na vidyate “ Atha chet tvam imam dharmayam, sangramam na karishyasi, tatah avadharmam kirtim cha, hitva papam avaspsyasi

artinya : Apabila sadar akan kewajibanmu, engkau tidak boleh gentar, bagi kesatria tidak ada kebahagiaan lebih besar dari pada bertempur menegakkan kebenaran (membela negara). Tetapi jika engkau tidak melakukan perang menegakkan kebenaran (membela negara) ini berarti engkau meninggalkan kewajiban dan kehormatanmu, maka dosa papalah bagimu”

c. Kasih sayang. Makna Kemerdekaan RI yang diraih tidak lepas dari rasa senasib sepenanggungan sebagai wujud dari kasih sayang baik secara vertikal maupun horisontal.

Dalam Kakawin Ramayana dinyatakan :
“Hana sira Sang Dasaratha wruh sira ring Weda bhakti ring Dewa tarmalupeng pitra puja maasih ta sireng swagotra kabeh
artinya : Sang Dasaratha nama beliau mengetahui tentang Weda (ilmu pengetahuan), bakti kepada Tuhan (Sanghyang Widhi Wasa), tidak lupa memuja leluhurnya, mengasihi seluruh keluarganya”

d. Semangat Kebangsaaan. Dengan mengenang kembali jiwa Proklamasi

Kemerdekaan RI dan mengamalkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai wujud meningkatkan semangat kebangsaan agar tidak luntur, pudar bahkan musnah oleh derasnya pengaruh globalisasi baik secara ideologi, sosbud, ekonomi dan lain-lain yang dapat melemahkan jiwa patriotisme dikalangan rakyat dan masyarakat Indonesia khususnya para generasi muda.
Dalam kitab Yajur Weda XIX.9 dinyatakan :
“Tejo’si tejo mayi dhehi viryam asi virya mayi dhehi balam asi balam mayi dhehyojo’syojo dhehi manyur asi manyum mayi dhehi saho’si saha mayi dhehi

artinya : Engkau memiliki semangat berapi-api, berikanlah kami semangat berapi-api, Engkau memiliki kekuatan berapi-api, berikanlah kami kekuatan, Engkau memiliki kemampuan, berikanlah kami kemampuan, Engkau memiliki tenaga, berikanlah kami tenaga, Engkau memiliki semangat bertempur, berikanlah kami semangat bertempur, Engkau
memiliki keperkasaan, berikanlah kami keperkasaan.


3. Kesimpulan. Sebagai bangsa yang berdaulat tidak rela dijajah oleh bangsa lain. Karena itu segala bentuk penjajahan harus dilawan oleh berbagai komponen bangsa yang bersatu, sehingga dapat mempertahankan Kemerdekaan RI dengan langgeng dan abadi. Melalui Puja Santhi Kemerdekaan RI, doa dan harapan bangsa Indonesia agar dapat hidup secara rukun dan damai baik antar sesama anak bangsa maupun hidup berdampingan dengan bangsa lain.

Merdeka, Dirgahayu ke 61 Republik Indonesia.


















































































JALAN MENCAPAI MOKSA


1. Umum.

Moksa merupakan tujuan agama Hindu sekaligus tujuan akhir hidup manusia menurut ajaran agama Hindu yaitu salah satu bagian dari Catur Purusartha. Moksa berasal dari akar kata Sansekerta “Muc” yang berarti membebaskan. Kebebasan di sini dalam arti telah terlepasnya atma dari pengaruh maya antara lain badan wadah manusia, lepasnya ikatan subha asubha karma dan lepasnya ikatan Samsara/Punarbhawa menuju bersatunya atma dengan Paramatman / Brahman / Sanghyang Widhi Wasa yaitu asal dan kembalinya segala yang ada ini.
Dalam Bhagawadgita Bab VI seloka 27 dinyatakan : “Prasanta manasam hy enam, yoginam sukham uttamam, upaiti santarajasam, Brahmabhutam akalmasam”
Yang artinya Sesungguhnya kebahagiaan tertinggi datang pada yogi yang pikirannya tenteram – damai, yang hawa nafsunya tiada lagi, tiada noda, bersatu dengan Brahman/Tuhan.
Lebih lanjut dalam Bhagwadgita Bab VII seloka 19 dinyatakan : “Bahunam janmanam ante, jnanavam mam prapadyate, vasudevah sarvam iti, sa mahatma sudurlabhah “
yang artinya Pada akhir dari banyak kelahiran orang yang bijaksana menuju kepada Aku, karena mengetahui bahwa Tuhan adalah semuanya yang ada.

2. Tingkatan Moksa
Berdasarkan atas keadaan Atma dalam hubungannya dengan Tuhan maka kebebasan


/ Moksa itu dapat dibedakan dalam 4 macam yaitu :
a. Samipya adalah kebebasan yang dapat dicapai semasa hidup ini, terutama oleh para Rsi pada waktu melakukan Samadhi, segala unsur-unsur maya/pikiran, emosi dan badan telah dapat dikembalikan dan disertai dengan kemekaran intuisinya, maka beliau dapat menerima wahyu-wahyu (Sruti) dari Tuhan. Setelah selesai mengadakan Samadhi maka keadaan beliau kembali sebagai biasa lagi.

b. Sarupya/Sadharmiya adalah suatu kehidupan di dunia dimana kedudukan Atma mengatasi unsur-unsur maya karena dalam hal ini Atma meruipakan pancaran refleksi darai pada kemaha kuasaan Tuhan. Seperti halnya Sri Kresna dalam Bhagawadgita.

c. Salokya adalah suatu kebebasan yang dapat dicapai oleh Atma dimana Atma itu sendiri telah berada dalam posisi dan kesadaran sama dengan Tuhan, akan tetapi belum dapat bersatu dengan Tuhan. Dalam hal ini Atma telah mencapai tingkat Dewa yang merupakan manifestasi dari sinarnya Tuhan.

d. Sayujya adalah suatu tingakatn kebebasan yang tertinggi dimana Atma telah dapat bersatu atau bersenyawa secara indentik dengan Tuhan dan tidak terbatas oleh apapun juga sehinga benar-benar telah mencapai Brahman Atman Aikyam.
Disamping itu ada Istilah lain untuk mengklasifikasikan tingkatan Moksa yaitu :

a. Jiwan Mukti adalah suatu kebebasan yang dapat dicapai semasa hidupnya, dimana atma tak terpengaruh oleh indria dan unsur-unsur maya lainnya. Sifatnya sama dengan Samipya dan Sarupya/Sadharmiya.

b. Wideha/Krama Mukti adalah suatu kebebasan yang dapat dicapai setelah meninggal dunia dimana atma telah pergi dari sthula sarira tetapi wasana maya tidak kuat mengikat atma. Kesadaran yang dicapai atma setaraf dengan Tuhan, akan tetapi belum dapat bersatu dengan Brahman. Sifatnya sama dengan Salokya.

c. Purna Mukti adalah kebebasan yang paling sempurna dan tertinggi dimana atma telah dapat bersatu dengan Brahman/Tuhan. Sifatnya sama dengan Sayujya.

3. Kendala Moksa
Sebab utama yang menjadi perintang jalan atau kendala mencapai Moksa adalah pikiran yang diselubungi oleh Awidya/kegelapan. Alam pikiran terdiri dari 4 macam yaitu Budhi, Manas, Ahamkara dan Indria. Diantara keempatnya itu yang paling utama penyebab timbulnya Awidya adalah Ahamkara/egoisme dan Indria/emosi.

4. Jalan mencapai Moksa
Agar manusia terhindar dari gelombang rintangan hidup maka peranan agama menjadi sangat penting. Agama memberikan sebuah ajaran Dharma yang akan

mengantarkan manusia menyeberangi gelombang rintangan hidup menuju pulau harapan yang membahagiakan.


Dalam Sarasamuscaya dinyatakan : “Ikang Dharma ngaranya henuning mara ring swarga ika, kadi gatining prahu an henuning banyaga nentasing tasik” yang artinya Yang disebut Dharma adalah merupan jalan untuk pergi ke sorga, sebagai halnya sebuah perahu, sesungguhnya adalah merupakan alat bagi orang dagang untuk mengarungi lautan.
Secara terperinci ajaran agama Hindu ( Wrehaspati Tattwa ) juga memberikan jalan mencapai Moksa yang disebut dengan Tri Karana/Tri Sadhana yaitu :

a. Jnana Bhyudrahe adalah mahir dalam segala hal ilmu pengetahuan terutama mengenai ajaran filsafat agama dengan mengetahui akibat kebenaran yang diajarkan dalam filsafat (Tattwa) maka orang akan dapat tuntunan dan pedoman untuk mengenal dirinya yang sebenarnya tentang asal dan kembalinya semua ini serta yang patut dilakukan semasa hidup.

b. Sudriya Yoga marga adalah pengendalian jalan (geraknya indria), tidak terpengaruh oleh rasa suka dan duka, sehingga dapat mencapai ketentraman pikiran.

c. Tresna Dosa Ksaya adalah mengurangi dosa dan rasa cinta kasih yang kukuh dengan jalan melaksanakan ajaran Indraganarya.

Selain itu ada juga jalan mencapai Moksa yaitu ajaran Catur Marga/Catur Yoga yaitu :

a. Bhakti Marga/Yoga adalah dengan jalan berbhakti, menjalankan segala tuntunannya,


taat bersembahyang dan menghindari segala yang menyebabkan dosa.

b. Karma Marga/Yoga adalah dengan jalan bekerja secara ikhlas tanpa pamrih.

c. Jnana marga/Yoga adalah dengan jalan memperdalam dan mengamalkan ilmu pengetahuan bagi kebahagiaan dan kesejahteraan umat manusia.

d. Raja Marga/Yoga adalah dengan jalan tapa, brata, yoga dan samadhi.

5. Kesimpulan.
Tujuan agama Hindu juga merupakan tujuan hidup manusia harus diraih dengan ketekunan, kesabaran, pengabdian demi mencapai kebebasan yang abadi yaitu bersatunya atman dengan Brahman (Brahman Atman Aikyam).




































































MAKNA NYEPI


“Nyepi”. Kata itulah yang ada pada pikiran umat Hindu setiap merayakan Hari Nyepi. Nyepi yang berarti sepi, menyepikan diri dalam rangka mengembalikan unsur duniawi yang biasa melekat dalam diri manusia, seperti hiruk pikuk kegiatan mulai dari aktifitas sesuai profesi masing-masing hingga aktifitas sosial dengan hingar bingarnya dunia hiburan.
Hari raya Nyepi sebagai peringatan tahun baru saka untuk mengenang kebijakan dan kemahsyuran Raja Kaniska I dari suku bangsa saka dinasti kusana yang dinobatkan pada tahun 78 Masehi. Kebijakan dalam menjalankan pemerintahan tidak lagi menggunakan cara-cara fisik dengan kekuatan bersenjata melainkan dirubah melalui pendekatan strategi budaya dan kerukunan hidup beragama. Hal tersebut memberikan hasil dan dampak yang cukup luas bagi suku bangsa yang lain untuk mengikuti jejaknya. Sehingga pada jamannya kehidupan masyarakat lebih harmonis, aman, tenteram, sejahtera dan bahagia. Sejak itulah peringatan tahun baru saka dilaksanakan dari tahun ke tahun. Sejalan dengan perkembangan agama Hindu dari tanah India sampai ke kawasan Asia termasuk Indonesia peringatan tahun baru saka senantiasa dilaksanakan. Peringatan tahun baru Saka lebih semarak lagi sejak diperkenalkan peringatan tahun baru saka sebagai Hari raya Nyepi pada tahun 1959 berdasarkan keputusan Pesamuan Agung para pemuka agama Hindu, Tokoh Hindu dan Majelis Agama Hindu yang diselenggarakan di Aula Fakultas sastra Universitas Udayana Denpasar pada tanggal 21 Pebruari sampai 22 Pebruari 1959. Berkat asung kerta wara nugraha Sanghyang Widhi Wasa walaupun memakan waktu yang cukup relatif lama tapi membuahkan hasil dengan terbitnya Keputusan Presiden nomor 3 tahun 1983 tanggal 19 Januari 1983 yang menyatakan Hari Raya Nyepi sebagai hari libur nasional.
2

Manusia yang selalu dekat dengan suka dukanya kehidupan di dunia ini dari tahun ke tahun senantiasa mewarnai perjalanan hidup seseorang. Bagaikan sebuah irama kehidupan kadang naik terkadang turun hingga jatuh sekalipun. Segala sesuatu yang telah diberikan Sanghyang Widhi Wasa seakan sulit untuk dipahami secara logika semata. Perlu perenungan mendalam menyentuh nurani yang senantiasa menyuarakan kebenaran dan kejujuran.
Agama Hindu mengajarkan bahwa di dunia ini tidak ada yang kekal dan suatu saat akan dikembalikan kepada asalnya oleh Sanghyang Widhi Wasa. Karena itu manusia senantiasa diajarkan untuk berbuat baik dan benar agar dalam kehidupan nanti dapat menikmati kebahagiaan sejati yaitu suka tanpa wali duka yang berarti kebahagiaan tanpa kembalinya penderitaan. Penderitaan dapat dipandang dari dua sisi yakni pertama ; penderitaan sebagai hukuman sekaligus pembersih atau pelebur. Kedua ; penderitaan sebagai anugrah. Melalui penderitaan seseorang dapat lebih memahami dan tumbuhnya kesadaran. Hal tersebut bukan berarti mencari-cari penderitaan agar segera mendapatkan anugrah atau melebur segala perbuatan yang tidak baik atau segala kesalahan. Hal ini semata-mata sebagai motivasi untuk membangkitkan kesadaran yang sempat hilang atau terhalang oleh kabut duniawi.
Dalam kitab Manawa Dharmasastra menyatakan saat dunia ini diciptakan diawali dengan gelap hingga terciptanya makhluk hidup. Sesuatu yang gelap dan ketiadaan kemudian menjadi terang dan ada. Gelap sebagai perwujudan kosong, sepi, hening namun sesungguhnya ada suatu kekuatan sinar suci yang hanya tampak bagi orang suci. Nyepi memberi makna pengosongan pikiran dan menarik indria dari ikatan duniawi. Dengan demikian Nyepi adalah kegiatan yoga untuk membersihkan dan mensucikan diri dari endapan panca tan matra dan


3

panca budhindria, yang meliputi gerak seluruh anggota tubuh dan indria.
Dalam perayaan Nyepi ada empat kegiatan inti yang diawali dengan Melis/Melasti, Tawur Agung kemudian dilanjutkan dengan Catur Brata Penyepian dan Dharma Santi.
1. Melis/Melasti.
Makna dari Melis/Melasti ini adalah untuk mensucikan sarana upacara dan upakara serta umat Hindu di laut (pantai). Filosofinya bahwa laut adalah sebagai sumber dan kembalinya segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan. Dewa Baruna atau Sagara sebagai penguasa laut yang siap menerima apa saja dari daratan dan udara dan sewaktu-waktu bisa dikembalikan lagi ke daratan setelah mengalami peleburan. Keyakinan ini juga didasarkan pada ilmu geografi / geologi bahwa 2/3 dari bumi ini adalah terdiri dari air. Air laut yang terasa asin tidak mempengaruhi ikan yang hidup di air laut tersebut.
2. Tawur Agung Kasanga.
Makna dari Tawur Agung adalah untuk mensucikan bhuana agung (makrokosmos) dan bhuana alit (mikrokosmos). Alam dan makhluk hidup disucikan agar dapat hidup dengan harmonis, bahagia dan sejahtera.
3. Catur Brata Penyepian.
Makna dari Catur Brata Penyepian adalah mengendalikan diri yang terdiri dari amati gni yaitu tidak menyalakan api, berapi-api sekaligus tersirat puasa (tidak makan dan minum), amati karya yaitu tidak beraktifitas/bekerja sekaligus tersirat mengistirahatkan seluruh indria, amati lelungan yaitu tidak bepergian sekaligus tersirat tinggal di tempat (rumah atau Pura), amati lelangunan yaitu tidak bersenang-senang sekaligus tersirat tidak melakukan kegiatan yang bersifat hiburan duniawi.
4. Dharma Santi
Makna dari Dharma Santi ini adalah untuk saling minta maaf antar sesama mulai dari keluarga sampai orang lain.


4

Dari keempat kegiatan inti perayaan Nyepi tersebut, pelaksanaan Catur Brata Penyepian merupakan kegiatan puncak Nyepi. Untuk mengisi kekosongan di tempat penyepian maka perlu ada panduan khusus atau jadual sehingga pelaksanaan brata penyepian lebih terarah. Dan juga makna Nyepi dapat ditransformasikan ke dalam diri guna peningkatan kualitas rohani. Pengosongan diri yang dilanjutkan dengan pengisian rohani dengan kegiatan spiritual dapat meningkatkan kekuatan mental rohani dalam menjalani hidup kelak. Adapun jadual kegiatan Catur Brata Penyepian dibuat dan dilaksanakan dengan tidak mengurangi suasana sepi dan hening sebagai berikut :
Tgl. 1 Kadasa
Pukul 06.00 - 06.15 :
Persembahyangan Tri Sandhya dan Kramaningsembah dengan menggunakan sarana kembang, air (tanpa menggunankan sarana api)
Pukul 06.15 - 07.00 :
Meditasi dan Pranayama.
Pukul 07.00 - 09.00 :
Membaca kitab suci agama (Srawanam)
Pukul 09.00 - 10.00 :
Pemujaan dan mengucapkan nama-nama Tuhan (Kirtanam)
Pukul 10.00 - 11.00 :
Mengingat nama-nama Tuhan (Smaranam)
Pukul 11.00 – 12.00 :
Istirahat dan Yoga Sawasana.
Pukul 12.00 – 12.15 :
Persembahyangan Tri Sandhya dan Kramaning sembah dengan menggunakan sarana kembang, air (tanpa menggunakan sarana api)
Pukul 12.15 – 12.30 :
Meditasi dan Pranayama
Pukul 12.30 – 13.00 :
Istirahat dan Yoga Sawasana
Pukul 13.00 – 15.00 :
Membaca kitab suci agama ( Srawanam)



5
Pukul 15.00 – 16.00 :Pemujaan dan mengucapkan nama-nama Tuhan (Kirtanam)
Pukul 16.00 – 17.00 :
Mengingat nama-nama Tuhan (Smaranam)
Pukul 17.00 – 18.00 :
Istirahat/ mandi
Pukul 18.00 – 18.15 :
Persembahyangan Tri Sandhya dan Kramaning sembah dengan menggunakan sarana kembang, air (tanpa menggunakan sarana api)
Pukul 18.15 – 19.00 :
Meditasi dan Pranayama
Pukul 19.00 – 20.00 :
Pemujaan dan mengucapkan nama-nama Tuhan (Kirtanam)
Pukul 20.00 – 21.00 :
Mengingat nama-nama Tuhan (Smaranam)
Pukul 21.00 – 24.00 :
Istirahat / Tidur

Tgl. 2 Kadasa
Pukul 24.00 – 24.15 :
Meditasi dan Pranayama
Pukul 24.15 – 05.00 :
Istirahat / Tidur
Pukul 05.00 – 06.00 :
Persembahyangan Tri Sandhya dan Kramaning sembah dengan menggunakan sarana kembang, air (tanpa menggunakan sarana api) sekaligus menutup Catur Brata Penyepian.

Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1929
Semoga damai di hati, damai di dunia, damai selalu.



















SAAT DUNIA INI DICIPTAKAN
DIAWALI DENGAN GELAP
SAMPAI AKHIRNYA
DICIPTAKAN MAKHLUK HIDUP
(MANU SMRTI)

TAHUN BARU SAKA SEBAGAI TONGGAK KEBANGKITAN PERDAMAIAN
SEJAK RAJA KANISKA I TAHUN 78 M




























MAKNA NYEPI

“Nyepi”. Kata itulah yang ada pada pikiran umat Hindu setiap merayakan Hari Nyepi. Nyepi yang berarti sepi, menyepikan diri dalam rangka mengembalikan unsur duniawi yang biasa melekat dalam diri manusia, seperti hiruk pikuk kegiatan mulai dari aktifitas sesuai profesi masing-masing hingga aktifitas sosial dengan hingar bingarnya dunia hiburan.
Hari raya Nyepi sebagai peringatan tahun baru saka untuk mengenang kebijakan dan kemahsyuran Raja Kaniska I dari suku bangsa saka dinasti kusana yang dinobatkan pada tahun 78 Masehi. Kebijakan dalam menjalankan pemerintahan tidak lagi menggunakan cara-cara fisik dengan kekuatan bersenjata melainkan dirubah melalui pendekatan strategi budaya dan kerukunan hidup beragama. Hal tersebut memberikan hasil dan dampak yang cukup luas bagi suku bangsa yang lain untuk mengikuti jejaknya. Sehingga pada jamannya kehidupan masyarakat lebih harmonis, aman, tenteram, sejahtera dan bahagia. Sejak itulah peringatan tahun baru saka dilaksanakan dari tahun ke tahun. Sejalan dengan perkembangan agama Hindu dari tanah India sampai ke kawasan Asia termasuk Indonesia peringatan tahun baru saka senantiasa dilaksanakan. Peringatan tahun baru Saka lebih semarak lagi sejak diperkenalkan peringatan tahun baru saka sebagai Hari raya Nyepi pada tahun 1959 berdasarkan keputusan Pesamuan Agung para pemuka agama Hindu, Tokoh Hindu dan Majelis Agama Hindu yang diselenggarakan di Aula Fakultas sastra Universitas Udayana Denpasar pada tanggal 21 Pebruari sampai 22 Pebruari 1959. Berkat asung kerta wara nugraha Sanghyang Widhi Wasa walaupun memakan waktu yang cukup relatif lama tapi membuahkan hasil dengan terbitnya Keputusan Presiden nomor 3 tahun 1983 tanggal 19 Januari 1983 yang menyatakan Hari Raya Nyepi sebagai hari libur nasional.

2

Manusia yang selalu dekat dengan suka dukanya kehidupan di dunia ini dari tahun ke tahun senantiasa mewarnai perjalanan hidup seseorang. Bagaikan sebuah irama kehidupan kadang naik terkadang turun hingga jatuh sekalipun. Segala sesuatu yang telah diberikan Sanghyang Widhi Wasa seakan sulit untuk dipahami secara logika semata. Perlu perenungan mendalam menyentuh nurani yang senantiasa menyuarakan kebenaran dan kejujuran.
Agama Hindu mengajarkan bahwa di dunia ini tidak ada yang kekal dan suatu saat akan dikembalikan kepada asalnya oleh Sanghyang Widhi Wasa. Karena itu manusia senantiasa diajarkan untuk berbuat baik dan benar agar dalam kehidupan nanti dapat menikmati kebahagiaan sejati yaitu suka tanpa wali duka yang berarti kebahagiaan tanpa kembalinya penderitaan. Penderitaan dapat dipandang dari dua sisi yakni pertama ; penderitaan sebagai hukuman sekaligus pembersih atau pelebur. Kedua ; penderitaan sebagai anugrah. Melalui penderitaan seseorang dapat lebih memahami dan tumbuhnya kesadaran. Hal tersebut bukan berarti mencari-cari penderitaan agar segera mendapatkan anugrah atau melebur segala perbuatan yang tidak baik atau segala kesalahan. Hal ini semata-mata sebagai motivasi untuk membangkitkan kesadaran yang sempat hilang atau terhalang oleh kabut duniawi.
Dalam kitab Manawa Dharmasastra menyatakan saat dunia ini diciptakan diawali dengan gelap hingga terciptanya makhluk hidup. Sesuatu yang gelap dan ketiadaan kemudian menjadi terang dan ada. Gelap sebagai perwujudan kosong, sepi, hening namun sesungguhnya ada suatu kekuatan sinar suci yang hanya tampak bagi orang suci. Nyepi memberi makna pengosongan pikiran dan menarik indria dari ikatan duniawi. Dengan demikian Nyepi adalah kegiatan yoga untuk membersihkan dan mensucikan diri dari endapan panca tan matra dan


3

panca budhindria, yang meliputi gerak seluruh anggota tubuh dan indria.
Dalam perayaan Nyepi ada empat kegiatan inti yang diawali dengan Melis/Melasti, Tawur Agung kemudian dilanjutkan dengan Catur Brata Penyepian dan Dharma Santi.
1. Melis/Melasti.
Makna dari Melis/Melasti ini adalah untuk mensucikan sarana upacara dan upakara serta umat Hindu di laut (pantai). Filosofinya bahwa laut adalah sebagai sumber dan kembalinya segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan. Dewa Baruna atau Sagara sebagai penguasa laut yang siap menerima apa saja dari daratan dan udara dan sewaktu-waktu bisa dikembalikan lagi ke daratan setelah mengalami peleburan. Keyakinan ini juga didasarkan pada ilmu geografi / geologi bahwa 2/3 dari bumi ini adalah terdiri dari air. Air laut yang terasa asin tidak mempengaruhi ikan yang hidup di air laut tersebut.
2. Tawur Agung Kasanga.
Makna dari Tawur Agung adalah untuk mensucikan bhuana agung (makrokosmos) dan bhuana alit (mikrokosmos). Alam dan makhluk hidup disucikan agar dapat hidup dengan harmonis, bahagia dan sejahtera.
3. Catur Brata Penyepian.
Makna dari Catur Brata Penyepian adalah mengendalikan diri yang terdiri dari amati gni yaitu tidak menyalakan api, berapi-api sekaligus tersirat puasa (tidak makan dan minum), amati karya yaitu tidak beraktifitas/bekerja sekaligus tersirat mengistirahatkan seluruh indria, amati lelungan yaitu tidak bepergian sekaligus tersirat tinggal di tempat (rumah atau Pura), amati lelangunan yaitu tidak bersenang-senang sekaligus tersirat tidak melakukan kegiatan yang bersifat hiburan duniawi.
4. Dharma Santi
Makna dari Dharma Santi ini adalah untuk saling minta maaf antar sesama mulai dari keluarga sampai orang lain.


4

Dari keempat kegiatan inti perayaan Nyepi tersebut, pelaksanaan Catur Brata Penyepian merupakan kegiatan puncak Nyepi. Untuk mengisi kekosongan di tempat penyepian maka perlu ada panduan khusus atau jadual sehingga pelaksanaan brata penyepian lebih terarah. Dan juga makna Nyepi dapat ditransformasikan ke dalam diri guna peningkatan kualitas rohani. Pengosongan diri yang dilanjutkan dengan pengisian rohani dengan kegiatan spiritual dapat meningkatkan kekuatan mental rohani dalam menjalani hidup kelak. Adapun jadual kegiatan Catur Brata Penyepian dibuat dan dilaksanakan dengan tidak mengurangi suasana sepi dan hening sebagai berikut :
Tgl. 1 Kadasa
Pukul 06.00 - 06.15 :
Persembahyangan Tri Sandhya dan Kramaningsembah dengan menggunakan sarana kembang, air (tanpa menggunankan sarana api)
Pukul 06.15 - 07.00 :
Meditasi dan Pranayama.
Pukul 07.00 - 09.00 :
Membaca kitab suci agama (Srawanam)
Pukul 09.00 - 10.00 :
Pemujaan dan mengucapkan nama-nama Tuhan (Kirtanam)
Pukul 10.00 - 11.00 :
Mengingat nama-nama Tuhan (Smaranam)
Pukul 11.00 – 12.00 :
Istirahat dan Yoga Sawasana.
Pukul 12.00 – 12.15 :
Persembahyangan Tri Sandhya dan Kramaning sembah dengan menggunakan sarana kembang, air (tanpa menggunakan sarana api)
Pukul 12.15 – 12.30 :
Meditasi dan Pranayama
Pukul 12.30 – 13.00 :
Istirahat dan Yoga Sawasana
Pukul 13.00 – 15.00 :
Membaca kitab suci agama ( Srawanam)



5

Pukul 15.00 – 16.00 :Pemujaan dan mengucapkan nama-nama Tuhan (Kirtanam)
Pukul 16.00 – 17.00 :
Mengingat nama-nama Tuhan (Smaranam)
Pukul 17.00 – 18.00 :
Istirahat/ mandi
Pukul 18.00 – 18.15 :
Persembahyangan Tri Sandhya dan Kramaning sembah dengan menggunakan sarana kembang, air (tanpa menggunakan sarana api)
Pukul 18.15 – 19.00 :
Meditasi dan Pranayama
Pukul 19.00 – 20.00 :
Pemujaan dan mengucapkan nama-nama Tuhan (Kirtanam)
Pukul 20.00 – 21.00 :
Mengingat nama-nama Tuhan (Smaranam)
Pukul 21.00 – 24.00 :
Istirahat / Tidur

Tgl. 2 Kadasa
Pukul 24.00 – 24.15 :
Meditasi dan Pranayama
Pukul 24.15 – 05.00 :
Istirahat / Tidur
Pukul 05.00 – 06.00 :
Persembahyangan Tri Sandhya dan Kramaning sembah dengan menggunakan sarana kembang, air (tanpa menggunakan sarana api) sekaligus menutup Catur Brata Penyepian.

Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1929
Semoga damai di hati, damai di dunia, damai selalu.





















SAAT DUNIA INI DICIPTAKAN
DIAWALI DENGAN GELAP
SAMPAI AKHIRNYA
DICIPTAKAN MAKHLUK HIDUP
(MANU SMRTI)

TAHUN BARU SAKA SEBAGAI TONGGAK KEBANGKITAN PERDAMAIAN
SEJAK RAJA KANISKA I TAHUN 78 M

























"Swadharma sebagai etos kerja"

Sriyam swadharmo wigunah,
Paradharmat swanusthitat,
Swabhawaniyatam karma,
Kurwan na 'pnoti kilbisam

Lebih mulia (melakukan) kewajiban sendiri walau tak sempurna dari pada melakukan tugas kewajiban orang lain kendatipun dengan sempurna, sesungguhnya bila ia melaksanakan tugas kewajibannya sendiri sesuai dengan sifatnya, ia tidak berdosa
(Bhagawadgita XVIII seloka 47)

Om Swastyastu.

1. Umum. Bila mendengar kata kewajiban, maka dibenak hati yang suci terpancar pengabdian. Sangat indah dan nikmat dirasakan ketika pengabdian diraih dengan suka cita. Ibarat menabung hingga suatu saat tabungan menjadi penolong ketika mengalami kesulitan, kesusahan, kedukaan, sengsara penderitaan, kesedihan. Semua itu sebagai cobaan sekaligus tantangan dalam hidup ini. Sebaliknya tabungan suatu saat menjadi modal ketika mengalami kebahagiaan, kesejahteraan, ketenangan, kedamaian, ketenteraman. Setiap orang memiliki bakat dan kemampuan untuk menciptakan karya baik untuk dirinya maupun orang lain. Dan setiap karyanya dihargai secara materi maupun kualitas. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan tekhnologi, kemampuan manusia semakin bertambah atau meningkat yang diwujudkan melalui karya yang mengagumkan. Dibalik semua itu yang menjadi faktor pendorong adalah adanya spirit dalam diri manusia berupa rasa ingin tahu secara terus menerus. Sehingga selalu ada karya atau produk yang dihasilkan. Saling menyusul bahkan adanya persaingan yang mengakibatkan semakin tingginya usaha dan upaya yang dilakukan untuk menjadikan karyanya juara nomor
2


satu. Akan tetapi akhir-akhir ini banyak upaya dan usaha manusia yang dilakukan semata-mata mendapatkan hasil materi tanpa menghiraukan norma dan peraturan yang berlaku. Di media massa bisa disaksikan bagaimana kecurangan yang dilakukan seseorang dengan menduplikat karya orang lain yang dikenal dengan istilah "aspal" yang artinya asli tapi palsu. Tanpa rasa berdosa seseorang memperjual belikan karya seseorang dengan modus pemalsuan. Inilah bagian dari penyimpangan terhadap ajaran swadharma yang sejati. Setidaknya ada dua hal yang dilanggar yaitu pertama, melakukan tugas kewajiban orang lain yang bukan porsinya dan kedua, memalsukan karya orang lain.

2. Arti dan makna Swadharma.

Swadharma terdiri dari kata "swa" yang artinya sendiri dan "dharma" yang artinya kewajiban. Jadi Swadharma artinya kewajiban sendiri yang menyangkut kewajiban yang digariskan oleh ajaran agama Hindu. Ajaran swadharma memiliki arti dan makna serta filosofi yang tinggi bagaimana kewajiban itu dilakukan dengan percaya diri sesuai bakat dan kemampuan sendiri. Memang terkesan egois, akan tetapi sesungguhnya agama Hindu mengajarkan kepada umatnya untuk hidup mandiri. Agama Hindu mengajarkan umatnya bekerja dan berkarya sesuai kemampuan yang dimiliki sendiri. Mengerjakan kewajiban sendiri lebih mulia dari pada mengerjakan kewajiban orang lain walau sempurna. Dan dinyatakan tidak berdosa apabila mengerjakan kewajiban sendiri walau hasilnya tidak sempurna. Makna ini memberikan pencerahan kepada umat manusia, agar melepaskan diri dari "takut salah". Salah memang tidak dianjurkan oleh ajaran agama, akan tetapi tidak menjadi bisa dan bijaksana jika terus menerus dibayangi oleh rasa takut salah yang berlebihan. Karena itu manusia berusaha mempelajari kesalahan dan memperbaikinya, agar kesalahan yang sama tidak terulang.

32

Dengan demikian bekerja adalah kewajiban tanpa mengenal putus asa atau tiada henti. Apalagi kewajiban dilaksanakan tanpa pamrih. Ibarat matahari tiada henti dan tidak berkeluh kesah melakukan kewajibannya memberikan sinar suci kepada alam beserta isinya. Dapat dibayangkan jika matahari berhenti sejenak saja, maka dapat dipastikan dunia beserta isinya akan hancur. Meniru seperti matahari memang tidak bisa, tetapi setidaknya meneladani kewajiban yang dilakukan sang matahari sungguh luar biasa mulia. Pengorbanan yang ditunjukkan sang matahari tidak bisa dinilai dengan materi. Semua orang pasti memahami dan mengatakan bahwa matahari adalah bagian kecil ciptaan Tuhan. Hal tersebut benar adanya, akan tetapi sungguh tidak bijaksana jika tidak menghormati dan menghargai serta ucapan terima kasih kepada semua ciptaan Tuhan. Disinilah peran penting memahami kewajiban sendiri sama besar pemahamannya dengan kewajiban yang dilakukan orang lain maupun kewajiban yang dilakukan oleh alam serta Tuhan sebagai maha pencipta yang esa. Oleh karena itu sebagai sebuah nasehat agar tidak meremehkan kewajiban sendiri. Meremehkan kewajiban sendiri iitu berarti meremehkan diri sendiri. Sebaliknya melakukan kewajiban orang lain itu berarti telah merampas hak yang menjadi kewajiban orang lain.

3. Swadharma dalam hubungan dengan Catur Warna dan Catur Asrama.

a. Korelasi Swadharma dengan Catur Warna
Tiap-tiap warna memiliki Swadharma sesuai dengan bakat dan kemampuannya (profesi).
Seorang Brahmana ; Swadharmanya dalam bidang ilmu kerohanian, seorang Ksatria ; Swadharmanya dalam bidang pemerintahan, seorang Wesya ; Swadharmanya dalam bidang pertanian dan perdagangan, seorang Sudra ; Swadharmanya dalan bidang buruh dan jasa.
42



b. Korelasi Swadharma dengan Catur Asrama.
Tiap-tiap Asrama memiliki Swadharma sesuai dengan tingkatan hidupnya.
Pada tingkat hidup Brahmacari ; Swadharmanya menuntut ilmu pengetahuan dan Weda.
Pada tingkat hidup Grahasta ; Swadharmanya membina keluarga.
Pada tingkat hidup Wanaprasta ; Swadharmanya menjalankan kehidupan dengan sederhana.
Pada tingkat hidup Biksuka ; Swadharmanya melepaskan diri dari keduniawian.


4. Manfaat mengamalkan Swadharma.

Ada beberapa manfaat yang diperoleh langsung mengamalkan swadharma dalam kehidupan ini antara lain :


a. Atmanastusti yaitu kepuasan bhatin atas karyanya yang hanya dapat dirasakan oleh yang bersangkutan.

b. Yajna yaitu bentuk pengorbanan yang tulus ikhlas dalam rangka membersihkan dan menyucikan diri dari kesalahan, kekurangan dan dosa yang telah diperbuat sebelumnya.

c. Sila yaitu kesempatan untuk berbuat baik tanpa pamrih.

d. Yasa yaitu nama baik atau jasa baik yang dapat diwariskan kepada sesama ciptaan Tuhan.

e. Wrdhi yaitu kesempatan panjang umur sehingga dapat berbuat Dharma lebih banyak.
52



f. Guna yaitu kemampuan intelegensi/ kepandaian yang diberikan sebagai hasil dari melaksanakan kewajiban sendiri (Swadharma) secara rutin dan tekun.

g. Suci yaitu kesucian lahir dan bhatin dapat mengantarkan kealam Sorga (kebahagiaan)

5. Kesimpulan.

Ajaran Swadharma menekankan pada kepercayaan diri untuk melaksanakan kewajiban secara mandiri, sehingga membantu proses perbaikan dari yang salah menjadi benar. Tanpa kesalahan dirasa mustahil, akan tetapi kesalahan tidak boleh dibuat atas kesadaran sendiri atau sengaja. Hendaknya setiap kewajiban yang dilakukan bermanfaat bagi semua ciptaan Tuhan. Tidak meninggalkan kewajiban walau di depan menghadang berbagai kesalahan dan kekurangan yang akan terjadi. Di sinilah kunci pengabdian terletak pada perwujudan Dharma sebagai ajaran yang universal.
"Sahajam karma kaunteya, sadosam api na tyajet, sarwarambhahi dosena, dhumena 'gnir iwa 'writah"
yang artinya Tugas yang menurut sifatnya walaupun dengan kesalahan hendaknya jangan ditinggalkan, O Arjuna, karena sesungguhnya semua kerja diliputi kekurangan ibarat api diselubungi asap. (Bhagawadgita XVIII. 48)

Semangat dan spirit yang tersirat dalam kitab suci ini memberikan motivasi kerja pada tingkat produktivitas yang tinggi atau mulia. Inilah etos kerja menurut Hindu yang tidak akan berubah yang bersandar pada nilai-nilai dharma yaitu ikhlas, tekun, pengorbanan, pengabdian, intelegensia, dan tiada henti bekerja. Semua ini sebagai swadharma dalam kehidupan di dunia ini.

Om Santi Santi Santi Om















“Swadharma sebagai etos kerja”
























"MAKNA TUMPEK UYE"

1. Umum.
Dalam konsep Hindu, perayaan hari keagamaan berdasarkan pawukon dan sasih. Jika berdasarkan pawukon dirayakan setiap enam bulan pawukon yaitu 210 hari. Sedangkan berdasarkan sasih dirayakan setiap tahun yaitu ± 360 hari, dimana setiap sasih yaitu 30 atau 29 hari. Hari keagamaan Hindu ada yang bersifat rutin (nitya karmapuja) dan ada yang bersifat insidentil (naimitika karma puja). Yang termasuk nitya karma puja antara lain puja tri sandhya, saiban, kajeng kliwon, purnama/tilem. Sedangkan yang termasuk naimitika karma puja antara lain Piodalan Pura, Tumpek, Nyepi, Galungan, Kuningan, Siwaratri, Saraswasti, Pagerwesi.

Tumpek sebagai hari suci Hindu merupakan perayaan setiap enam bulan pawukon atau 210 hari. Tumpek Uye sebagai salah satu tumpek yang jatuh pada hari Sabtu Kliwon wuku Uye. Tumpek Uye juga dikenal dengan nama Tumpek Kandang. Karena umumnya dilakukan oleh seseorang yang sedang memelihara binatang ternak dengan membuat kandang peliharaan seperti kambing, babi, sapi, kerbau dan sebagainya. Pada jaman dahulu beternak bukanlah sebagai profesi tetapi kegiatan sambilan disamping menjaga efisiensi sampah makanan dapur untuk diberikan kepada binatang peliharaannya. Maka setiap rumah orang Hindu (Bali) mempunyai kandang untuk memelihara binatang ternak yang diprioritaskan untuk keperluan setiap perayaan agama Hindu.
2


Akan tetapi sejalan dengan perkembangan jaman dan populasi penduduk, sangat jarang bahkan tidak ditemui lagi setiap rumah ada peliharaan binatang ternak baik yang dikandangkan apalagi yang dibiarkan liar. Karena pertimbangan kebersihan dan kesehatan, di kota-kota besar diterapkan aturan memelihara binatang ternak antara lain tidak diperbolehkan memelihara binatang ternak di kawasan pemukiman padat penduduk dan lain sebagainya.

Dengan demikian yang menjadi bahan renungan adalah bagaimana eksistensi perayaan Tumpek Uye sejalan dengan perkembangan jaman ? Apakah wajib hukumnya bagi umat Hindu yang tidak memelihara binatang ternak atau yang tidak memiliki kandang ternak ? Hal inilah yang perlu dipahami menurut konsep Hindu.

2. Arti dan Makna Tumpek Uye.

Kata Tumpek menurut kamus jawa kuno berarti tumpah, sesuatu yang ditumpahkan. Tumpek juga berarti hari sabtu ketemu kliwon. Hari ini diyakini sangat baik untuk menghaturkan persembahan upakara yadnya kepada Tuhan melalui ciptaanNya. Dalam pandangan Hindu persembahan upakara yadnya tidak hanya ditujukan langsung kepada Tuhan dengan Ista Dewatanya, akan tetapi juga seluruh ciptaaNya wajib diberikan persembahan. Karena itu Hindu mengenal Panca Yadnya yaitu Dewa yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya, Rsi Yadnya dan Bhuta Yadnya.
3


Konsep Hindu ini merupakan cikal bakal harmonisasi hubungan atau hita karana, terutama dengan alam lingkungan. Ekosistem alam yang terpelihara dan terjaga akan memberikan dampak kepada umat manusia, dimana satu sama lain saling menguntungkan. Binatang ternak salah satu kebutuhan kelangsungan hidup manusia, dimana binatang sudah merupakan hukum alam untuk menjadi santapan manusia yang enak. Karena itu menurut Hindu manusia harus mengadakan upacara ritual untuk permakluman agar terlepas dari dosa bahkan mendoakan agar binatang ternak yang menjadi korban sebagai yadnya untuk meningkatkan kualitas penjelmaannya di kehidupan yang akan datang. Manusia kecuali dalam keadaan bahaya mungkin menjadi santapan binatang buas. Apabila bukan binatang buas, lalu manusia menjadi santapan siapa ? Atau kepada siapakah manusia berkorban ?
Jawabannya adalah manusia akan menjadi santapan atau korban dari sang Waktu. Waktu menjadi misteri bagi kehidupan manusia. Kecuali orang-orang yang suci bisa mengetahui tri semaya yaitu waktu masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang. Karena itu Hindu mengajarkan hendaknya manusia menjaga dan memelihara hubungan yang harmonis dengan semua ciptaan Tuhan. Tumpek Uye yang kita rayakan ini hendaknya menjadi pembersih dan menyucikan diri umat manusia karena selama kurun waktu enam bulan pawukon manusia telah makan berupa daging binatang ternak untuk kelangsungan hidup manusia. Hal ini juga memberikan pencerahan kepada umat manusia agar tidak sombong dan rendah hati.
4


Melalui ciptaan Tuhan, manusia dapat melangsungkan kehidupannya. Tuhan memberikan makanan berupa daging binatang ternak kepada umat manusia menunjukkan kasih sayang Tuhan begitu luas dan besar serta penuh perhatian. Tanggung jawab yang ditunjukkan Tuhan sulit diukur dengan kemampuan manusia. Karena itu manusia patut bersyukur dan mengembalikan dalam bentuk upakara yadnya (sesajen persembahan). Hanya dengan yadnyalah manusia bisa menjalin komunikasi dengan intens. Upakara yadnya sebagai simbul salah satu bahasa Tuhan merupakan jalinan interaksi spiritual. Semua keinginan disampaikan melalui upakara yadnya. Tidak hanya dalam bentuk retorika berupa kata-kata mutiara tetapi juga bentuk nyata persembahan upakara yadnya.
Dalam kitab Yajur Weda 32.8 dinyatakan : "Sa'atah protasca wibhuh prajasu" yang artinya Tuhan terjalin dalam makhluk yang diciptakan.
Dalam kitab Bhagawadgita adhyaya III 11 dinyatakan "Parasparam bhawayantah" yang artinya saling memberi, saling menopang, saling membantu.

Dalam kitab Bhagawadgita adhyaya III 10 dinyatakan : "Sahayajnah prajah sristwa, purowaca prajapatih, anena prasawisyadhiwam, esawo 'stwista kamadhuk" yang artinya Sesungguhnya sejak dahulu dikatakan Tuhan telah menciptakan manusia melalui yadnya, dengan (cara) ini engkau berkembang sebagaimanalembu perahan yang memerah susunya karena keinginanMu (sendiri).
5

Dalam kitab Bhagawadgita adhyaya III 12 dinyatakan : "Tair datatan apradayaibhyo yo bhunkte stena ewasah" yang artinya Ia yang telah memperoleh kesenangan tanpa memberi yadnya sesungguhnya adalah pencuri.
Hindu memandang bahwa yadnya sangat penting diterapkan baik secara ritual spiritual maupun aplikasi kehidupan sehari-hari. Dalam konteks Tumpek Uye, bagaimana konsep pelestarian ekosistem alam tetap dijaga dan terpelihara dengan baik sehingga terjadi keseimbangan dan keharmonisan hidup di dunia ini. Yadnya pada hakikatnya bertujuan untuk memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan. Karena itu perlu ditunjang dengan kesuburan tanah sehingga cukup pangan. Ditunjang dengan kemakmuran ekonomi sehingga cukup sandang dan papan. Ditunjang dengan kemapanan mata pencaharian sehingga terjamin kesehatan dan meneruskan pendidikan setinggi-tingginya.

3. Kesimpulan.

Tumpek Uye atau Tumpek Kandang wajib dilaksanakan sebagai hari suci Hindu untuk menyucikan diri dari dosa yang telah diperbuat manusia terhadap semua binatang ternak. Persembahan upakara yadnya (sesajen persembahan) sebagai representasi atau simbul keinginan dan harapan umat manusia antara lain ungkapan syukur dan terima kasih atas kemurahan dan kasih sayang Tuhan Sanghyang Widhi Wasa kepada umat manusia.
Om Santi Santi Santi Om

PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA
KABUPATEN BEKASI














" MAKNA TUMPEK UYE"





RENUNGAN AGAMA HINDU
EDISI : / 2010


Penanggung jawab : Pengurus PHDI Kabupaten Bekasi. Staf Redaksi : Drs. AAG. Raka Putra, I Putu Badung, Mpd, I B Adi Candra, S.Si, I Made Awanita, S.Ag. M.si, Ir. I Nyoman Mertasari, I Wayan Sudiarta. Tata Usaha & Distribusi : Ir. I Wayan Darmanta, IGB Virgo, I Wayan Brata, S.Ag.Alamat Redaksi : Perumh. Graha Prima L 16 No. 8 Mangunjaya Tambun Bekasi Jawa-Barat.Telp. 021 88336171



MAKNA NYEPI

“Nyepi”. Kata itulah yang ada pada pikiran umat Hindu setiap merayakan Hari Nyepi. Nyepi yang berarti sepi, menyepikan diri dalam rangka mengembalikan unsur duniawi yang biasa melekat dalam diri manusia, seperti hiruk pikuk kegiatan mulai dari aktifitas sesuai profesi masing-masing hingga aktifitas sosial dengan hingar bingarnya dunia hiburan.
Hari raya Nyepi sebagai peringatan tahun baru saka untuk mengenang kebijakan dan kemahsyuran Raja Kaniska I dari suku bangsa saka dinasti kusana yang dinobatkan pada tahun 78 Masehi. Kebijakan dalam menjalankan pemerintahan tidak lagi menggunakan cara-cara fisik dengan kekuatan bersenjata melainkan dirubah melalui pendekatan strategi budaya dan kerukunan hidup beragama. Hal tersebut memberikan hasil dan dampak yang cukup luas bagi suku bangsa yang lain untuk mengikuti jejaknya. Sehingga pada jamannya kehidupan masyarakat lebih harmonis, aman, tenteram, sejahtera dan bahagia. Sejak itulah peringatan tahun baru saka dilaksanakan dari tahun ke tahun. Sejalan dengan perkembangan agama Hindu dari tanah India sampai ke kawasan Asia termasuk Indonesia peringatan tahun baru saka senantiasa dilaksanakan. Peringatan tahun baru Saka lebih semarak lagi sejak diperkenalkan peringatan tahun baru saka sebagai Hari raya Nyepi pada tahun 1959 berdasarkan keputusan Pesamuan Agung para pemuka agama Hindu, Tokoh Hindu dan Majelis Agama Hindu yang diselenggarakan di Aula Fakultas sastra Universitas Udayana Denpasar pada tanggal 21 Pebruari sampai 22 Pebruari 1959. Berkat asung kerta wara nugraha Sanghyang Widhi Wasa walaupun memakan waktu yang cukup relatif lama tapi membuahkan hasil dengan terbitnya Keputusan Presiden nomor 3 tahun 1983 tanggal 19 Januari 1983 yang menyatakan Hari Raya Nyepi sebagai hari libur nasional.

2

Manusia yang selalu dekat dengan suka dukanya kehidupan di dunia ini dari tahun ke tahun senantiasa mewarnai perjalanan hidup seseorang. Bagaikan sebuah irama kehidupan kadang naik terkadang turun hingga jatuh sekalipun. Segala sesuatu yang telah diberikan Sanghyang Widhi Wasa seakan sulit untuk dipahami secara logika semata. Perlu perenungan mendalam menyentuh nurani yang senantiasa menyuarakan kebenaran dan kejujuran.
Agama Hindu mengajarkan bahwa di dunia ini tidak ada yang kekal dan suatu saat akan dikembalikan kepada asalnya oleh Sanghyang Widhi Wasa. Karena itu manusia senantiasa diajarkan untuk berbuat baik dan benar agar dalam kehidupan nanti dapat menikmati kebahagiaan sejati yaitu suka tanpa wali duka yang berarti kebahagiaan tanpa kembalinya penderitaan. Penderitaan dapat dipandang dari dua sisi yakni pertama ; penderitaan sebagai hukuman sekaligus pembersih atau pelebur. Kedua ; penderitaan sebagai anugrah. Melalui penderitaan seseorang dapat lebih memahami dan tumbuhnya kesadaran. Hal tersebut bukan berarti mencari-cari penderitaan agar segera mendapatkan anugrah atau melebur segala perbuatan yang tidak baik atau segala kesalahan. Hal ini semata-mata sebagai motivasi untuk membangkitkan kesadaran yang sempat hilang atau terhalang oleh kabut duniawi.
Dalam kitab Manawa Dharmasastra menyatakan saat dunia ini diciptakan diawali dengan gelap hingga terciptanya makhluk hidup. Sesuatu yang gelap dan ketiadaan kemudian menjadi terang dan ada. Gelap sebagai perwujudan kosong, sepi, hening namun sesungguhnya ada suatu kekuatan sinar suci yang hanya tampak bagi orang suci. Nyepi memberi makna pengosongan pikiran dan menarik indria dari ikatan duniawi. Dengan demikian Nyepi adalah kegiatan yoga untuk membersihkan dan mensucikan diri dari endapan panca tan matra dan


3

panca budhindria, yang meliputi gerak seluruh anggota tubuh dan indria.
Dalam perayaan Nyepi ada empat kegiatan inti yang diawali dengan Melis/Melasti, Tawur Agung kemudian dilanjutkan dengan Catur Brata Penyepian dan Dharma Santi.
1. Melis/Melasti.
Makna dari Melis/Melasti ini adalah untuk mensucikan sarana upacara dan upakara serta umat Hindu di laut (pantai). Filosofinya bahwa laut adalah sebagai sumber dan kembalinya segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan. Dewa Baruna atau Sagara sebagai penguasa laut yang siap menerima apa saja dari daratan dan udara dan sewaktu-waktu bisa dikembalikan lagi ke daratan setelah mengalami peleburan. Keyakinan ini juga didasarkan pada ilmu geografi / geologi bahwa 2/3 dari bumi ini adalah terdiri dari air. Air laut yang terasa asin tidak mempengaruhi ikan yang hidup di air laut tersebut.
2. Tawur Kasanga.
Makna dari Tawur Kasanga adalah untuk mensucikan bhuana agung (makrokosmos) dan bhuana alit (mikrokosmos). Alam dan makhluk hidup disucikan agar dapat hidup dengan harmonis, bahagia dan sejahtera.
3. Catur Brata Penyepian.
Makna dari Catur Brata Penyepian adalah mengendalikan diri yang terdiri dari amati gni yaitu tidak menyalakan api, berapi-api sekaligus tersirat puasa (tidak makan dan minum), amati karya yaitu tidak beraktifitas/bekerja sekaligus tersirat mengistirahatkan seluruh indria, amati lelungan yaitu tidak bepergian sekaligus tersirat tinggal di tempat (rumah atau Pura), amati lelangunan yaitu tidak bersenang-senang sekaligus tersirat tidak melakukan kegiatan yang bersifat hiburan duniawi.
4. Dharma Santi
Makna dari Dharma Santi ini adalah untuk saling minta maaf antar sesama mulai dari keluarga sampai orang lain.


4

Dari keempat kegiatan inti perayaan Nyepi tersebut, pelaksanaan Catur Brata Penyepian merupakan kegiatan puncak Nyepi. Untuk mengisi kekosongan di tempat penyepian maka perlu ada panduan khusus atau jadual sehingga pelaksanaan brata penyepian lebih terarah. Dan juga makna Nyepi dapat ditransformasikan ke dalam diri guna peningkatan kualitas rohani. Pengosongan diri yang dilanjutkan dengan pengisian rohani dengan kegiatan spiritual dapat meningkatkan kekuatan mental rohani dalam menjalani hidup kelak. Sedangkan Dharma Santi merupakan wujud dari keharmonisan hubungan dengan sesama manusia. Dengan demikian makna Nyepi dapat direfleksikan dalam bentuk ajaran cinta kasih. Adapun yang menjadi landasan mendasar dalam mewujudkan hubungan yang harmonis dikenal dengan istilah "Tri Hita Karana".

Untuk dapat menghayati ajaran cinta kasih dapat diwujud nyatakan dalam berinteraksi sosial religius yaitu antara sesama manusia (Pawongan), antara manusia dengan alam lingkungan (Palemahan), dan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa (Parahyangan). Ketiga hal ini dikenal dengan istilah Tri Hita Karana.

Adapun yang mendasari ajaran cinta kasih ini adalah ajaran yang menyatakan bahwa aku adalah kamu . Maknanya dikembangkan lagi : engkau adalah dia, dia adalah mereka dan seterusnya. Inilah yang sering disebut dengan "Tat Twam Asi" yang dinyatakan dalam kitab Chandogya Upanisad VI. 14. 1. bagian dari Weda.

Refleksi Cinta Kasih bukanlah sekedar penghias bibir atau buah bibir yang berbunga-bunga, akan tetapi sebuah realita yang tulus ikhlas tanpa pamrih. Sesungguhnya bagi siapa saja yang telah mencapai ini dapat dipastikan kehidupannya semakin tenteram, tenang, damai dan bahagia. Cinta kasih yang tulus ikhlas memberikan dampak yang sangat fundamental dalam memberikan arti dan makna kehidupan ini dan kehidupan yang akan datang. Dimensi waktu yang lampau, yang sekarang dan yang akan datang merupakan perputaran cakra kehidupan yang harus dilalui dengan semangat cinta kasih nan kunjung padam kepada semua ciptaan Sanghyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa. Dalam kitab Brhadaranyaka Upanisad I. 4. 10. dinyatakan : "Aham Brahman Asmi" yang artinya Aku adalah Brahman/Tuhan. Sedangkan dalam kitab Chandogya Upanisad III. 14. 3. dinyatakan : "Sarwam khalu idam Brahman" yang artinya semua ini adalah Brahman/Tuhan. Dengan demikian tidak ada satupun di dunia ini yang lepas dariNYA.

Menyadari akan asal dan kembalinya semua yang ada di dunia ini adalah sama, maka tidak ada satupun di dunia ini yang memiliki kekuatan hukum yang abadi, kecuali dari Tuhan Yang Maha Esa. Yang berbeda hanyalah jasad materi yang sewaktu-waktu bisa berubah atau tidak kekal. Lalu apa yang harus dibangga-banggakan yang mengarah pada rusaknya perdamaian,kerukunan, ketenteraman, ketenangan, kebahagiaan dan kesejahteraan umat manusia di dunia ini ? Sejatinya kebanggaan sebagai umat manusia yang religius, karena berbudi luhur dan prestasi.

Dalam mengekspresikan kebanggaan itupun hendaknya dengan arif dan bijaksana serta menampilkan simpati sesuai dengan hukum yang berlaku. Hal ini hendaknya menjadi renungan bagi tumbuhnya spiritualitas, moralitas dalam rangka meningkatkan iman dan taqwa (sraddha dan bhakti) kepada Sanghyang Widhi Wasa. Tuhan Yang Maha Esa. Iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sudah termasuk di dalamnya cinta kasih pada sesama manusia dan cinta kasih kepada alam lingkungan.

Untuk mencapai keseimbangan cinta kasih dapat diwujudkan dalam hubungan garis vertikal dan horizontal. Terlebih lagi memasuki abad modern dan global dibutuhkan pemikiran secara arif dan bijaksana. Disatu sisi dituntut bersikap rasional, namun disisi lain masih diperlukan curahan emosi spiritual terutama dalam hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa sebagai maha pencipta alam semesta beserta isinya. Jalan terbaik adalah bagaimana mensinergikan perasaan emosi spiritual dengan sikap rasional. Dalam hal ini relevansi keseimbangan cinta kasih dengan abad modern lebih difokuskan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia yang memegang teguh nilai-nilai Ke-Tuhanan, Kemanusiaan dan kealaman. Saling mencintai dan mengasihi satu sama lain dan kepada siapa saja tanpa memandang perbedaan fisik akan memberikan keseimbangan cinta kasih. Dalam kitab Yajur Weda 32. 8 dinyatakan "Sa'atah protasca wibhuh prajasu" yang artinya Tuhan terjalin dalam makhluk yang diciptakan.

Yang sangat menonjol bagi manusia modern mengenai konsep cinta kasih kehidupan berkeluarga dalam Weda adalah keterbukaan. Masalah kehidupan rumah tangga ialah menciptakan keselarasan dan kesesuaian seperti pada alam sesuai dengan hukum abadi (Rta).
Sarasamuscaya Seloka 250 dinyatakan :
Adhivadanaçilasya nityam vrddhopasevinah, catvari tasya vardhante kirtirayuryaço balam.

Kuneng phalaning kabhaktin ring wwang atuha, pat ikang wrddhi, pratyekanya, kirti, ayusa, bala, yaça, kirti ngaraning paleman ring hayu, ayusa ngaraning hurip, bala ngaraning kaçaktin, yaca ngaraning patitingal rahayu, yatikawuwuh paripurna, phalaning kabhaktin ring wwang atuba.

Akan pahala hormat bhakti terhadap orang tua, adalah empat jenis hal yang bertambah, perinciannya; kirti, ayusa, bala, yaca; kirti artinya pujian tentang kebaikan, ayusa, artinya hal hidup (umur panjang), bala, artinya kekuatan, yaca, artinya peninggalan yang baik (jasa) itulah yang bertambah sempurna sebagai pahala hormat bakti terhadap orang tua.

Sebaliknya Mengkhianati Orang Tua (Guru Rupaka) akan berakibata, sebagaimana dinyatakan Sarasamuscaya Seloka 234 dinyatakan :
Upadhyayam pitaram mataram ca ye'bhidruhyanti manasa karmana wa, tesam papam bhrunahtyawicistam nanyastasmat papakrccastiloke
Hana pwa drohaka ring pangajyanya, ring bapedu kunang, makakaranang kaya, wak, manah, ikang makangna kramanya, agong papanika, Iwih sakeng papaning bhrunaha, bhrunahangaraning rurugarbha,
sangksepanye atyantapapanika.

Jika ada orang yang berkhianat terhadap guru, terhadap ibu dan bapa,dengan jalan perbuatan, perkataan dan pikiran, orang yang demikian prilakunya amat besarlah dosanya, lebih besar dari pada dosa bhrunaha artinya menggugurkan kandungan ; singkatnya, amat besarlah dosanya.

Lebih lanjut Sarasamuscaya Seloka 247 :
Tada samrddho bhavati tada bhavati duhkhitah, tada çunyam jagat sarvam yada matra viyujyate.

Kunang ikang ininggatan deni ibunya, makahetu pratikulanya, ya ika daridra ngaranya, ya ika anemu duhkha ngaranya, ya ika gumawe cunyaning rat ngaranya.

Orang yang ditinggalkan oleh ibunya, yang disebabkan karena bermusuhan (terhadap ibunya), miskinlah orang itu disebut, mengalami duka nestapa, dan hal itu menyebabkan dunia seakan-akan tidak ada apa-apanya, sepi adanya.

Dalam kitab Atharwa Weda III.30 dinyatakan perkataan Pendeta kepada kelompok keluarga : "Aku membuat engkau bersatu dalam hati, bersatu dalam pikiran, tanpa rasa benci, mempunyai ikatan satu sama lain seperti anak Sapi yang baru lahir dari induknya. Agar anak mengikuti Ayahnya dalam kehidupan yang mulia dan sehaluan dengan Ibunya. Agar si isteri berbicara yang manis, mengucapkan kata-kata damai kepada suaminya. Agar sesama saudara, laki atau perempuan tidak saling membenci. Agar semua bersatu dan menyatu dalam tujuan yang luhur dan berbicara dengan sopan. Semoga minuman yang engkau minum bersama dan makan makanan bersama" Konsep hubungan garis vertikal dan horizontal juga berlaku dalam kehidupan keluarga agar mencapai satu tujuan luhur yaitu keharmonisan, ketentraman, kedamaian dan kebahagiaan bersama. Kebersamaan yang begitu menonjol dalam kehidupan keluarga inti menjadi parameter ke tingkat kehidupan keluarga yang lebih besar dan kehidupan sosial kemasyarakatan.

Dari uraian tadi dapat disimpulkan bahwa ajaran cinta kasih adalah bersifat umum (Samana) dan universal (Sadharana). Dalam perspektif Hindu ajaran cinta kasih diwujudnyatakan dalam hubungan garis vertikal dan horizontal yang dikenal dengan Tri Hita Karana. Cinta kasih dapat diwujudkan apabila memahami secara sinergi antara perasaan emosi spiritual dan sikap rasional yang dilandasi dengan ajaran Tat Twam Asi, Sarwam khalu idan Brahman, Aham Brahman asmi.

Om Santi, Santi, Santi Om.
























































MAKNA SUGIHAN JAWA

Om Swastyastu.

Hari suci Sugihan Jawa merupakan rangkaian Hari raya Galungan dan Kuningan enam hari menjelang Galungan. Pelaksanaan upacaranya dengan menghaturkan upakara yadnya kepada Sanghyang Widhi Wasa dan para Leluhur.
Kalimat Sugihan Jawa dapat ditinjau dari dua pengertian.
Pertama : Sugihan Jawa berasal dari kata Sugi yang artinya bersih dan Jawa yang artinya luar. Jadi Sugihan Jawa secara sekala mengandung pengertian membersihkan di luar diri manusia antara lain tempat-tempat suci, lingkungan tempat tinggal. Sedangkan secara niskala mengandung pengertian memohon kepada Sanghyang Widhi Wasa dan Leluhur agar diberikan kesucian, keselamatan dan kesejahteraan.
Kedua : Sugihan Jawa berasa dari kata Sugih yang artinya kaya dan Jawa yang artinya besar/banyak. Jadi Sugihan Jawa secara sekala mengandung pengertian memohon kepada Sanghyang Widhi Wasa dan Leluhur agar diberikan kekayaan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan. Sedangkan secara niskala mengandung pengertian memohon kepada Sanghyang Widhi Wasa dan Leluhur agar diberikan kekayaan yang sejati yaitu kaya hati, kaya iman, kaya ilmu pengetahuan.
Yang menjadi bahan renungan : Apakah tabu umat manusia memohon kekayaan ? Menurut ajaran agama Hindu memohon kekayaan sambil berusaha dan bekerja berdasarkan Dharma merupakan kewajiban manusia Hindu.


Jadi tidak ada istilah tabu untuk mencari kekayaan sebanyak-banyaknya. Untuk siapa ? Untuk kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga yaitu anak, istri, orang tua, saudara, teman, dan sesama. Secara hakiki harta kekayaan sejatinya bukan untuk diri sendiri. Kenapa demikian ? Karena harta kekayaan tidak dibawa setelah meninggal. Yang dibawa adalah buah/pahala dari harta kekayaan yang telah diberikannya kepada keluarga dan sesama. Ini yang disebut Karmaphala yang mengantarkan seseorang setelah meninggal. Karena harta kekayaan hanya sarana, bukan tujuan.
Kitab Sarasamuscaya seloka 382 menyatakan :
"Pura jara kalewaram wijarjarikaroti te, balangarupaharini widhatswa saukrtam nidhim"

Terjemahan bebasnya : "Pendek kata usia tua itu menyusul, melenyapkan kemudaan ; usia tua itulah yang melemahkan tubuh, menghilangkan kekuatan, rupa dan seluruh bagian tubuh semua tidak berdaya, terasa sakit seluruhnya, berhubung anda tahu jelas akan keadaan itu, karenanya berusahalah anda menyimpan emas dan permata ; barang-barang yang berharga itu hamba maksudkan tiada lain yaitu perbuatan kebajikan. Amal dan segala pekerjaan kebaktian".

Kitab Sarasamuscaya seloka 383 menyatakan :
"Hiranyaratnasansayah subhasubhena sancitah, na tasya dehasam ksaye bhawanti karya sadhakah"

Terjemahan bebasnya : "Sebab kekayaan itu yang berupa emas, permata dan lain-lainnya yang diperoleh dari perbuatan baik ataupun buruk, tidak dapat dipergunakan sebagai alat untuk menolak penyakit, usia tua dan maut".











































YAJNA YANG SATTWIKA


Yajna atau Yadnya merupakan kewajiban umat Hindu sebagai bagian dari pelaksanaan keagamaan Hindu. Yadnya tidak bisa dilepaskan atau dihilangkan dalam mengamalkan ajaran agama Hindu. Hampir sembilan puluh persen (90 %) didominasi dengan kegiatan yadnya atau upacara agama Hindu. Banyak yang dapat dipelajari dari berupacara mulai persiapan, pelaksanaan dan pengakhiran. Melalui berupacara dan tanpa disadari umat Hindu telah menerapkan ilmu pengetahuan yang tidak hanya soal ajaran agama Hindu, akan tetapi menerapkan ilmu pengetahuan bersifat umum, seperti managemen, kepemimpinan, kerja sama, job discription, administrasi yang meliputi perencanaan, organisasi, pendanaan, pengawasan, evaluasi dan etika serta filosofi yang mengiilhami semua komponen umat Hindu termasuk pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat umum. Jadi Yadnya meberikan arti dan makna yang sangat dalam bagi kemajuan masyarakat secara keseluruhan.
Yadnya yang diarahkan kitab suci agama Hindu adalah Yadnya yang sattwika. Perbincangan ini sudah sering didiskusikan yang melibatkan Tri manggalaning yajna untuk menyatukan semua tafsir dan sepakat. Namun dalam realita sebagai sebuah penomena umat Hindu semangat berupacara sulit dibendung karena ingin mewujudkan rasa bhakti dan karmanya kepada Sanghyang Widhi wasa dan Leluhur. Bahkan rela menghabiskan dana, warisan serta sampai berhutang untuk

2

menyelenggarakan sebuah upacara agama Hindu. Yang menjadi bahan renungan bersama ; Bagaimana menanggapi terhadap semua hal ini ? Yang pasti tidak bisa hitam putih untuk menilai bahkan menganggap menyelenggarakan upacara yang menghabiskan dana besar sebagai kekeliruan. Bukankah agama Hindu mengajarkan untuk beryadnya baik harta, tenaga, pikiran bahkan nyawa sekalipun ?
Kitab Sarasamuscaya seloka 175 menyatakan :
”Tindakan orang yang tinggi pengetahuannya tidak sayang merelakan kekayaan, nyawa sekalipun jika untuk kesejahteraan umum. Tahulah ia maut pasti akan datang dan tidak adanya sesuatu yang kekal. Oleh karena itu lebih baik berkorban (rela mati) demi untuk kesejahteraan umum”.

Kitab Manawa Dharmasastra III seloka 75 menyatakan :
”Hendaknya setiap orang yang menjadi Kepala Keluarga setiap hari menghaturkan mantra-mantra suci Weda dan melakukan upacara pada para Dewa, karena ia yang rajin dalam melakukan upacara kurban pada hakikatnya membantu kehidupan ciptaan Tuhan yang bergerak maupun tak bergerak”

Kitab Manawa Dharmasastra III seloka 76 menyatakan :
Persembahan yang dijatuhkan ke dalam api mencapai matahari, dari matahari turun hujan. dari hujan timbul makanan, dari makanan makhluk hidup mendapatkan hidupnya.

Kitab Manawa Dharmasastra III seloka 80 menyatakan :
3

Para Rsi, para leluhur, para Bhuta dan para tamu meminta persembahan dan pemberian kepada Kepala Keluarga. Oleh karena itu ia yang tahu hukumnya harus memberi kepada mereka apa yang sesuai untuk masing-masingnya.

Kitab Manawa Dharmasastra III seloka 68 menyatakan :
Seorang Kepala Keluarga mempunyai 5 macam tempat penyembelihan yaitu : - tempat masak, - batu pengasah, - sapu, - lesung & alunya, - tempayan tempat air.

Kitab Atharwa Weda II. 24. 5 menyatakan :
”Satahasta samahara sahasrarahasta samkira, krtasya karya’sya cehan sphartim samawaha

Yang artinya : Oh umat manusia kumpulkanlah kekayaan dengan seratus tangan dan setelah engkau peroleh dermakan kekayaan dengan seribu tanganmu”

Untuk menjawab semua hal ini harus kembali pada landasan atau simbul sekaligus tujuan agama Hindu yaitu Moksartham jagadhita ya ca iti dharmah. Adanya keseimbangan hidup di dunia dan di akhirat. Beryadnya sangat penting akan tetapi yang utama adalah keseimbangan. Keseimbangan dalam arti mampu menghadapi dan menyesuaikan perkembangan jaman. Simbul dan lambang Swastika cakra padma mengajarkan perputaran hidup yang seimbang dan dinamis. Oleh karena itu kerangka agama Hindu yang meliputi Tattwa, Tata Susila, Yadnya sebagai satu kesatuan yang harus diseimbangkan sejalan dengan perkembangan global.

BERAGAMA DAN BERILMU


Om Swastyastu

1. Umum.

Ada sebuah pepatah yang menyatakan bahwa agama tanpa ilmu adalah lumpuh, ilmu tanpa agama adalah buta. Tentunya kedua akibat tidak kita kehendaki. Kalimat tersebut memberikan inspirasi bahkan dapat dijadikan pakem dalam kehidupan ini yaitu formulasi beragama dan berilmu. Dalam meningkatkan pengetahuan tentang agama Hindu tentunya berorientasi pada kitab suci agama Hindu yaitu Weda. Pengertian Weda secara umum yang berarti ilmu pengetahuan. Pengertian ini merujuk pada kata mutiara bahwa apa yang ada dalam Weda pasti ada di tempat lain, apa yang tidak ada di tempat lain ada dalam Weda. Sedangkan pengertian Weda secara khusus yang berarti ilmu pengetahuan yang bersumber dari ajaran agama Hindu. Weda sebagai sumber dari kitab-kitab suci turunan dari Weda dalam bentuk bahasa asli maupun dalam bentuk traskrip baik bahasa Jawa Kuna maupun bahasa Bali Kuna baik dalam bentuk cetak maupun lontar, seperti Manu Smrti, Bhagawadgita, Sarasmuscaya, Selokantara , Wrehaspati Tattwa, Gong Besi Mpu Lutuk, Yajna Pakerti, Silakrama, Kakawin Mahabharata, Kakawin Ramayana dll. Yang menjelaskan tentang filsafat, etika, upacara yang wajib dilakukan umat Hindu (Bali).
Jadi kitab suci agama Hindu bisa dianalogikan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, kita mengenal dasar negara sebagai ideologi negara yaitu Pancasila,


landasan konstitusional UUD 1945, Keppres, Kepmen, Perda, Jukbin, Jukmin, Juklak, Juknik yang harus dipatuhi sebagai warga negara. Ilustrasi ini sebagai gambaran sekaligus jawaban kepada mereka yang masih meragukan keberadaan lontar-lontar bahwa kitab suci agama Hindu mempunyai banyak ragam dan bentuknya khususnya kitab suci turunan dari Weda baik dalam bentuk buku agama Hindu maupun dalam bentul lontar. Untuk menyusun sebuah lontar (ajaran agama Hindu) sama sulitnya dengan menyusun Weda asli. Diperlukan intuisi yang tinggi dan tingkat kerohanian yang handal.
Hal ini terkait dengan pengamalan ajaran agma Hindu dalam kehidupan sehari-hari. Dalam menghadapi perkembangan jaman yang banyak mengedepankan keilmuan yang menggunakan logika saja, sehingga tanpa sadar telah tergiring bahkan melunturkan keyakinan dan kepercayaan terhadap ajaran agama Hindu. Misalnya saja : memahami dan mendalami tentang Siwaratri Kalpa yang memunculkan pertanyaan : apakah benar Lubdaka yang puasa sehari semalam bisa mencapai Siwaloka ? Dalam Bhagawadgita yang memunculkan pertanyaan : Apakah benar saat ajal memanggil hanya mengucapkan kata ”OM” bisa mencapai Brahman ? Apakah benar mempersembahkan sekuntum bunga, sebiji buah, sehelai daun, seteguk air bisa diterima oleh Tuhan ?

Jika semua ajaran agama Hindu dipahami dengan logika saja maka agama Hindu dianggap penipuan. Hal inilah yang mengkhawatirkan saya jangan sampai umat Hindu memahami ajaran agama Hindu dari satu aspek ilmu saja. Sehingga dikatakan ”Weda takut kepada orang


yang bodoh” Pengertian bodoh disini adalah wawasan yang sempit tanpa disertai dengan memahami ilmu yang lain seperti etika baik tertulis maupun tidak tertulis, sosiologi, psychologi, seni dan budaya dlsb yang merupakan bagian dari kehidupan beragama.
Memahami ajaran agama Hindu dengan logika memang tidak salah bahkan dianjurkan untuk memantapkan keyakinan beragama. Penggunaan logika diperlukan untuk memudahkan pemahaman tentang ajaran agma Hindu dan disamping itu untuk menyesuaikan perkembangan jaman. Karena itu umat Hindu dituntut supaya berilmu dan beragama secara sinergi.

Demikian yang dapat disampaikan untuk menjadi bahan renungan dalam rangka meningkatkan sraddha dan bhakti kita kepada Sanghyng Widhi Wasa.

Om Santi Santi Santi Om


















Mereka Yang Bahagia

Selokantara sloka 10 :
”Suwarmapuspam prthiwim bhunjanti catwaro narah, upayajnasca surasca krtawidyah priyamwadah”
Artinya : Empat golongan manusia yang menikmati kebahagiaan hidup di dunia ini yaitu : orang yang tahu dan cara hidup, orang yang pemberani, orang yang bijaksana, orang yang pandai berbicara ramah menarik.

Dusta

Selokantara sloka 13 :”Tiryag dasagunam papam manusye catamewa ca, prabhau dasasahasranianantam munidewayoh”
Artinya : Dusta yang dilakukan terhadap makhluk yang lebih rendah itu membawa dosa sepuluh lipat, dusta terhadap sesama manusia membawakan seratus lipat, terhadap raja menimbulkan seribu lipat dosa, dan terhadap pertapa dan Dewa-Dewa itu menyebabkan dosa yang tak terbatas.

Kitabh Nitisastra VI. 3 :
” Mresa kita ring triyak dasani warsa papa linakonta kajaring aji, sama-sama manuseka cata warga durgati bhinukti yan mresa kita, yadi kita mitya ring Widhi saharsa warsa lawasing kapataka kita, Guru linino-lonok tan hana hinganing tahun ananta papa katamu”
Artinya : Kalau engkau berbohong pada binatang engkau akan mendapat hukuman selama sepuluh tahun demikian bunyi kitab ajaran-ajaran agama, kalau engkau berbohong sesama manusia engkau akan mendapat siksaan didalam neraka selama seratus tahun , kalau engkau berbohong pada Tuhan hukuman selama seribu tahun, jika engkau berbohong terhadap Guru derita yang engkau terima dari tahun ketahun tidak akan ada habis-habisnya.




Kitab Korawasrama Bab VII. 100 (Kata Dewi Uma kepada Bhatara Gana) :

” E.. Gana anakku, janganlah engkau berbohong kepadaku, besar bahayanya jika engkau berbohong terhadap Guru, berlidah dua terhadap Dewa-Dewa, berbohong terhadap Pendeta, karena seratus tahun lamanya akan disiksa dicecang didalam neraka oleh Sang Gingkrabala, kalau berbohong pada sesamamu (manusia) engkau menjadi buta dan tuli ...................”

Mahatma Gandhi (India) :
”Kebohongan adalah ibu dari kebengisan”

T. Southenn (Inggris) :
”Kebohongan ialah tanda yang jitu dari pengecut”


Manawa Dharmasastra Bab IX seloka 286 :

”Ádusitanam drawyanam, dusane bhedane tatha, maninamapawedhe ca, dandah prathama sahasah

Artinya : Bagi yang memalsu barang-barang dagangan yang tak dapat dipalsu dan yang memecahkan permata atau melubanginya dengan tak layak didenda dengan denda yang terendah.

Manawa Dharmasastra Bab IX seloka 287 :

”Samairhi wisamam yastu, caredwai mulyato ’piwa, samapnuyaddhamam purwam, naro madhyamamewa wa

Artinya : Tetapi orang yang berbuat tidak jujur kepada pembeli langganan yang jujur atau menipu harga-harganya akan didenda permata sebesar denda menengah.
Bhagawadgita adhyaya IV 24 dinyatakan :
”Brahma ’rpanam brahma hawir, brahmagnau brahmana hutam, brahmai ’wa tena gantawyam, brahma karma samadhina



Artinya : Kepada Brahman persembahan itu, Brahman adalah mentega, persembahan api adalah Brahma, Huta adalah Brahman, hanya kepada Brahmanlah ia harus menghadap dengan meditasi atas karya Brahman.


























Tugas itu Kehormatan


Om Swastyastu

1. Umum. Dalam hidup ini tidak terlepas dari tugas baik tugas rutin maupun tugas isidentil. Sebagian orang menganggap bahwa tugas hanyalah kewajiban yang harus dilaksanakan atau diselesaikan. Tetapi di lain pihak masih ada yang menganggap bahwa tugas hanyalah beban hidup sehingga tugas dilaksanakan dengan terpaksa atau tidak dengan sepenuh hati. Uraian tadi diperoleh gambaran bahwa tugas bisa mendatangkan kebahagiaan pun juga bisa mendatangkan penderitaan.

2. Makna Tugas. Tugas itu biasanya atas perintah atau permintaan. Di Sekolah formal, tugas biasanya diberikan oleh seorang pengajar/Guru kepada murid/siswanya. Di dalam instansi pemerintah atau swasta, tugas diberikan oleh atasan/Pimpinannya. Jadi tugas secara umum dalam organisasi datangnya dari atasan kepada bawahannya. Bagaimana sikap sebagai bawahan bila menerima tugas yang diperintahkan oleh atasan/Pimpinan !!! Dan bagaimana sikap kita bila menerima tugas atas permintaan dalam kehidupan masyarakat/sosial !!! Inilah yang menjadi renungan dalam menyikapi segala tugas dalam hidup ini.
Apabila tugas dilaksanakan dengan ikhlas dan menyenangkan itu berarti sudah mengerti dan memahami bahwa tugas merupakan suatu kehormatan sekaligus kepercayaan. Orang yang diberi tugas sebetulnya telah diangkat atas harkat dan derajatnya. Sungguh sia-sia apabila momentum kesempatan emas untuk melaksanakan tugas tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya. Tugas adalah kewajiban suci. Dalam tugas terkandung makna menegakkan kebenaran atau mengamalkan ajaran Dharma. Karena itu sungguh disayangkan
2


apabila seseorang lalai akan tugas dengan mengabaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Jika direnungkan secara mendalam dibalik tugas ada kepercayaan dan kehormatan. Kepercayaan dan kehormatan itu adalah sesuatu yang langka dan tak ternilai harganya. Karena itu barang siapa yang mencintai tugas maka kehormatan yang diperoleh. Sebaliknya barang siapa yang menghindari tugas bahkan membencinya maka jangan berharap mendapatkan kehormatan.

Dalam Bhagawadgita dinyatakan :

adhyaya II seloka 31 :
”Swadharmam api ca weksya, na wikampitum arhasi, dharmayad dhi yuddhac chreyo ’nyat, ksatriyasya na widyate

Yang artinya : Lagi pula bertempur menegakkan kebenaran dengan menyadari akan kewajiban masing-masing engkau tidak boleh gentar bagi ksatria tidak ada kebahagiaan lebih besar dari pada berperang menegakkan kebenaran.

adhyaya II seloka 32 :
”Yadricchaya ca papannam, swargadwaram apawritam, sukhinah ksatriyah partha, labhante yuddham idrisam

Yang artinya : Berbahagialah pahlawan yang sejati dapat kesempatan untuk bertempur dalam hal seperti ini O Arjuna, karena bagi mereka pintu sorga telah terbuka lebar.

adhyaya II seloka 33 :
”Atha cet twam imam dharmayam, samgramam na kasisyasi, tatah swadharmam kirtim ca, hitwa papam awapyasi

Yang artinya : Akhirnya bila engkau tidak berperang sebagaimana kewajiban dengan meninggalkan kewajiban dan kehormatanmu maka penderitaanlah yang akan kau peroleh.


3


adhyaya II seloka 34 :
”Akirtim ca ’pi bhutani, kathayisyamti te wyayam, sambhawitasy a ca’kirtir, maranad atiricyate

Yang artinya : Semua makhluk akan menyatakan nama burukmu terus menerus dan bagi seorang yang telah terhormat, kehilangan kehormatan lebih buruk dari pada kematian.

Seloka-seloka tadi menganalogikan tugas tersebut seperti berperang ataupun bertempur untuk menegakkan kebenaran.


3. Kesimpulan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar